Selasa, 29 Maret 2016

MAFIA PENDIDIKAN



MAFIA PENDIDIKAN


Setiap orang menginginkan adanya penyelenggaraan pendidikan yang baik. Hal ini adalah harapam yang senantiasa tertumpu pada mereka yang terlibat dalam kegiatan mendidik. Namun keinginan itu hanya akan menjadi tinggal keinginan apabila prosesnya  menemui banyak kendala. Kendala inilah yang dalam kenyataannya sangat mengganggu proses pendidikan yang kita laksanakan. Ada mafia dalam dunia pendidika kita. Ada virus yang selalu mengotori tujuan mulia pendidikan kita. Sehingga semangat pendidikan tidak mencapai titik yang diharapkan dalam rangkanmenggapi tujuan mencapai ,ansuai yang sebenar-benarnya manusia.
Pertanyaannya adalah apakah benar ada hambatan besar dalam proses pendidikan kita. Apakah benar ada mafia dalam pendidikan kita, di sekolah atau di instansi pendidikan kita. Mafia secara umum diartikan sebagai perkumpulan rahasia yang bergerak dalam bidang kejahatan (kriminal.[1] Lalu siapa yang dimaksud Mafia dalam pendidikan ini.??? Mafia sebagai persekongkolan kriminal akan sangat merusak rakyat. Dalam dunia ini mereka tampil sebagai kator-alktor pendidikan yang merusak sendi-sendi sistem penyelenggaraan pendidikan kita. Berdsarkan definisi ini maka yang dimaksud mafia dalah mereka yang punya ampak merusak dalam sisstem pendidikan yang ada. Apa yang dirusak Tentu yang rusak dalam sistem pendidiia  adalah komponen-komponen pendidikan seperti tujuan, metode, evaluasi termasuk di dalamnya adalah proses pembelajaran
Apabila tujuan pendidikan Nasional mengamanatkan lahirnya generasi yang cerdas, taqwa dan trampil, berbudi pekerti yang luhur. Tapi akan terhambat oleh adanya mafia-mafia ini yang hanya memikirkan perutnya sendiri. Seperti kata pepatah jauh api dari panggang. Tujuan pendidikan itu sangat mulia tapi kenyataan yang ada sangat jauh berbeda.Yang menyaji di depan mata kita  tentang hasil pendidikan kita adalah kenakalan remaja yang makin meningkat baik kualitas maupun kuantitasnya.  Bahkan ada kegiatan ini yang menjadi kegiatan rutin, penggunaan obat terlarang, seks bebas dan lain sebagainya. Di sekolah sudah sangat sulit sekali kita dapati murid atau anak yang hormat pada gurunya. Tak ada lagi rasa sopan santun murid pada guru bahkan ada yang melawan. Di sebuah  SMA di jakarta ada yang menuduh guru makan uang perpisahan  dan pada akhirnya acara perpisahan sepenuhnya dilakukan oleh Murid. Tidak ada lagi rasa percaya.
Mengurai persoalan ini banyak ditemui hal-hal yang sangat dilematis. Perbaikan di tingkat kurikulum dianggap proyek pendidikan yang dinilai mentri baru kurang kerjaan. Ganti Mentri Ganti Kurikulum. Di level bawah orang tua atrau murid dibebani dengan uang sekolah yang kian mahal. Ditambah lagi dengan biaya buku  mahal yang harus dibayarkan.
Tidak dalam rangka menghakimi siap yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan kita. Satu hal yang harus menjadi pedoman kita adalah prinsip pendidikan yang harus ditegakkan. Pendidikan mengamatkan untuk terbentuknya manusia-manusia yang dewasa, baik intelektual, spiritual dan emosional. Maka mereka yang menympangkan tujuan itu sama saja ia adalah seorang Mafia.
Jika ada penyelenggaraan pendidikan atau sekolah yang dikomersilkan maka disini juga terjadi penyimpangan dalam pendidikan. Sekolah yang hanya menjadikan sekolahnya sebagai lembaga ekonomi yang profit oriented. Saya tidak sepenuhnya menolak adanya unsure ekonomi dalam penyelenggaraan sekolah sebab sekolah seemstinya jauh dari hal-hal tersebut diatas. Jika yang ada dalam pikirannay adalah bagaimana atau seberapa besar gaji yang didapatnya itu sebetulnya tidak pantas dirinya menyandang status guru. Guru dalam bahasa jawa artinya DIGUGU di DITIRU. Ia harus khidmat pada amanat pendidikan. Keluhan guru seperti lelah atau gaji kecil (dulu) seharusnya juga tidak perlu. Sebab kontrak guru adalah melelahkan sabar dan sangat sabar.
Mudah-mudahan tulisan ini tidak dipahami sebagai perlawanan apalagi penghiantan terhadap para guru dan profesi keguruan. Saya hanya ingin mengais kembali kekuatan yang kini telah dan mulai memudar dari diri seorang guru. Tunjangan dan gaji yang hari ini demikian baik (deras) menggelontor ke kantong-kantong guru semestinya adalah konsekuensi dari kerja ikhlas yang dilakukannya dan bukan menajdi tujuan utama yang menggerakan (factor pendorong) guru untuk berkarya dalam bidang paedagogik. Di tulisan saya yang lain saya menulis kerinduan akan apa yang disampaikan bang Iwan Fals dalam lagunya Oemar Bakri. Disana sana saya ingin menggambarkan betapa ada power yang luar biasa yang dimiliki seorang guru. Seorang guru itu harus jujur, ia harus seorang pengabdi dan ia juga harus sabar.
Tunjangan-tunjangan yang ada telah mempreteli hamper semua kebangaan guru pengabdi dan sabar itu. Ketika sang guru mengatakan kepada anaknya yang miskin, kalian harus sabar menghadapi hidup yang sulit. Bukankah kata-kata itu menjadi tidak bertuah lagi sebab kondisi murid kontra dengan kondisi gurunya. Bukan pula dimaksudkan tulisn ini untuk mengendurkan semangat membangun kesejahteraan yang sedang hingar binger di lingkungan dunia kependidikan. Bukan. Tulisan ini adalah sebagai penjaga spiritulitas (baca semangat) esnsi pendidik agar ia tetap dengan jalurnya sebagai guru yang jujur dan berbakti sepenuhnya untuk negeri. Bukan guru yang berbakti untuk mendapatkan materi.
Meski demikian usaha mmemperbaiki kesejahteraan guru harus dilihat sebagai upaya aatau kesadaran bahwa kerja pendidikan harus mendapatkan perhatian serius. Dalam hal ini adalah tugas pemerintah. Jika hal semacam ini artinay kesejahteraan itu belum diberikan maka besar kemungkinan akan lahir penyimpamgan yang dalam bahasa frontal disebut akan tetap ada  Mafia dalam pendiidkan kita.
Pemerintah jangan malah menjadi Mafia. Otoritasnya yang tinggi adalah kunci yang menentukan penyelenggaraan pendidikan yang baik. Pemerintan yang tidak paham dnegan tujuan pendidikan samaartinya pemerintah telah menyimpang dari tujan pendiidikan.


[1] Perkumpulan rahasia yang bergerak dalam bidang kejahatan (kriminal) Kamus lengkap Bahasa Indonesia. Penerbit Mitra Pelajar Surabaya. Hutomo M.A

KAPITALISME KELAS



KAPITALISME KELAS



Kapitalisme kelas tentu akan menjadi judul tulisan yang mengandung tanya sebab Kapitalisme sebagai konsep politik dan ekonomi, harus disandingkan dalam dunia pendidikan. Lazimnya kapitalisme menjadi alat anlisis dalam proses politik yaitu fenomena yang dipertentangkan dengan nilai sosialisme. Kapitalisme sering dipersalahkan dalam bingkai politik sebagai aliran yang menyebabkan kemiskinan structural. Karennya sosialisme adalah perjuangan kelas bawah untuk mensetarakan statusnya menjadi kekuatan yang menolak ide kapitalis yang mengabaikan kelas bawah (miskin).
Prestasi pembelajaran hampir bisa dipastikan sebagaian besar berpegang pada paradigma Kognitif (Cognitif Minded). Meski jargon pembentukan moral dan akhlaq atau nilai afektif didengungkan tiap hari di sesi pembelajaran kelas, kenyataannya keberhasilan tentang terbangunnya moralitas atau akhlakul karimah hampir tak pernah jadi kenyataan. Sebagaimana bunyi sebuah pepatah ”api jauh dari panggang”. Pendidikan kita tengah didera mimpi tak berkesudahan tentang cita-cita dibangunnya manusia yang sempurna, insan kamil dan seluruh idiom tentang idealitas pribadi anak manusia yang diharapkan mampu membawa perubahan.
Tentu kita semua sadar bahwa kualitas suatu generasi yaitu anak didik kita banyak ditentukan lewat proses pendidikan. Lebih kecil atau lebih spesifik, kualitas itu ditentukan dalam ruang berukuran kurang lebih 6X8 meter yaitu ruang kelas. Ruang yang menjadi tempat bagi berlangsungnya proses belajar. Dalam ruang yang kita punya andil di dalamnya itu, terkandung peran yang sangat menentukan keberhasilan atau ketercapaian sebuah tujuan pendidikan. Kita yang dimaksud tentu saja bukan hanya guru namun kita adalah orang tua, masyarakat, lingkungan dan juga pemerintah. Baik atau tidaknya pengelolaan kelas, akan sangat berpengaruh pada kualitas generasi yang dididiknya. Kenyataan menunjukkan hal yang sangat memprihatinkan. Ketaatan murid pada guru, rasa hormat sampai pada perhatian siswa pada pembelajaran menjadi pemandangan yang jarang kita temukan. Yang ada kelas kita dihiasi dengan anak yang suka membantah perintah guru dengan ulah-ulah atau perilaku keonaran. Kewibawaan dan kehormatan kelas kita telah hilang. Item-item berupa nilai moralitas, ahlaq dan budi pekerti yang dulu pernah ada dalam kelas kita, kini telah menipis bahkan tiada.
      Tidak usah menutup-nutupi semua fenomena (baca: kenyataan) yang terjadi dalam kelas pembelajaran. Guru menjadi tiada dihargai dan tiada pula berharga. Ia tidak lagi menjadi sosok yang digugu (dipercaya) dan ditiru (diikuti). Kata-kata kita (guru) akan didengar dengan dua kemungkinan, pertama kita berlaku sebagai penguasa otoriter alias berlaku represif . Pendekatan represif ini sedang sangat gencar ditentang oleh mereka para pengusung ide menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran. Sehingga siswa bebas menjadikan dirinya seorang pembelajar.
     Atau dengan kemungkinan kedua yaitu guru memerankan dirinya sebagai sang entertain (baca: badut, orator, aktor). Ia harus tampil layaknya presenter membawakan acara quis. Menurut saya tanpa harus otoriter di satu sisi dan berperan sebagai (entertain) badut, kelas kitapun bisa berwibawa. Sebagaimana wibawa kelas yang pernah ada tempo dulu. Bukan bermaksud bernostalgia kosong dengan masa lalu. Tapi paling tidak disanalah kita bisa kembali membuka lembaran-lembaran Indah pendidikan masa lalu yang pernah berjalan. Tidak perlu metodenya tapi rasakan jiwanya atau roh pembelajaran yang dijalankannya.
       Kelas kita tempo dulu adalah kelas yang sangat berwibawa. Guru begitu dihargai, sopan santun begitu dikedepankan. Bahkan ada cerita seorang murid ketika berpapasan dengan gurunya, ia memilih mengambil jalan lain. Bukan sang murid takut pada gurunya tapi ada penghormatan pada aspek sikap yang begitu dijunjung  tinggi. Dalam salah satu kitab Ta’alim Muta’alim dalam bab ”Ta’dziimul Ustadz” disana dibahas dengan detail bagaimana sikap seorang murid terhadap gurunya dengan penghormatan yang tinggi.
    Hari ini kondisinya sungguh jauh berbeda. Bahkan ada satu kasus di sekolah negeri di Jakarta yang anak muridnya tidak percaya dengan pengelolaan dana Perpisahan yang dikelola gurunya dan meminta pengelolaan dan penyelenggaraan kegiatan itu diserahkan ke murid hingga urusan jadwal acara, semua diminta agar segala sesuatau dikelola siswa, guru tinggal datang dan menyaksikan saja acara yang akan digelarnya. Menurutnya, merekalah yang membayar seluruh biaya kegiatan sehingga logis jika semuanya dikembalikan pada murid. Sungguh fenomena ini menunjukkan betapa guru telah dan sedang sangat tidak dihargai (baca: direndahkan). Bukankah guru terkesan layaknya pengemis di hadapan murid. Bukankah guru seolah sedang hanya ditempatkan sebagai tenaga kerja layaknya pelayan toko atau pekerja di Pabrik yang setiap saat bisa diperlakukan seenaknya oleh sang majikan. Bukankah seharusnya kita merasa sangat sedih dengan pelecehan terhadap wibawa keguruan kita?

Kelas Yang Hilang
 Ada yang hilang dalam kelas-kelas pembelajaran kita. Moralitas yang seharusnya dikedepankan, kini telah tiada. Kata-kata yang sering kita sampaikan tidak mampu menyentuh intuitas yang ada pada mereka. Bukankah kenyataan itu menjadi hal yang wajar jika kelas kita disebut sebagai kelas yang tidak berwibawa. Bukankah kata-kata kita tentang moral, sopan santun dan budi pekerti pernah (bahkan sering) tidak didengarnya? apalagi meminta mereka untuk mempraktekkan.
    Sesungguhnya bukan karena mereka tidak mau mendengar dan bukan pada tempatnya kita menyalahkan anak sebagai biang masalah dengan mengkambinghitamkan dan menjatuhkan punishmen pada mereka sebagai tidak bermoral, urakan dan lain sebagainya. Anak kita adalah kertas putih yang dengan kertas itu kita bisa membuat tulisan apapun dengan corak dan warna apapun. Goresan apapun yang  ada dalam kertas itu  adalah hasil kerja kita. Jadi jelas bahwa dalam problem ini anak tidak perlu dilibatkan. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab terhadap nasib yang menimpa kelas pembelajaran kita? Menyebut guru sebagai yang paling bertanggungjawab, rasanya juga tidak bijak. Meskipun penyelenggaraan proses belajar dalam kelas sepenuhnya menjadi tanggungjawab guru, kelas yang berwibawa atau sebaliknya kelas menjadi tidak berwibawa sangat ditentukan penyelenggara pendidikan itu sendiri yaitu masyarakat sebab pendidikan adalah rekonstruksi masyarakat. Contoh, ketika masyarakat telah menjadi sangat kapitalis, bukankah segala yang ada didalamya juga harus kapitalis. Demikian paling tidak logika kapitalis berlaku. Termasuk sekolah (baca: Kelas) pun akan mengalami nasib yang serupa seiring berkembangnya masyarakat.
    Maka jangan pernah membayangkan kelas kita akan dihiasi dengan anak yang hormat, sopan dan berbudi pekerti luhur, sementara negara atau masyarakat  tidak punya komitmen pada bidang pembentukan moral. Kalaupun ada, ha itu hanyalah sebatas jargon. Masyarakat kita telah banyak didominasi oleh logika kapitalis, maka sopan santun, budi pekerti dan religiusitas cenderung disingkirkan karena tidak dibutuhkan.  Yang dibutuhkan dalam masyarakat kapitalis adalah  hal-hal yang terkait dengan logika pasar, nilai produksi dan keuntungan. Masyarakat kapitalis tidak berpikir bagaimana moralitas, sopan santun dan keagamaan dijadikan acuan atau dasar berprilaku, menurut mereka nilai-nilai tersebut dikembalikan pada masing-masing pribadi.  Kelas yang ada dalam masyarakat kapitalis berfungsi sebagai mesin produksi yang diharapkan tercipta manusia-manusia atau tenaga-tenaga (baca; Robot-robot kapitalis). Saat anak sudah punya kecerdasan intelektual (baca: Ketrampilan yang dibutuhkan pasar), maka itu sudah cukup artinya telah tercapai tujuan belajarnya. Maka jangan heran jika nilai atau instalan yang paling penting tertanam dalam diri anak tidak lain, tak bukan adalah nilai disiplin waktu. Logika ini sepadan dengan logika kapitalisme yang sangat berhitung dengan penggunaan waktu untuk mendapatkan kapital.

Kelas Pembelajaran Kapitalis    
          Kapitalisme yang melanda kelas-kelas pembelajaran kita melahirkan kelas-kelas pembelajaran yang kapitalis. Kelas kapitalis menunjukkan bahwa kelas-kelas dalam pembelajaran di sekolah yang ada selama ini adalah kelas yang berlaku atas logika kapital. Misi sekolah sebagai sarana membangun sisi moralitas, ahlaq dan budi pekerti dinilai sebagai jargon belaka sebab kenyataanya kelas dengan misi pembangunan moralitas, religiusitas itu lebih punya perhatian pada kegiatan pembelajaran untuk memenuhi logika kapitalisme. Ciri kelas pembelajaran yang kapitalis yang utama adalah minimnya materi-materi moral, budi pekerti dan nilai agama. Kurikulum yang dipakai pun terpaksa didisain dengan mengurangi jam-jam pelajaran agama dan kelompok mata pelajaran humaniora lainnya. Hadirnya kelas-kelas pembelajaran yang kapitalis secara otomatis menandai hilangnya wibawa kelas. Sehingga seluruh energi yang ada diarahkan pada upaya sebesar-besarnya untuk terbentuknya masyarakat kapitalis.     
       Pada saat kelas kita menjadi demikian kapitalis seperti itu, maka mengharap kelas kita menjadi kelas berwibawa adalah pekerjaan berat. Sehebat apapun konsep kurikulum yang diterapkan, tidak akan mampu membentuk kelas berwibawa sebab kesatuan visi antara masyarakat dan sekolah adalah dua hal yang harus diperhatikan dalam menyusun arah pendidikan. Selama jiwa masyarakatnya masih kapitalis, maka penyelenggaraan di bidang pendidikan pun akan terpengaruh dengan pola kapitalis. Anak tidak merasa perlu mengembangkan sisi moralitas sebab dalam system kapitalis hal itu tidak diperlukan. Pembelajaran moralitas, budi pekerti dan juga agama hanya akan menyebabkan perkembangan kapital itu terhambat. Sehingga sudah selayaknya pembelajaran pada bidang-bidang itu diabaikan.  Baginya saat ia telah menjadi cerdas dengan bekal ketrampilan berpikir, bahasa dan lain-lain, itu dirasa lebih penting.
    Kelas kita telah menjadi begitu tidak berwibawa dan bukan lagi menjadi tempat bagi anak untuk belajar pengalaman-pengalaman suci atau nasehat-nasehat kemanusiaan. Kelas kita telah menjadi sempit makna. Kelas kita hanya berperan sebagai tempat bermain ketika orang tua menitipkan anaknya pada sekolah karena kesibukan orang tua. Sehingga wajar jika kelas kita menjadi “lembaga jasa” penampung anak-anak yang ditinggal ortu-nya yang sibuk. Dalam kasus tersebut kelas kita telah menjadi lembaga profit. Bahkan tanpa malu sekolah pun berlomba-lomba memasang tarif/harga untuk dan atas jasa yang diberikan. Dalam kasus kapitalisme dalam dunia pendidikan yang lebih kompleks, sekolah yang ada telah menjadi ruang tertutup dan terbatas hanya dan hanya untuk mereka yang mampu membayar sesuai tarif yang ditentukan. Saat itu sekolah tidak lagi punya hubungan kolaboratif-edukatif dengan orang tua, yang ada  adalah hubungan balas jasa. Maka jangan heran setelah anak lulus, jarang didapati komunikasi dan hubungan berkelanjutan antara anak dan guru atau sekolah. Hubunganguru dan murid itu hanya terjadi saat ada selama dalam ikatan sekolah. Sesudahnya tinggal cerita dan masa lalu yang hanya indah untuk dikenang.

Orientasi Kelas
    Kedepan tentu harus dibangun kembali wibawa di dalam kelas pembelajaran kita sebab kelas kita adalah garda terdepan dalam system pendidikan yang dijalankan. Kelas kita adalah ruh yang menggerakan dan tidak digerakan. Ruh yang menentukan dan tidak ditentukan. Kelas kita merupakan perpaduan tak terpisahkan dengan tujuan masyarakat,      sehingga kemana masyarakat itu hendak dituju, kesana pulalah kelas atau sekolah kita juga akan diarahkan. Wibawa kelas kita adalah jiwa otonom yang membangun basis kediriannya pada kesadaran utuh tentang tujuan utama pembelajaran.
    Kejelasan orientasi kelas merupakan hal mendasar ketika kita merasa bahwa wibawa kelas itu hendak dibangun. Kewibawaan kelas adalah perisai utama saat panji-panji keberhasilan pendidikan hendak kita kibarkan. Jangan terpengaruh sedikitpun dengan gagasan diluar tujuan yang pasti, sebab pendidikan membutuhkan kepastian langkah. Kelas punya satu tujuan yaitu tujuan yang telah dirumuskan oleh mereka para penyelengara pendidikan dalam satu meja diskusi yang ditentukan berdasarkan filosofi masyarakatnya. Bukan tujuan orang tua, bukan tujuan para kapitalis dan atau tujuan-tujuan yang lain.
    Kalau masyarakat atau bangsa kita belum memiliki orientasi yang akan dituju, maka hal ini sangat prioritas untuk diperhat. Arah pendidikan ikan terlebih dulu. Kita sangat ditentukan oleh arah masyarakat atau pemerintah. Saran yang ingin kita sampaikan adalah kejelasan arah pendidikan yaitu arah yang ditentukan dan didasarkan atas tujuan  masyarakat. Tentu saja stujuan masyarakat yang humanis, demokratis, berkeadilan dan berkesejahteraan sesuai dengan karakter asli masyarakatnya. Kita adalah masyarakat yang sangat menghargai, nilai sopan-santun, menghormati dan jiwa keagamaan yang kuat. Bukan masyarakat yang hedonis atau masyarakat yang merasa paling modern tapi melupakan nilai moralitas dan spiritualitas. Masyarakat dan pendidikan dalam hal ini tentu saja adalah satu kesatuan. Sehingga bagaimana wujud kelas itu ditampilkan dan dihidupkan akan sangat ditentukan jiwa masyarakatnya. Kalau masyarakat masih memperdebatkan tujuan masyarakatnya, maka wajar jika wibawa kelas pun akan sulit diwujudkan. Meskipun demikian sejauh dan sekeras apapun perdebatan masyarakat dan tokoh tentang tujuan masyarakat dan kebudayaan kita. Hal mendasar dalam pendidikan tentu saja dapat kita sepakati. Dari sana tentu wibawa kelas dapat dipastikan. Kelscas pun tidak perlu goyah dalam berproses sebab telah ada pondasi yang  kuat. Dan kita semua termasuk orang tua pun harus diberikan penyadaran tentang makna kelas itu. Kembalikan makna kelas pada tempatnya. Kembalikan guru di kelasnya. Perlakukan murid sebagaimana seharusnya murid dan tidak perlu berpikir lain pada mereka kecuali memanusiakannya. Bukan menjadikannya mesin atau robot-robot kapitalis. Bukan pula menjejalkan ke dalam dirinya semua kecerdasan intelektual, tapi emosional dan spiritualnya dilupakan. Pendidikan dalam kelas kita adalah pendidikan untuk mengembangkan semua potensi anak baik inteketual, emosional dan juga spiritualnya sebab potensi inilah unsur-unsur utama kewibawaan kelas pembelajaran. Wibawa kelas kita adalah ruh yang harus terus ada. Wibawa kelas pembelajaran kita adalah penjaga tapal batas nilai-nilai moral agar tetap pada posisinya yang kokoh. Hilangnya wibawa kelas kita dapat terjadi karena kita lalai. Hilangnya wibawa kelas pembelajaran kita adalah bencana pendidikan. Tapi bencana tidak akan ada selama kita  menyadari hal utama dalam kewibawaan kelas. Wibawa kelas pembelajaran kita adalah gambaran bagaimana masyarakat kita. Wibawa kelas kita adalah gambar pendidikan kita, wibawa kelas kita adalah gambar budaya  kita. Karena itu jangan biarkan wibawa kelas pembelajaran kita hilang. Pastikan ia  terus ada.[]
­­





OVERLOAD CURICULUM



OVERLOAD CURICULUM


       
Beberapa hari yang lalu telah diadakan Olimpiada Sains Nasional yang diadakan oleh Kanwil DKI Jakarta. Dan masih banyak bentuk lomba serupa bidang Sains. Pesertanya adalah siswa-siswi  MAN se-wilayah Jakarta. Pemaparan fakta ini bukan bertujuan untuk mengangkat persoalan peminat olimpiade tersebut. Sesungguhnya fakta dan data ini disajikan untuk menunjukkan hal yang sangat penting dalam wacana pendidikan Indonesia. Betapa olimpiade dan soal yang diajukan itu dalam olimpiade itu sedang mengabarkan sisi lain realita pendidikan kita.
Realita pendidikan kita adalah realitas kurikulum yang diemban anak didik kita. Lewat olimpiade matematika itu kita telah menjadi tahu tentang sejauh manakah materi mathematika yang telah kita ajarkan. Meski soal diajukan dalam bahasa Inggris sebagian peserta menyatakan tidak mengalami kesulitan dalam menjawab soal yang ada. Contoh pada soal matematika yang disitu hanya dituntut kemampuan anak untuk menunjukkan waktu pada gambar yang terpampang dalam lembar soal. Tentu ini soal yang sangat mudah. Seusia anak SMP, siapa yang tidak  bisa menunjukkan angka jarum jam? Tentu semua sangat paham dan sangat bisa mengerjakan soal dimaksud. Dan masih banyak soal sejenis yang menunjukkan karakter mudah dan tidak sesulit materi yang biasa kita ajarkan pada murid-murid kita di kelas. Materi yang kita ajarkan sebagaimana yang diamanahkan dalam kurikulum nasional kita. Tingkat kesulitan yang ada di soal olimpiade setingkat dengan soal-soal yang ada di sekolah tingkat dasar atau SD. Kata pak Wahyu, salah satu guru matematika di SMP Internat Al kausar Sukabumi...
Melihat fenomena tersebut, ada dua hal terbangun dalam pemikiran saya selaku penulis. Pertama, timbul rasa bangga bahwa kita bisa dengan sebuah pertanyaan apakah penyelenggara telah salah memberikan soal. Kedua, apakah kurikulum yang telah kita terapkan telah sesuai dengan tugas perkembangan anak? Bukan tidak mungkin kita telah melanggar dan memaksakan tugas perkembangan anak sehingga materi ajar yang diberikan berada diluar batas kemampuan anak usia SMP. Men-judge penyelenggra salah dalam membuat soal, rasanya terlalmpau dini. Terlebih pendidikan untuk remaja atau usia SMP. Atau di tingkat pendidikan yang lebih tinggi, pendidikan Australia menjadi favorit banyak Negara untuk warga negaranya menimba ilmu di Australia. Program beasiswa dan minat anak Indonesia dan Negara lain untuk bersekolah di Australia pun menunjukkan angka yang signifikan. Dengan demikian pemikiran pertama tentu tak perlu lagi menjadi persoalan. Yang patut menjadi pertanyaan adalah bahwa kita telah merasa mudah dengan soal-soal Olimpiade dan beberapa kali kita menang lomba olimpiade baik fisika maupun bidang ilmu yang lain, pertanyaannya apakah kemenangan itu mencerminkan kemenangan dari cita-cita pendidikan kita. Bukankah kita hanya menang dalam hal penguasaan materi dan tidak pernah menang (baca bisa) dalam olimpiade hidup yang sesungguhnya. Kita telah menjadi sangat hafal dengan materi pelajaran tapi kita hamper tidak bisa menerapkan materi yang kita kuasai dalam kehidupan seharihari.
 Selebihnya pemikiran kita tertuju pada fenomena kedua yaitu kurikulum pendidikan kita (baca: Indonesia ) yang tentu saja layak diajukan. Dengan sebuah pertanyaan sudahkah pendidikan terutama sisi kurikulum  mempertimbangkan dengan matang beban pembelajaran yang disajikan untuk siswa. Apa tidak mungkin kita telah memaksakan beban kurikulum yang berat sehingga dalam usia yang masih remaja mereka telah “dipaksa” untuk menelan materi-materi yang sulit dicernanya. Sementara tugas perkembangan tidak mengamanahkan hal tersebut.
Apakah pembelajaran kita telah overload? Apakah pembelajaran kita di kelas telah memberi beban berat pada siswa dengan materi-materi terus kita jejalkan sementara potensi anak belum mampu menerima materi yang jumlahnya besar itu. Di tataran praktis, ilmu atau materi yang diajarkan seringkali tidak bernilai atu tidak memiliki makna bagi dirinta. Artinya tidak ada korelasi antara apa yang diajarkan dengan realitas yang sesungguhnya. Padahal paradigma pendidikan terbaru menghendaki adanya konsep pendidikan yang bernilai manfaat atau sesuai dengan kontektualisasi dan kenyataan.
Kenyataan pendidikan kita telah memasuki persoalan yang sangat paradigmatic dan kompleks. Satu sisi negeri ini menghendaki kemajuan dan penguasaan teknologi yang cepat (instant) yaitu dengan cara proses pendidikan yang juga  cepat. Menyikapi paradigma ini penyelenggaraan pendidikan mewujud dalam bentuk penyikapan yang berlebihan dengan memahami makna kemajuan cepat itu dengan penguasaan secara kuantitatif materi-materi ilmu pengetahuan. Betapa banyak anak yang telah hafal diluar kepala rumus matematika tapi penguasan dan hafalannya dengan semua rumus itu tidak memiliki nilai yang aplikatif dalam kehidupan. Sehingga ilmu pengetahuan yang dikuasai hanya berhenti pada tataran pengetahuan. Dan saat ilmu pengetahuan hanya tersimpan dalam otak-otak saja tanpa bisa dipublikasikan dalama arti dimanfaatkan, bukankah sesungguhnya tujuan pembelajaran itu telah gagal direalisasikan. Pembelajaran telah gagal menjadikan manusia mandiri dalamkehidupan. Pengetahuan yang dia punya tak ada arti dan gunanya sebab ia hanya menempel di otak tanpa ia mampu menerapkan bahwa realitas yang menunggu jawaban praktis dari ilmu yang sederhana untuk mendapatkan solusi sederhana, tidak berbeli-belit.
Temuan Thomas Alfa Edison dengan lampu pijarnya, saya kira Thomas menemukan lampu tersebut tidak harus menunggu sampai dia menguasai semua bidang ilmu pengetahuan. Einstein dengan teori relatifitasnya, saya kira temuannya tentang rumus E=MC, Einstein tidak perlu menunggu dan hafal semua materi tentang fisika. Ketika kita hanya bangga dengan pengetahuan yang melimpah tentang semua ilmu pengetahuan, sesungguhnya kita telah hanya mampu menjadi bangsa yang hanya tahu banyak pengetahuan. Tapi kita telah menjadi bangsa yang kecil sebab dengan ilmu pengetahuan yang di tahuinya, tidak tahu harus berbuat apa. Dalam suatu ajang olimpiade  ( sebut saja olimpiade matematika misalnya)  menjadi pemenang tentu tidak menjadi kebanggaan jika olimpiade hanya bermakna tahu satu ilmu pengetahuan, tapi tidak pernah diterapkan. Menjadi pemenang olimpiade akan benar-benar menjadi kebanggaan saat kemenangan itu ditunjukkan bukan semata anak tahu banyak ilmu pengetahuan tapi mampu menghasilkan karya nyata dengan pengetahuan itu. Itulah kemenangan yang sesungguhnya.
Bangsa Eropa telah lama berbinar dengan penemuan-penemuannya, dan anehnya pembelajaran kita malah sibuk membicarakan temuan. Atau kita berdebat tentang temuan mereka yang menguras energy. Tidak apa-apa, tapi jangan melenakan kita.
Sesudah itu, yang pragmatis memilih menjadi pengguna pembeli atas temuan mereka yang membuat kaya orang lain. Korea yang terkenal dengan produk Hand Phone-nya yang terkenal terus mengadakan inovasi HP dengan teknologi terbaru, kita malah sibuk ber “pamer ria” untuk memiliki atau berlomba-lomba mendapatkan HP terbaru. Tanpa pernah berpikir dan terpikir untuk berbuat hal yang sama (mencipta teknologi dan inovasi) sebagaimana yang mereka lakukan, atau melakukan temuan-temuan. Alih-alih temuan, mampu memperbaiki HP saja belum sepenuhnya bisa. Kita telah menjadi sangat bangga dan secara tidak sengaja menjadi pasar  yang sesungguhnya dari produk-produk teknologi bangsa lain. Sejauh itu pula kita telah menjadi tidak berdaya dengan serbuan produk yang datang bertubi itu. Dan pada akhirnya kita harus mengalah dan merelakan apa yang kita punya seperti menjual asset kekayaan sendiri untuk  memenuhi sifat konsumtif kita. Saat itu sesungguhnya kita telah menjadi objek yang ditentukan dan bukan menentukan.
Contoh lain, saat kita sedang bersibuk-sibuk dengan menguasai salah satu program aplikasi computer. Sang pembuat telah dan sedang merancang program baru yang kembali akan diluncurkan di pasar konsumen Indonesia . Sementara itu kita masih asyik belajar tentang temuan atau inovasii baru yang baru diluncurkan itu. Eh.. produk ini fasilitasnya bagus lebih lengkap, temannya yang lain menambahkan “eh ini ada lagii yang terbaru, dan seterusnya. Logikanya belum selesai kita total menguasai satu program, tiba-tiba dating program baru yang menjadikan kita juga harus bersegera mengikutinya. Kita telah ditentukan dan bukan menentukan. Kita sedang diarahkan oleh penguasa teknologi dan tidak mengarahkan teknologi. Kita terus belajar untuk tahu, tapi tak pernah mengajarkan. Belum lagi dari sisi yang lain.
 Kita seolah sedang dipaksa secara sistematis menjadi pengguna produk barat (untuk tidak mengatakan kita telah menjadi budak) produk-produk barat itu. Dan situasi itu (keterbudakan itu) terjadi secara sistematis hingga merambah ke sisi lain budaya kita. Misalnya kita yang belajar program Windows, didalam kotak dialog dan seluruh petunjuk pengoperasian dibuat dalam bahasa Inggris. Apa dampaknya..????, pernahkah kita berpikir kesana..? Praktis dilapangan mereka para pengguna windows harus mampu menguasai bahasa windows yaitu bahasa Inggris termasuk  bahasa-bahasa pemrograman. Lagi-lagi belum selesai kita menguasai program windows, saat yang sama kita dihadirkan dengan produk program windows yang baru. Situasi ini  mejadikan kita makin merasa tidak berdaya dan selalu merasa tertinggal dengan teknologi yang ada. Harus ada perubahan paradigmatic (untuk tidak menyebut revolusioner) tentang bagaimana kita mensikapi secara sewajarnya deras arus perkembangan teknologi yang sulit dibendung. Prinsipnya bukan tidak menghendaki perubahan atau perkembangan teknologi, tapi bagaimana dengan teknologi yang ada kita seharusnya menjadi terbantu dan benar-benar menjadikan kita sebagai manusia yang sebenarnya. Paulo Freire menyebutnya dengan ungkapan bahwa pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia.
Sudahkah dengan teknologi dan pendidikan yang kita jalani itu telah menjadikan kita sebagai manusia. Atau malah sebaliknya. Jika dengan teknologi itu kita benar-benar dimanusiakan berarti teknologi itu adalah teknologi yang bermanfaat. Dan sebaliknya jika dengan teknologi itu telah memperbudak kita, maka sesungguhnya teknologi itu adalah teknologi yang semestinya ditinggalkan alias mengandung mudharat. Selanjutnya apakah pendidikan kita telah manusiawi dan tidak lagi ada pemaksaan kurikulum diluar batas kemampuan anak didik kita. Kita berharap pendidikan menjadi pendidikan yang manusiawi yaitu pendidikan yang lebih punya arti dan bukan pendidikan yang mematikan hati nurani. Meski demikian kita memang akan tetap menjadi pemenang olimpiade, tapi kita masih  menjadi pecundang dalam kenyataannya. Kita juga tidak perlu merasa bangga karena anak-anak kita tiada kesulitan menjawab soal olimpiade. Kita harus lebih memahami arti pendidikan yang sesungguhnya, yaitu memanusiakan siswa.