KATA PENGANTAR
PENDIDIKAN DAN KEBANGSAAN:
Segala puji
hanya milik Allah SWT yang telah memberi nikmat Iman dan Islam pada setiap
usaha dan pengabdian tiada henti kita untuk menyempurnakan kecintaan kita
kepada Allah SWT. Shalawat serta Salam semoga senantiasa tercurah kepada
baginda rasulullah SAW, para sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Mudah-mudahan usaha kita saat ini akan makin menyempurnakan kecintaan dan
pengabdian kepada Allah SWT
Berbicara
soal pendidikan
di saat-saat ini, kita teringat pada bulan dimana ada dua peringatan
akbar di negeri ini, yaitu bulan Mei. Di bulan Mei, ada dua tanggal merah yang
menandai peringatan hari Nasional yaitu hari Pendidikan Nasional dan Hari
Kebangkitan Nasional. Melalui dua peringatan itu, ada dua tema yang ingin
penulis angkat dalam tulisan ini yaitu perjalanan pendidikan dan perjalanan
kebangsaan (baca:Kebangkitan nasional). Perjalanan hidup kita sebagai sebuah
bangsa akhir-akhir ini telah menggerus ruang berpikir kita. Panggung kebangsaan kita saat ini masih diwarnai beragam pertarungan
tak berkesudahan dan intrik kepentingan. Korupsi dan penegakan hukum serta
demokrasi masih menjadi tema sentral pertarungan para elite politik yang
biasanya dilakukan semata untuk melanggengkan kepentingannya.
Refleksi pertama,
yaitu refleksi terhadap proses dan perjalanan pendidikan kita. Refleksi
pendidikan ini lebih merupakan refleksi keprihatinan terhadap realitas
pendidikan yang tak kunjung membaik. Hal ini setidaknya terlihat dari dekadensi
moral yang mewabah di dalam jiwa anak-anak kita. Proses pembelajaran di sekolah
yang tak kunjung beranjak pada paradigma pembangunan karakter. Kenyatannya
pendidikan hanya menyisakan kerusakan moral dan hanya berorientasi pada sisi
material dan cenderung mengabaikan unsur moral atau budi pekerti. Di lapangan
pelaksanaan UN dalam kenyataannya tak mampu menuju cita-cita kebangsaan itu
tapi justru sebaliknya justru sedang melahirkan lulusan yang dipenuhi dengan
kebohongan-kebohongan.
Keprihatinan atas nasib pendidikan jalin berkelindan
dengan kondisi bangsa yang sangat memprihatinkan. Realitas negeri yang tak
kunjung beranjak menjadi negara besar (baca: minimal dihargai) sebagaimana saat kejayaan tempo dulu, kejayaan Sriwijaya dan
Majapahit. Jika itu terlampau jauh sebut saja kejayaan di Masa Kepemimpinan
Presiden Soekarno, bukankah Indonesia adalah Negara yang cukup dihormati dan
disegani. Walau sesungguhnya mengharap kejayaan sebagaimana kejayaan tempo dulu yaitu masa Majapahit atau
Sriwijaya sejatinya
tidaklahn terlampau tinggi. Gapaian agar dihormati negara lain
saja, rasanya sangat sulit seperti kata pepatah lama “Api Jauh Dari Panggang”.
Mampu berada di depan Malaysia pun terasa demikian sulit, disisi lain
kita masih saja asyik dengan nostalgia masa lalu. Sesudahnya kenyataan bangsa
kita hari ini sedang dipermalukan, dihina bahkan dilecehkan. Kasus terakhir TKI
yang terbunuh dan diduga ada penculikan organ terhadap ketiga TKI tersebut,
kembali merobek rasa kita sebagai sebuah bangsa. Dan kita hanya mampu diam dan
tak beranjak dari kehinanaan itu. Kita sudah bosan mengalami keterhinaan. Kita
ingin keluar dari kondisi itu menjadi Negara besar, bangsa yang disegani,
berdaulat. Kuat dan kokoh.
Dan semua keprihatinan pada nasib bangsa ini terjadi di
sisi kehidupan berbangsa. Dari sumberdaya alam yang dikuasai seperti Panas Bumi
Sukabumi hingga Emas Papua. Wilayah teritorial yang “diobok-obok” dari
Sipadan-Ligitan hingga Ambalat adalah fakta bahwa sesungguhnya bangsa Indonesia
belum merdeka. Kita masih dijajah oleh kepentingan-kepentingan asing. Kita
masih diperlakukan layaknya budak di negeri Sendiri. Dalam bidang olah raga
(baca:sepak bila), kita nyaris tak pernah bisa berjaya atau mengungguli bangsa
lain (baca: Malaysia). Kekalahan dramatis Timnas Indonesia oleh Timnas
Malaysia, tak juga mampu mengembalikan aura kejayaan itu. Sesudahnya
perseteruan di kepengurusan PSSI beberapa waktu lalu ini telah menyisakan
polemik tak berkesudahan dan wajah yang tanpa malu dan pertanyaan besar, demi
apa mereka bekerja?
Negeri kita adalah negeri yang kaya sumber daya. Ada
sebuah ungkapan Jawa yang berbunyi “Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto tentrem Karto Raharjo” sepertinya hanya menjadi lagu lama sebab dalam kenyatannya negeri yang
kaya ini masih dihuni oleh ribuan orang-orang miskin yang jauh dari kehidupan
layak. Sementara di dekat mereka, ada
orang-orang asing yang berlebihan yang telah menikmati kekayaan bumi Indonesia.
Pengiriman TKW ke negara lain sesungguhnya adalah salah satu Indikator bahwa
bangsa ini masih sangat rendah tingkat kesejahteraannya. Yang kedua, pengiriman
TKI ke luar negeri menunjukan betapa kualitas Sumber daya manusia yang masih
rendah. Sebut saja kasus TKI Indonesia di Malaysia dan Indonesia sungguh sangat
mencoreng muka bangsa Indnesia tapi bangsa ini masih santai-santai saja dan
tetap mengirim wanita-wanita yang tak lain adalah ibu bangsa. Jika bekerja
sebagai tenaga ahli tak masalah tapi ini bekerja sebagai tenaga kasar seperti
pem’’’’’’’’’’bantu rumah tangga atau sejenisnya. Sungguh itu sebuah kenyataan
yang sangat Ironi. Sebut saja kegetiran itu dengan Ironi Kebangsaan.
Sudah saatnya bangsa Indonesia bangkit dari keterpurukan dan
ketertinggalannya. Sudah saatnya lahir generasi tangguh, amanah, cerdas
dan memiliki tanggung jawab kebangsaaan.
Karenanya perjuangan melalui pendidikan menjadi mutlak dilakukan. Tapi jika
pendidikan justru “membusukkan dirinya” dan hanya mmpu mencetak manusia-manusia
pembohong karena kita yang turut andil dengan kebohongan, jelas ini sangat
kontraproduktif dengan tujuan pendidikan sebagai penyadai atau pencetak
generasi-generasi tangguh untuk melanjutkan estapet kebangsaan
(baca:kepemimpinan). Bagaimana jika calon-calon penerus bangsa ini sejak dini
telah diajak atau diajari ketidakjujuran. Apakah pendidikan sebagai pilar utama
pembentukan karakter kebangsaan masih bisa diharapkan?
Jalan lain untuk “sesegera
mungkin” mewujudkan karakter kuat dan harga diri bangsa adalah lewat mekanisme kenegaraan atau mekanisme pemilihan kepemimpinan
yang kuat. Dari sana kita berharap lahir pemimpin berwibawa yang tegas
sebagaimana Soekarno yang tegas dan “berani” terhadap Negara-negara lain (baca:
Malaysia) dan berbicara lantang tentang kehormatan bangsanya. Semua unsur
kebangsaan sangat merindui kepemimpinan kuat dan disegani yang akan memberikan
bimbingan keteladanan dan pengayoman
pada harga diri bangsa. Pemimpin cerdas yang bisa membaca kondisi rakyatnya.
Pemimpin yang peka dengan suara hati rakyatnya. Dan penguatan kepemimpinan yang
kuat hanya terjadi lewat pendidikan terbaik. Mudah-mudahan usaha pendidikan dan
kebangsaan ini dapat memberikan kontribusi berharga untuk kejayaan Indonesia.
Semestinya Indonesia sebagai bangsa dengan kekayaan alamnnya yang melimpah mampu berdiri kokoh dan terhormt di hadapan Negara-negara lain. Sudah saatnya bangsa
Indonesia bangkit dari keterpurukan dan beranjak menyongsong kejayaan dan
kemuliaannnya sebagai sebuah bangsa yang bermartabat dengan segenap potensi
yang kita punya. Saatnya bangsa Indonesia menyadari kekuatannya sehingga dapat
berdiri dengan kokoh dan berwibawa di hadapan bangsa lain.
Kebangkitan Nasional adalah momen dan semangat
tentang kesadaran yang harus terus ditumbuhkan dalam Jiwa anak bangsa sebab kesadaran berbansga adalah jati diri. Kebangkitan Nasional juga adalah kesadaran yang menggugah
kita bahwa sesungguhnya kita masih di jajah. Kita belum mampu berdiri tegak di
atas tanah dan kekayaan negeri sendiri. Kita belum sadar bahwa sebenarnya kita
bisa lebih hebat jika kekayaan yang kita punya kita kelola sendiri. Maka tugas kita dan terutama pendidikan yang
paling penting adalah menumbuhkan kesadaran tentang diri kita sebagai suatu
bangsa.
Arif Budiman
Penulis Novel “Kasih Tak
Sempurna”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar