Selasa, 29 Maret 2016

PENDIDIKAN DAN KEBANGSAAN



KATA PENGANTAR

PENDIDIKAN DAN KEBANGSAAN:

Segala puji hanya milik Allah SWT yang telah memberi nikmat Iman dan Islam pada setiap usaha dan pengabdian tiada henti kita untuk menyempurnakan kecintaan kita kepada Allah SWT. Shalawat serta Salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda rasulullah SAW, para sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman. Mudah-mudahan usaha kita saat ini akan makin menyempurnakan kecintaan dan pengabdian kepada Allah SWT
Berbicara soal pendidikan di saat-saat ini, kita teringat pada bulan dimana ada dua peringatan akbar di negeri ini, yaitu bulan Mei. Di bulan Mei, ada dua tanggal merah yang menandai peringatan hari Nasional yaitu hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional. Melalui dua peringatan itu, ada dua tema yang ingin penulis angkat dalam tulisan ini yaitu perjalanan pendidikan dan perjalanan kebangsaan (baca:Kebangkitan nasional). Perjalanan hidup kita sebagai sebuah bangsa akhir-akhir ini telah menggerus ruang berpikir kita. Panggung kebangsaan kita saat ini masih diwarnai beragam pertarungan tak berkesudahan dan intrik kepentingan. Korupsi dan penegakan hukum serta demokrasi masih menjadi tema sentral pertarungan para elite politik yang biasanya dilakukan semata untuk melanggengkan kepentingannya.
Refleksi pertama,  yaitu refleksi terhadap proses dan perjalanan pendidikan kita. Refleksi pendidikan ini lebih merupakan refleksi keprihatinan terhadap realitas pendidikan yang tak kunjung membaik. Hal ini setidaknya terlihat dari dekadensi moral yang mewabah di dalam jiwa anak-anak kita. Proses pembelajaran di sekolah yang tak kunjung beranjak pada paradigma pembangunan karakter. Kenyatannya pendidikan hanya menyisakan kerusakan moral dan hanya berorientasi pada sisi material dan cenderung mengabaikan unsur moral atau budi pekerti. Di lapangan pelaksanaan UN dalam kenyataannya tak mampu menuju cita-cita kebangsaan itu tapi justru sebaliknya justru sedang melahirkan lulusan yang dipenuhi dengan kebohongan-kebohongan.
Keprihatinan atas nasib pendidikan jalin berkelindan dengan kondisi bangsa yang sangat memprihatinkan. Realitas negeri yang tak kunjung beranjak menjadi negara besar (baca: minimal dihargai) sebagaimana saat kejayaan tempo dulu, kejayaan Sriwijaya dan Majapahit. Jika itu terlampau jauh sebut saja kejayaan di Masa Kepemimpinan Presiden Soekarno, bukankah Indonesia adalah Negara yang cukup dihormati dan disegani.  Walau sesungguhnya mengharap kejayaan sebagaimana kejayaan tempo dulu yaitu masa Majapahit atau Sriwijaya sejatinya tidaklahn terlampau tinggi. Gapaian agar dihormati negara lain saja, rasanya sangat sulit seperti kata pepatah lama “Api Jauh Dari Panggang”.  Mampu berada di depan Malaysia pun terasa demikian sulit, disisi lain kita masih saja asyik dengan nostalgia masa lalu. Sesudahnya kenyataan bangsa kita hari ini sedang dipermalukan, dihina bahkan dilecehkan. Kasus terakhir TKI yang terbunuh dan diduga ada penculikan organ terhadap ketiga TKI tersebut, kembali merobek rasa kita sebagai sebuah bangsa. Dan kita hanya mampu diam dan tak beranjak dari kehinanaan itu. Kita sudah bosan mengalami keterhinaan. Kita ingin keluar dari kondisi itu menjadi Negara besar, bangsa yang disegani, berdaulat. Kuat dan kokoh.
Dan semua keprihatinan pada nasib bangsa ini terjadi di sisi kehidupan berbangsa. Dari sumberdaya alam yang dikuasai seperti Panas Bumi Sukabumi hingga Emas Papua. Wilayah teritorial yang “diobok-obok” dari Sipadan-Ligitan hingga Ambalat adalah fakta bahwa sesungguhnya bangsa Indonesia belum merdeka. Kita masih dijajah oleh kepentingan-kepentingan asing. Kita masih diperlakukan layaknya budak di negeri Sendiri. Dalam bidang olah raga (baca:sepak bila), kita nyaris tak pernah bisa berjaya atau mengungguli bangsa lain (baca: Malaysia). Kekalahan dramatis Timnas Indonesia oleh Timnas Malaysia, tak juga mampu mengembalikan aura kejayaan itu. Sesudahnya perseteruan di kepengurusan PSSI beberapa waktu lalu ini telah menyisakan polemik tak berkesudahan dan wajah yang tanpa malu dan pertanyaan besar, demi apa mereka bekerja?
Negeri kita adalah negeri yang kaya sumber daya. Ada sebuah ungkapan Jawa yang berbunyi “Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto tentrem Karto Raharjo” sepertinya hanya menjadi lagu lama sebab dalam kenyatannya negeri yang kaya ini masih dihuni oleh ribuan orang-orang miskin yang jauh dari kehidupan layak. Sementara di dekat mereka,  ada orang-orang asing yang berlebihan yang telah menikmati kekayaan bumi Indonesia. Pengiriman TKW ke negara lain sesungguhnya adalah salah satu Indikator bahwa bangsa ini masih sangat rendah tingkat kesejahteraannya. Yang kedua, pengiriman TKI ke luar negeri menunjukan betapa kualitas Sumber daya manusia yang masih rendah. Sebut saja kasus TKI Indonesia di Malaysia dan Indonesia sungguh sangat mencoreng muka bangsa Indnesia tapi bangsa ini masih santai-santai saja dan tetap mengirim wanita-wanita yang tak lain adalah ibu bangsa. Jika bekerja sebagai tenaga ahli tak masalah tapi ini bekerja sebagai tenaga kasar seperti pem’’’’’’’’’’bantu rumah tangga atau sejenisnya. Sungguh itu sebuah kenyataan yang sangat Ironi. Sebut saja kegetiran itu dengan Ironi Kebangsaan.
Sudah saatnya bangsa Indonesia bangkit dari keterpurukan dan ketertinggalannya. Sudah saatnya lahir generasi tangguh, amanah, cerdas dan  memiliki tanggung jawab kebangsaaan. Karenanya perjuangan melalui pendidikan menjadi mutlak dilakukan. Tapi jika pendidikan justru “membusukkan dirinya” dan hanya mmpu mencetak manusia-manusia pembohong karena kita yang turut andil dengan kebohongan, jelas ini sangat kontraproduktif dengan tujuan pendidikan sebagai penyadai atau pencetak generasi-generasi tangguh untuk melanjutkan estapet kebangsaan (baca:kepemimpinan). Bagaimana jika calon-calon penerus bangsa ini sejak dini telah diajak atau diajari ketidakjujuran. Apakah pendidikan sebagai pilar utama pembentukan karakter kebangsaan masih bisa diharapkan?
 Jalan lain untuk “sesegera mungkin” mewujudkan karakter kuat dan harga diri bangsa adalah lewat mekanisme kenegaraan atau mekanisme pemilihan kepemimpinan yang kuat. Dari sana kita berharap lahir pemimpin berwibawa yang tegas sebagaimana Soekarno yang tegas dan “berani” terhadap Negara-negara lain (baca: Malaysia) dan berbicara lantang tentang kehormatan bangsanya. Semua unsur kebangsaan sangat merindui kepemimpinan kuat dan disegani yang akan memberikan bimbingan keteladanan dan  pengayoman pada harga diri bangsa. Pemimpin cerdas yang bisa membaca kondisi rakyatnya. Pemimpin yang peka dengan suara hati rakyatnya. Dan penguatan kepemimpinan yang kuat hanya terjadi lewat pendidikan terbaik. Mudah-mudahan usaha pendidikan dan kebangsaan ini dapat memberikan kontribusi berharga untuk kejayaan Indonesia.
Semestinya Indonesia sebagai bangsa dengan kekayaan alamnnya yang melimpah mampu berdiri kokoh dan terhormt di hadapan Negara-negara lain. Sudah saatnya bangsa Indonesia bangkit dari keterpurukan dan beranjak menyongsong kejayaan dan kemuliaannnya sebagai sebuah bangsa yang bermartabat dengan segenap potensi yang kita punya. Saatnya bangsa Indonesia menyadari kekuatannya sehingga dapat berdiri dengan kokoh dan berwibawa di hadapan bangsa lain.
Kebangkitan Nasional adalah momen dan semangat tentang kesadaran yang harus terus ditumbuhkan dalam Jiwa anak bangsa sebab kesadaran berbansga adalah jati diri. Kebangkitan  Nasional juga adalah kesadaran yang menggugah kita bahwa sesungguhnya kita masih di jajah. Kita belum mampu berdiri tegak di atas tanah dan kekayaan negeri sendiri. Kita belum sadar bahwa sebenarnya kita bisa lebih hebat jika kekayaan yang kita punya kita kelola sendiri.  Maka tugas kita dan terutama pendidikan yang paling penting adalah menumbuhkan kesadaran tentang diri kita sebagai suatu bangsa.

Arif Budiman
Penulis Novel “Kasih Tak Sempurna”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar