Selasa, 29 Maret 2016

MENGASAH AKAL, MEMBINA BUDI



MENGASAH AKAL, MEMBINA BUDI


Sebuah pesan penting yang ingin penulis sampaikan dalam tulisan ini adalah perlu adanya kesadaran tentang bagaimana semestinya pendidikan ini mampu berjalan sesuai dengan kesemestiannya. Latar belakang dari penulisan ini adalah keprihatian akan pendidikan yang pincang. Pendidikan kita hanya mengedepankan satu sisi dan cenderung mengabaikan aspek yang lain. Fokus penulisan tertuju pada pembahasan visi sekolah yang semestinya mampu membantu tujuan sebagaimana visi dan misi yang tertulis nyata di dinding sekolah mereka.
  Mengasah Akal Membina Budi”. Itulah sepenggal Motto sebuah sekolah swasta yang pernah penulis temui di daerah Sukabumi. Isi yang terkandung dalam motto tersebut sesungguhnya berkaita erat dengan tujuan pembelajaran. Banyak kita menemukan motto dengan kata-kata berbeda tapi substansinya sama. Pada intinya kegiatan pembelajaran dirancang untuk membentuk pribadi yang utuh atau manusia  sempurna (insan kamil). Pemerintah atau dalam hal ini dalam sistem pendidikan nasional sudah mengamanatkan hal ini dengan sangat jelas dalam tujuan pendidikannya  yaitu untuk menjadikan manusia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa cerdas dan trampil.
Masih ingat tiga kata yang tertulis di dinding sekolah  saat kita masih di SD?  Tiga kata itu adalah Taqwa, Cerdas dan Trampil. Sepertinya semua SD Inpres dulu waktu saya masih di SD, menampilkan atau memajang tiga kata itu di dinding sekolahnya.  Mungkin intruksi sebagaimana intruksi harus adanya tulisan gratis di pintu gerbang sekolah, sekedar memberi tahu banhwa pemerintah punya program.
Itulah yang saya maksud dengan totalitas pembelajaran. Keutuhan dalam pembelajaran yang memperhatikan seluruh aspek pembelajaran. Paling tidak tiga kata itu merupakan pilar utama  pembelajaran. Kita tentu sudah sangat familiar dengan motto sekolah. Siswapun telah dengan sangat fasih menghafal motto yang terpampang di dinding sekolahnya. Tujuan pendidikan Nasional terfokus pada kata taqwa cerdas dan trampil. Saya ingin mengurutkan pembahasan menjadi Cerdas, Trampil dan Taqwa. Tiga kata ini saya gunakan untuk mengurai tiga arah penting dalam pembelajaran. Tiga istilah tersebut saya sebut untuk menguraikan tiga pencapaian pendidikan yaitu pencapaian cerdas, pencapaian trampil dan pencapaian taqwa.  
Pertama, pencapaian pada kata cerdas  berarti membahas arah pembelajaran untuk mencapai target kecerdasan peserta didik. Cerdas yang dimaksud disini dibatasi pada kemampuan kognitif (pengetahuan). Pada tujuan ini kita mungkin telah menjadi sangat bangga dengan keberhasilan anak-anak kita. Sebab metode-metode baru pengajaran hampir semua berorientasi pada pencapaian target kecerdasan ini (baca: kognitif). Menjamurnya bimbel-bimbel dengan metode belajar cepat adalah fakta betapa target pembelajaran baru tertuju pada pencapaian kognitif (rumus praktis, dan materi-materi simple dan penalaran). Walhasil anak didik kita mampu mendapat nilai ujian yang memuaskan. Jarang kita dapati nilai merah pada raport yang mereka terima. Artinya pada pencapaian ini  tidak merasa ada persoalan. Harus dicamkan baik-baik bahwa semua capaian adalah satu integritas tak terpisahkan.
Kedua pencapaian pada ranah trampil, perspektif Bloom menyebutnya dengan istilah ranah psikomotor. Senasib dengan upaya pencapaian kognitif,  pencapaian trampil  atau psikomotor pun mendapatkan porsi yang tinggi dalam sistem pembelajaran kita. Ada alasan kuat tentang pencapaian pada aspek psikomotor yaitu  adanya dukungan dari perkembangan teknologi komunikasi. Ambil contoh kemampuan bahasa, anak-anak kita telah diperkuat dengan bantuan tayangan-tayangan TV, Internet, CD pembelajaran dan lain sebagainya. Komputer dan teknologi komunikasi  menjadi modal utama betapa pencapaian psikomotorik (ketrampilan), gayung bersambut dengan fasilitas dan era yang menuntutnta. Saya kira yang paling berkepentingan dengan perkembangan pada Ketrampilan anak didik adalah pihak yang sangat dan hanya membutuhkan ketrampilan sebagai modal usahanya seperti disiplin pabrik, ketrampilan komputer, sekretaris perusahaan, ketrampilan mesin untuk menggerakan mesin-mesin “kapitalis” mereka.
Penulis tidak sedang “mempersoalkan” atau tidak setuju dengan usaha pencapaian yang kedua ini. Kalaupun pada kenyataannya skill manusia Indonesia masih rendah. Wajar jika sebagian besar lulusan sekolah kita, lebih banyak terserap sebagai karyawan di sector-sektor umum seperti pabrik-pabrik sebagai pegawai rendahan, paling tinggi mandor. Lalu bagaimana dengan mereka yang hari ini tidak mendapatkan pendidikan alias putus sekolah.
Nah adapun pencapaian yang terakhir adalah pencapaian nilai ilahiah dan moralitas. Inilah yang menurut penulis penting dicermati. Capaian dari target yang kita buat di ranah ini hampir selalu membentur ruang semu yang tak pernah mampu kita petakan. Pendidikan agama dan pendidikan moral atau budi pekerti yang diberikan di sekolah tak bergayung sambut dengan merekahnya bunga moralitas pada jiwa anak-anak kita. Penambahan waktu panjang untuk porsi pembelajaran agamapun tidak menjamin keberhasilan dalam pembelajaran agama.
 Menyebut anak yang hafal doa-doa, hafal ayat-ayat dan hadits kemudian ukuran itu sebagai kriteria keberhasilan pembelajaran agama, rasanya terlalu dini. Kenyataannya masih banyak kita dapati perilaku anak jauh berbeda dengan kemampuan hafalannya tentang agama. Sebagaii contoh seorang petinggi agama yang justru memanfaatkan jabatan tingginya untuk korupsi. Ini menunjukkan bahwa kita baru melakukan pemasukan atau transfer pengetahuan (Transfer of knowledge). Kita baru berhasil memberikan materi-materi agama pada anak-anak kita, tapi kita belum mampu menggapai tujuan sesungguhnya dari pembelajaran agama. Anak-anak kita masih terbawa dan terbiasa dengan kata-kata atau ucapan yang tidak sopan.  Bukankah benar bahwa saat itu kita baru berhasil memberikan materi agama saja. 
Pendidikan agama yang kita “jejalkan” pada anak didik kita, dalam konsep pembelajaran, baru terjadi pada ranah pengetahuan (kognitif). Demikian halnya dengan pembelajaran moral atau budi pekerti yang kita selenggarakan selama ini baru menyentuh aspek pengetahuan. Dengan cara tersebut anak-anak kita telah menjadi manusia kognitif yang tahu Moral. Anak juga menjadi tahu mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang boleh dan mana yang tidak. Sayangnya anak kita baru sampai tahapan tahu saja. Tidak ada konektifitas antara apa yang ditahuinya dengan apa yang semestinya ada setelah ia tahu (action). Hasil pendidikan terhenti pada level pengetahuan.
Maka Pencapaian yang ketiga setelah kognitif adalah bagaimana pembelajaran agama dan juga mata pelajaran lain dalam rumpun moral dan budi pekerti tidak semata menggunakan mekanisme kognitif (Cognitive Mechanism) tapi dengan mekanisme Afektif (Afective Mechanism) sesuai dengan karakter keilmuannya. Kegiatan pembelajaran pada tahap ini adalah membuat anak berbuat dan bertindak dengan apa yang sudah dia tahu. Bekerja dengan alat yang telah bisa diajalankan. Bertanggungjawab dengan apa yang dia lakukan. Memperbaiki diri jika berbuat kesalahan dan seterusnya.
Ketiga pencapaian tersebut adalah narasi besar tahap-tahap pembelajaran kita. Mengapa hal ini perlu ditegaskan sebab bisa jadi selama ini kita lupa dan menyimpang dari rel pembelajaran. Penulis yakin pada pencapaian ketiga ini, penulis yakini sebagai biang ketakberdayaan kita dalam pembelajaran. Abai pada pencapaian ini berdampak buruk pada anak kita seperti anak tidak memiliki sopan santun, berani pada orang tua dan lain sebagainya. Dalam motto sekolah itu, kita ingin menyelenggarakan pendidikan terbaik yaitu pendidikan seutuhnya yang memperhatikan pada tiga pencapain yaitu cerdas, trampil dan taqwa sebagimana motto yang terpampang di dinding sekolah kita.
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar