MENGASAH AKAL, MEMBINA BUDI
Sebuah pesan penting yang ingin penulis sampaikan
dalam tulisan ini adalah perlu adanya kesadaran tentang bagaimana semestinya pendidikan
ini mampu berjalan sesuai dengan kesemestiannya. Latar belakang dari penulisan
ini adalah keprihatian akan pendidikan yang pincang. Pendidikan kita hanya
mengedepankan satu sisi dan cenderung mengabaikan aspek yang lain. Fokus
penulisan tertuju pada pembahasan visi sekolah yang semestinya mampu membantu
tujuan sebagaimana visi dan misi yang tertulis nyata di dinding sekolah mereka.
“Mengasah
Akal Membina Budi”. Itulah sepenggal Motto sebuah sekolah swasta yang
pernah penulis temui di daerah Sukabumi. Isi yang terkandung dalam motto
tersebut sesungguhnya berkaita erat dengan tujuan pembelajaran. Banyak kita
menemukan motto dengan kata-kata berbeda tapi substansinya sama. Pada intinya
kegiatan pembelajaran dirancang untuk membentuk pribadi yang utuh atau
manusia sempurna (insan kamil).
Pemerintah atau dalam hal ini dalam sistem pendidikan nasional sudah
mengamanatkan hal ini dengan sangat jelas dalam tujuan pendidikannya
yaitu untuk menjadikan manusia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa
cerdas dan trampil.
Masih ingat tiga kata yang
tertulis di dinding sekolah saat kita masih di SD? Tiga kata itu
adalah Taqwa, Cerdas dan Trampil. Sepertinya semua SD Inpres dulu waktu
saya masih di SD, menampilkan atau memajang tiga kata itu di dinding
sekolahnya. Mungkin intruksi sebagaimana
intruksi harus adanya tulisan gratis di pintu gerbang sekolah, sekedar memberi
tahu banhwa pemerintah punya program.
Itulah yang saya maksud dengan
totalitas pembelajaran. Keutuhan dalam pembelajaran yang memperhatikan seluruh
aspek pembelajaran. Paling tidak tiga kata itu merupakan pilar utama
pembelajaran. Kita tentu sudah sangat familiar dengan motto sekolah.
Siswapun telah dengan sangat fasih menghafal motto yang terpampang di dinding
sekolahnya. Tujuan pendidikan Nasional terfokus pada kata taqwa cerdas dan
trampil. Saya ingin mengurutkan pembahasan menjadi Cerdas, Trampil dan Taqwa.
Tiga kata ini saya gunakan untuk mengurai tiga arah penting dalam pembelajaran.
Tiga istilah tersebut saya sebut untuk menguraikan tiga pencapaian pendidikan
yaitu pencapaian cerdas, pencapaian trampil dan pencapaian taqwa.
Pertama, pencapaian pada
kata cerdas berarti membahas arah pembelajaran untuk mencapai target
kecerdasan peserta didik. Cerdas yang dimaksud disini dibatasi pada kemampuan
kognitif (pengetahuan). Pada tujuan
ini kita mungkin telah menjadi sangat bangga dengan keberhasilan anak-anak
kita. Sebab metode-metode baru pengajaran hampir semua berorientasi pada
pencapaian target kecerdasan ini (baca: kognitif). Menjamurnya
bimbel-bimbel dengan metode belajar cepat adalah fakta betapa target
pembelajaran baru tertuju pada pencapaian kognitif (rumus praktis, dan materi-materi simple dan penalaran). Walhasil
anak didik kita mampu mendapat nilai ujian yang memuaskan. Jarang kita dapati
nilai merah pada raport yang mereka terima. Artinya pada pencapaian
ini tidak merasa ada persoalan. Harus
dicamkan baik-baik bahwa semua capaian adalah satu integritas tak terpisahkan.
Kedua pencapaian pada ranah
trampil, perspektif Bloom menyebutnya
dengan istilah ranah psikomotor. Senasib dengan upaya pencapaian
kognitif, pencapaian trampil atau psikomotor pun mendapatkan porsi yang
tinggi dalam sistem pembelajaran kita. Ada alasan kuat tentang pencapaian pada
aspek psikomotor yaitu adanya dukungan
dari perkembangan teknologi komunikasi. Ambil contoh kemampuan bahasa,
anak-anak kita telah diperkuat dengan bantuan tayangan-tayangan TV, Internet,
CD pembelajaran dan lain sebagainya. Komputer dan teknologi komunikasi menjadi modal utama betapa pencapaian
psikomotorik (ketrampilan), gayung
bersambut dengan fasilitas dan era yang menuntutnta. Saya kira yang paling
berkepentingan dengan perkembangan pada Ketrampilan anak didik adalah pihak
yang sangat dan hanya membutuhkan ketrampilan sebagai modal usahanya seperti
disiplin pabrik, ketrampilan komputer, sekretaris perusahaan, ketrampilan mesin
untuk menggerakan mesin-mesin “kapitalis” mereka.
Penulis tidak sedang “mempersoalkan” atau tidak setuju dengan usaha pencapaian yang kedua ini. Kalaupun pada kenyataannya skill
manusia Indonesia masih rendah. Wajar jika sebagian besar lulusan sekolah kita,
lebih banyak terserap sebagai karyawan di sector-sektor umum seperti pabrik-pabrik sebagai pegawai rendahan, paling tinggi mandor. Lalu
bagaimana dengan mereka yang hari ini tidak mendapatkan pendidikan alias putus
sekolah.
Nah adapun pencapaian yang
terakhir adalah pencapaian nilai ilahiah dan moralitas. Inilah yang menurut penulis
penting dicermati. Capaian dari target yang kita buat di ranah ini hampir
selalu membentur ruang semu yang tak pernah mampu kita petakan. Pendidikan
agama dan pendidikan moral atau budi pekerti yang diberikan di sekolah tak
bergayung sambut dengan merekahnya bunga moralitas pada jiwa anak-anak kita.
Penambahan waktu panjang untuk porsi pembelajaran agamapun tidak menjamin
keberhasilan dalam pembelajaran agama.
Menyebut anak yang hafal
doa-doa, hafal ayat-ayat dan hadits kemudian ukuran itu sebagai kriteria keberhasilan
pembelajaran agama, rasanya terlalu dini. Kenyataannya masih banyak kita dapati
perilaku anak jauh berbeda dengan kemampuan hafalannya tentang agama. Sebagaii contoh seorang petinggi agama yang justru memanfaatkan jabatan
tingginya untuk korupsi. Ini menunjukkan bahwa kita baru melakukan pemasukan atau transfer
pengetahuan (Transfer of knowledge). Kita baru berhasil
memberikan materi-materi agama pada anak-anak kita, tapi kita belum mampu
menggapai tujuan sesungguhnya dari pembelajaran agama. Anak-anak kita masih
terbawa dan terbiasa dengan kata-kata atau ucapan yang tidak sopan.
Bukankah benar bahwa saat itu kita baru berhasil memberikan materi agama
saja.
Pendidikan agama yang kita
“jejalkan” pada anak didik kita, dalam konsep pembelajaran, baru terjadi pada
ranah pengetahuan (kognitif). Demikian halnya dengan pembelajaran moral atau
budi pekerti yang kita selenggarakan selama ini baru menyentuh aspek
pengetahuan. Dengan cara tersebut anak-anak kita telah menjadi manusia kognitif
yang tahu Moral. Anak juga menjadi tahu mana yang benar dan mana yang salah.
Mana yang boleh dan mana yang tidak. Sayangnya anak kita baru sampai tahapan
tahu saja. Tidak ada konektifitas antara apa yang ditahuinya dengan apa yang
semestinya ada setelah ia tahu (action).
Hasil pendidikan terhenti pada level pengetahuan.
Maka Pencapaian yang ketiga setelah
kognitif adalah bagaimana pembelajaran agama dan juga mata pelajaran lain dalam
rumpun moral dan budi pekerti tidak semata menggunakan mekanisme kognitif (Cognitive Mechanism) tapi dengan
mekanisme Afektif (Afective Mechanism) sesuai dengan karakter
keilmuannya. Kegiatan pembelajaran pada tahap ini adalah membuat anak berbuat
dan bertindak dengan apa yang sudah dia tahu. Bekerja dengan alat yang telah
bisa diajalankan. Bertanggungjawab dengan apa yang dia lakukan. Memperbaiki
diri jika berbuat kesalahan dan seterusnya.
Ketiga pencapaian tersebut
adalah narasi besar tahap-tahap pembelajaran kita. Mengapa hal ini perlu ditegaskan sebab
bisa jadi selama ini kita lupa dan menyimpang dari rel pembelajaran. Penulis
yakin pada pencapaian ketiga ini, penulis yakini sebagai biang ketakberdayaan
kita dalam pembelajaran. Abai pada pencapaian ini berdampak buruk pada anak
kita seperti anak tidak memiliki sopan santun, berani pada orang tua dan lain
sebagainya. Dalam motto sekolah itu, kita ingin menyelenggarakan pendidikan terbaik
yaitu pendidikan seutuhnya yang memperhatikan pada tiga pencapain yaitu cerdas,
trampil dan taqwa sebagimana motto yang terpampang di dinding sekolah kita.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar