SEPEDA KUMBANG UMAR BAKRI
Masih ingat dengan sepenggal syair lagu Umar Bakri yang bertema
nasib Guru? Itu lagu yang pernah disenandungkan Iwan Fals untuk guru-guru Indonesia. Guru-guru yang nasibnya tak kunjung
berubah. Laju sepeda kumbang
yang melaju di jalan berlubang, nasibnya seperti itu dari zaman Jepang? Lagu itu memberi
gambar yang nyata tentang nasib guru-guru di Indonesia. Setidaknya nasib guru
pada masa lagu itu diciptakan.
Guru pada masa lalu adalah guru-guru yang terabaikan.
Gaji mereka yang pas-pasan meskipun sudah ada yang PNS,
nasib guru zaman dulu masih sangat memprihatinkan, terlebih nasib guru Honor pada masa
itu. Umar Bakri pada masa itu adalah orang yang bekerja dalam dua tuntutan yaitu tuntutan pemenuhan kebutuhan dan tuntutan
untuk mampu mendidik peserta
didik untuk menjadi generasi yang terbaik. Generasi yang utuh dalam istilah agama disebut dengan Insan Kamil.
Mereka adalah simbol pengabdian yang jujur dan penuh
bakti. Guru pada masa lalu adalah guru yang berbakti ikhlas demi perbaikan
karakter anak bangsa. Dalam lagu Umar Bakri tergambar bagaimana proses
pembelajaran yang dilakukannya dihiasai dengan kesabaran karena anak-anaknya
yang bengal. Inilah tantangan sesungguhnya yang dihadapi guru yaitu saat ia
harus menghadapi anak-anak atau murid yang sangat beragam sifat dan
karakternya. Tiada modal lain kecuali kesabaran dengan tetap berusaha memenuhi
kebutuhan diri sendiri dan keluarganya agar dapur tetap ngebul.
Seiring zaman reformasi,
selain reformasi telah berdampak pada perubahan bidang politik.
Reformasi juga memberi pengaruh pada bidang pendidikan sehingga suara-suara
perbaikan nasib dunia pendidikan pun bermunculan. Tak kurang Novel Laskar
Pelangi juga menyumbang upaya peningkatan aspek pendidikan dimana disana
diceritakan nasib pendidikan di Balitong. Di zaman kepemimpinan SBY, paket
kebijakan di bidang pendidikan cukup signifikan seperti peningkatan Tunjangan
Guru adanya pendidikan gratis di tingkat pendidikan dasar 9 tahun, sertifikasi
guru hingga peningkatan sejumlah program pendidikan yang lain.
Kini di zaman reformasi dan kepemimpinan SBY, dunia
pendidikan masih mendapat perhatian serius hingga lahir program peningkatan
anggaran pendidikan hingga menembus angka 20% walau masih perlu dievaluasi
kembali
sebab ada pertanyaan di dalam realisasi dana tersebut. Misalnya adanya pertanyaan
berikut, apa betul anggaran 20% itu sudah sesuai dengan amanat
yang dikehendaki atau tidak. Namun secara umum pendidikan telah terangkat dan
mendapat perhatian yang intensif dari pemerintah.
Guru Indonesia telah
merasakan betapa pendapatan itu telah mencukupi
kebutuhan hidupnya. Penambahan
Anggaran di dunia pendidikan telah meningkatkan kualitas
kesejahteraan Guru Indonesia. Efeknya telah menjadikan sebagian masyarakat berlomba untuk bisa memasukan anaknya
dan bekerja di dunia pendidikan karena tergiur gaji dan tunjangan yang besar. Kini wajah guru Indonesia tidak seperti apa yang digambarkan dalam sosok
Umar Bakri dalam lagunya Iwan Fals itu. Mereka tidak lagi naik sepeda Kumbang sebagaimana
sebagaimana Sepada Kumbang milik Umar Bakri.
Guru Indonesia kini tidak lagi naik sepeda butut sebab
mereka telah naik motor bahkan Mobil. Jika lagu Umar Bakri adalah kritik buat
pemerintah terhadap nasib guru yang pernah terabaikan, maka kini kritik itu itu
telah di dengar dengan perubahan. Para guru harus berterima kasih pada pejuang
pendidikan, karena jasa mereka nasib guru kini terangkat. Tapi para guru juga
jangan lupa dengan sepeda butut Umar Bakri. Artinya meskipun perhatian terhadap
guru dan pendidikan meningkat, janganlah lupa pada kejujuran dan bakti yang semestinya
selalu ada pada sosok guru Indonesia.
Pertanyaan besar perlu diajukan adalah apakah peningkatan
kesejahteraan guru berbanding lurus dengan perbaikan kualitas pendidikan? Jika yang terjadi para Guru malah lalai dengan tugasnya maka tak ada gunanya
mengganti sepeda
Kumbang Umar Bakri dengan motor ataupun mobil-mobil mewah yang berjajar di depan halaman sekolah itu. Jika guru di kelas masih menggunakan metode
konvensional, maka tunjangan itu tak berarti apa-apa sebab kesejahteraannya
tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas dan hasil belajar anak
didiknya. Jika masih ada praktik ketidak jujuran dalam
pendidikan, maka alangkah
baiknya sepeda Kumbang yang telah “dimusiumkan” itu kembali digunakan.
Demi harga diri dan kehormatan guru dan profesi keguruan yang kemuliaannya
tidak ditentukan oleh gemerlap serta banyaknya tunjngan. Sepeda Kumbang Umar
bakri adalah kendaraan terbaik yang menjaga guru dalam kehormatannya.
Lagu Umar Bakri dengan Sepeda Kumbangnya yang kita dengar selama ini adalah salah
satu sisi yang telah melambungkan nama guru sebagai sosok penuh
kekuatan tanpa
tandingan. Sepeda Kumbang Umar Bakri tidak bisa diganti oleh semua dana-dana dan program kesejahteraan yang
diberikan pemerintah untuk guru.
Mudah-mudahan pendidikan berjalan dengan logika yang benar seperti
peningkatan kesejahteraan berbanding lurus dengan peningkatan kualitas
pendidikan. Kenyataan yang ada masih sangat memprihatinkan). Belakangan
acara I Like Dangdut yang disiarkan beberapa stasiun Swasta seolah
memperjelas situasi pendidikan pasca peningkatan anggaran itu, bagaimana hasil
dari tunjangan kesejahteraan itu, seolah tunjngan itu tak memberi korelasi
positif bagi peningkatan pendidikan sebab sekolah dan pendidikan ini masih
sangat memprihatinkan yaitu dengan foto-foto adanya sekolah-sekolah yang masih
bocor padahal bantuan untuk pembangunan sekolah telah digelontorkan, misalnya
dalam paket BOS dan BOP.
Meskipun demikian masih ada yang memiliki keinginan
meningkatkan kualitas pendidikan. Akibat peningkatan kesekahteraan itu, serta
merta geliat pendidikan meningkat yang terwujud dalam program-program
pengembangan. Paket-paket pelatihan pun di set dalam upaya pengembangan itu.
Dana-dana penelitian pun meningkat dan ini memotivasi guru untuk melakukan
inovasi dan kreatifitas dalam pembelajaran. Bagi sekolah peningkatan itu
terlihat pada perbaikan sarana gedung dan pemenuhan kebutuhan sekolah seperti
alat-alat dan sara pembelajaran baik buku maupun teknologi atau alat-alat
modern.
Jika semangat Umar Bakri itu masih ada pada guru-guru di “era kesejahteraan Guru” ini, kita sangat yakin pendidikan akan gilang gemilang dengan
program-program peningkatan. Bukan oknum yang memanfaatkan program-program peningkatan mutu
pembelajaran hanya untuk memenuhi kepentingan sendiri. Masih ada dari sebagaian guru kita yang belum menyadari tugas dan fungsinya secara benar. Tidak sedikit “penampakan-penampakan baru” yang mengaku
ngaku dirinya sebagai Umar Bakri. Padahal ia tak pernah mengenal siapa itu Umar Bakri.
Hari ini, sepeda Kumbang Umar Bakri telah dimuseumkan tapi kita berharap ia masih bisa
dikenang.
Kita berharap sepeda Umar Bakri bisa menjadi kekuatan yang sesungguhnya tentang
apa artinya menjadi pendidik yang benar. Spirit Umar Bakri itu harus selalu ada sebab ia yang akan senantiasa mengingatkan kita tentang sejarah dan nasib guru
Indonesia.
Ia yang akan selalu mengingatkan kita tentang amanh tertinggi pendidikan. Secara fisik mengganti atau Sepeda Kumbang dengan kendaraan yang lebih baik dan memadai itu baik
tapi jangan lupa makna yang tertoreh pada sepeda Kumbang miliknya. Marilah bersama-sama merawat dan menjaga nilai sejarah sepeda Kumbang Umar Bakri.
Merawat sepeda Umar Bakri artinya membangun kesadaran pedagogik yaitu kesadaran untuk
menjadi bagian dari pendidik yang jujur dan ikhlas berbakti dalam menjalankan tugas pembelajarannya. Ingat Sepeda Umar Bakri lebih mahal dari
pada Kendaraan Mewah yang kita punya atau beli dengan Tunjangan Kesejahteraan
yang diberikan Negara pada Guru-Guru Indonesia.Kita masih yakin dan percaya
bahwa Guru-guru Indonesia masih mau merawat semangat Sepeda Kumbang Umar Bakri itu demi pendidikan terbaik bagi Indonesia
yaitu merawat
serta menjaga keikhlasan dalam mengemban amanah pendidikan untuk menjadi Guru yang jujur dan berbakti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar