Selasa, 29 Maret 2016

SEPEDA KUMBANG UMAR BAKRI



SEPEDA KUMBANG UMAR BAKRI


Masih ingat dengan sepenggal syair lagu Umar Bakri yang bertema nasib Guru? Itu lagu yang pernah disenandungkan Iwan Fals untuk guru-guru Indonesia. Guru-guru yang nasibnya tak kunjung berubah. Laju sepeda kumbang yang melaju di jalan berlubang, nasibnya seperti itu dari zaman Jepang?  Lagu itu memberi gambar yang nyata tentang nasib guru-guru di Indonesia. Setidaknya nasib guru pada masa lagu itu diciptakan.
Guru pada masa lalu adalah guru-guru yang terabaikan. Gaji mereka yang pas-pasan meskipun sudah ada yang PNS, nasib guru zaman dulu masih sangat memprihatinkan, terlebih nasib guru Honor pada masa itu. Umar Bakri pada masa itu adalah orang yang bekerja dalam dua tuntutan yaitu tuntutan pemenuhan kebutuhan dan tuntutan untuk mampu mendidik peserta didik untuk menjadi generasi yang terbaik. Generasi yang utuh dalam istilah agama disebut dengan Insan Kamil.
Mereka adalah simbol pengabdian yang jujur dan penuh bakti. Guru pada masa lalu adalah guru yang berbakti ikhlas demi perbaikan karakter anak bangsa. Dalam lagu Umar Bakri tergambar bagaimana proses pembelajaran yang dilakukannya dihiasai dengan kesabaran karena anak-anaknya yang bengal. Inilah tantangan sesungguhnya yang dihadapi guru yaitu saat ia harus menghadapi anak-anak atau murid yang sangat beragam sifat dan karakternya. Tiada modal lain kecuali kesabaran dengan tetap berusaha memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarganya agar dapur tetap ngebul.
Seiring zaman reformasi,  selain reformasi telah berdampak pada perubahan bidang politik. Reformasi juga memberi pengaruh pada bidang pendidikan sehingga suara-suara perbaikan nasib dunia pendidikan pun bermunculan. Tak kurang Novel Laskar Pelangi juga menyumbang upaya peningkatan aspek pendidikan dimana disana diceritakan nasib pendidikan di Balitong. Di zaman kepemimpinan SBY, paket kebijakan di bidang pendidikan cukup signifikan seperti peningkatan Tunjangan Guru adanya pendidikan gratis di tingkat pendidikan dasar 9 tahun, sertifikasi guru hingga peningkatan sejumlah program pendidikan yang lain.
Kini di zaman reformasi dan kepemimpinan SBY, dunia pendidikan masih mendapat perhatian serius hingga lahir program peningkatan anggaran pendidikan hingga menembus angka 20% walau masih perlu dievaluasi kembali sebab ada pertanyaan di dalam realisasi dana tersebut. Misalnya adanya pertanyaan berikut, apa betul anggaran 20% itu sudah sesuai dengan amanat yang dikehendaki atau tidak. Namun secara umum pendidikan telah terangkat dan mendapat perhatian yang intensif dari pemerintah.
Guru Indonesia telah merasakan betapa pendapatan itu telah mencukupi kebutuhan hidupnya. Penambahan Anggaran di dunia pendidikan telah meningkatkan kualitas kesejahteraan Guru Indonesia. Efeknya telah menjadikan sebagian masyarakat berlomba untuk bisa memasukan anaknya dan bekerja di dunia pendidikan karena tergiur gaji dan tunjangan yang besar. Kini wajah guru Indonesia tidak seperti apa yang digambarkan dalam sosok Umar Bakri dalam lagunya Iwan Fals itu. Mereka tidak lagi naik sepeda Kumbang sebagaimana sebagaimana Sepada Kumbang milik Umar Bakri.
Guru Indonesia kini tidak lagi naik sepeda butut sebab mereka telah naik motor bahkan Mobil. Jika lagu Umar Bakri adalah kritik buat pemerintah terhadap nasib guru yang pernah terabaikan, maka kini kritik itu itu telah di dengar dengan perubahan. Para guru harus berterima kasih pada pejuang pendidikan, karena jasa mereka nasib guru kini terangkat. Tapi para guru juga jangan lupa dengan sepeda butut Umar Bakri. Artinya meskipun perhatian terhadap guru dan pendidikan meningkat, janganlah lupa pada kejujuran dan bakti yang semestinya selalu ada pada sosok guru Indonesia.
Pertanyaan besar perlu diajukan adalah apakah peningkatan kesejahteraan guru berbanding lurus dengan perbaikan kualitas pendidikan?  Jika yang terjadi para Guru malah  lalai dengan tugasnya maka tak ada gunanya mengganti sepeda Kumbang Umar Bakri dengan motor ataupun mobil-mobil mewah yang berjajar di depan halaman sekolah itu. Jika guru di kelas masih menggunakan metode konvensional, maka tunjangan itu tak berarti apa-apa sebab kesejahteraannya tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas dan hasil belajar anak didiknya. Jika masih ada praktik ketidak jujuran dalam pendidikan, maka alangkah baiknya sepeda Kumbang yang telah “dimusiumkan” itu kembali digunakan. Demi harga diri dan kehormatan guru dan profesi keguruan yang kemuliaannya tidak ditentukan oleh gemerlap serta banyaknya tunjngan. Sepeda Kumbang Umar bakri adalah kendaraan terbaik yang menjaga guru dalam kehormatannya.
Lagu Umar Bakri dengan Sepeda Kumbangnya yang kita dengar selama ini adalah salah satu sisi yang telah melambungkan nama guru sebagai sosok penuh kekuatan tanpa tandingan. Sepeda Kumbang Umar Bakri tidak bisa diganti oleh semua dana-dana dan program kesejahteraan yang diberikan pemerintah untuk guru.
Mudah-mudahan pendidikan berjalan dengan logika yang benar seperti peningkatan kesejahteraan berbanding lurus dengan peningkatan kualitas pendidikan. Kenyataan yang ada masih sangat memprihatinkan). Belakangan acara I Like Dangdut yang disiarkan beberapa stasiun Swasta seolah memperjelas situasi pendidikan pasca peningkatan anggaran itu, bagaimana hasil dari tunjangan kesejahteraan itu, seolah tunjngan itu tak memberi korelasi positif bagi peningkatan pendidikan sebab sekolah dan pendidikan ini masih sangat memprihatinkan yaitu dengan foto-foto adanya sekolah-sekolah yang masih bocor padahal bantuan untuk pembangunan sekolah telah digelontorkan, misalnya dalam paket BOS dan BOP.
Meskipun demikian masih ada yang memiliki keinginan meningkatkan kualitas pendidikan. Akibat peningkatan kesekahteraan itu, serta merta geliat pendidikan meningkat yang terwujud dalam program-program pengembangan. Paket-paket pelatihan pun di set dalam upaya pengembangan itu. Dana-dana penelitian pun meningkat dan ini memotivasi guru untuk melakukan inovasi dan kreatifitas dalam pembelajaran. Bagi sekolah peningkatan itu terlihat pada perbaikan sarana gedung dan pemenuhan kebutuhan sekolah seperti alat-alat dan sara pembelajaran baik buku maupun teknologi atau alat-alat modern.
Jika semangat Umar Bakri itu masih ada pada guru-guru di era kesejahteraan Guru” ini, kita sangat yakin pendidikan akan gilang gemilang dengan program-program peningkatan. Bukan oknum yang memanfaatkan program-program peningkatan mutu pembelajaran hanya untuk memenuhi kepentingan sendiri. Masih ada dari sebagaian guru kita yang belum menyadari tugas dan fungsinya secara benar. Tidak sedikit penampakan-penampakan baru yang mengaku ngaku dirinya sebagai Umar Bakri. Padahal ia tak pernah mengenal siapa itu Umar Bakri.
Hari ini, sepeda Kumbang Umar Bakri telah dimuseumkan tapi kita berharap ia masih bisa dikenang. Kita berharap sepeda Umar Bakri bisa menjadi kekuatan yang sesungguhnya tentang apa artinya menjadi pendidik yang benar. Spirit Umar Bakri itu harus selalu ada sebab ia yang akan senantiasa mengingatkan kita tentang sejarah dan nasib guru Indonesia. Ia yang akan selalu mengingatkan kita tentang amanh tertinggi pendidikan. Secara fisik mengganti atau Sepeda Kumbang dengan kendaraan yang lebih baik dan memadai itu baik tapi jangan lupa makna yang tertoreh pada sepeda Kumbang miliknya. Marilah bersama-sama merawat dan menjaga nilai sejarah sepeda Kumbang Umar Bakri.
Merawat sepeda Umar Bakri artinya membangun kesadaran pedagogik yaitu kesadaran untuk menjadi bagian dari pendidik yang jujur dan ikhlas berbakti dalam menjalankan tugas pembelajarannya. Ingat Sepeda Umar Bakri lebih mahal dari pada Kendaraan Mewah yang kita punya atau beli dengan Tunjangan Kesejahteraan yang diberikan Negara pada Guru-Guru Indonesia.Kita masih yakin dan percaya bahwa Guru-guru Indonesia masih mau merawat semangat Sepeda Kumbang Umar Bakri itu demi pendidikan terbaik bagi Indonesia yaitu merawat serta menjaga keikhlasan dalam mengemban amanah pendidikan untuk menjadi Guru yang jujur dan berbakti.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar