OVERLOAD CURICULUM
Beberapa
hari yang
lalu telah diadakan Olimpiada Sains Nasional yang
diadakan oleh Kanwil DKI Jakarta. Dan masih banyak bentuk lomba serupa
bidang Sains. Pesertanya adalah siswa-siswi MAN se-wilayah Jakarta. Pemaparan fakta ini
bukan bertujuan untuk mengangkat persoalan peminat olimpiade tersebut. Sesungguhnya fakta dan data ini disajikan untuk
menunjukkan hal yang sangat penting dalam wacana pendidikan Indonesia. Betapa
olimpiade dan soal yang diajukan itu dalam olimpiade itu sedang mengabarkan
sisi lain realita pendidikan kita.
Realita
pendidikan kita
adalah realitas kurikulum yang diemban anak didik
kita. Lewat olimpiade matematika itu kita telah menjadi tahu tentang sejauh
manakah materi mathematika yang telah kita ajarkan. Meski soal diajukan dalam
bahasa Inggris sebagian peserta menyatakan tidak mengalami kesulitan dalam
menjawab soal yang ada. Contoh pada soal matematika yang disitu hanya dituntut
kemampuan anak untuk menunjukkan waktu pada gambar yang terpampang dalam lembar
soal. Tentu ini soal yang sangat mudah. Seusia anak SMP, siapa yang tidak
bisa menunjukkan angka jarum jam? Tentu semua sangat paham dan sangat
bisa mengerjakan soal dimaksud. Dan masih banyak soal sejenis yang menunjukkan
karakter mudah dan tidak sesulit materi yang biasa kita ajarkan pada
murid-murid kita di kelas. Materi yang kita ajarkan sebagaimana yang
diamanahkan dalam kurikulum nasional kita. Tingkat kesulitan yang ada di soal
olimpiade setingkat dengan soal-soal yang ada di sekolah tingkat dasar atau SD.
Kata pak Wahyu, salah satu guru matematika di SMP Internat Al kausar
Sukabumi...
Melihat
fenomena tersebut, ada dua hal terbangun dalam pemikiran saya selaku penulis.
Pertama, timbul rasa bangga bahwa kita bisa dengan sebuah pertanyaan apakah penyelenggara
telah salah memberikan soal. Kedua, apakah kurikulum yang telah kita terapkan
telah sesuai dengan tugas perkembangan anak? Bukan tidak mungkin kita telah
melanggar dan memaksakan tugas perkembangan anak sehingga materi ajar yang
diberikan berada diluar batas kemampuan anak usia SMP. Men-judge penyelenggra
salah dalam membuat soal, rasanya terlalmpau dini. Terlebih pendidikan untuk
remaja atau usia SMP. Atau di tingkat pendidikan yang lebih tinggi, pendidikan
Australia menjadi favorit banyak Negara untuk warga negaranya menimba ilmu di
Australia. Program beasiswa dan minat anak Indonesia dan Negara lain untuk bersekolah di Australia pun menunjukkan angka yang
signifikan. Dengan demikian pemikiran pertama tentu tak perlu lagi menjadi
persoalan. Yang patut menjadi pertanyaan adalah bahwa kita telah merasa mudah
dengan soal-soal Olimpiade dan beberapa kali kita menang lomba olimpiade baik
fisika maupun bidang ilmu yang lain, pertanyaannya apakah kemenangan itu
mencerminkan kemenangan
dari cita-cita pendidikan kita.
Bukankah kita hanya menang dalam hal penguasaan materi dan tidak pernah menang
(baca bisa) dalam olimpiade hidup yang sesungguhnya. Kita telah menjadi sangat
hafal dengan materi pelajaran tapi kita hamper tidak bisa menerapkan materi
yang kita kuasai dalam kehidupan seharihari.
Selebihnya
pemikiran kita tertuju pada fenomena kedua yaitu kurikulum pendidikan kita
(baca: Indonesia ) yang tentu saja layak diajukan. Dengan sebuah pertanyaan
sudahkah pendidikan terutama sisi kurikulum mempertimbangkan dengan
matang beban pembelajaran yang disajikan untuk siswa. Apa tidak mungkin kita
telah memaksakan beban kurikulum yang berat sehingga dalam usia yang masih
remaja mereka telah “dipaksa”
untuk menelan materi-materi yang sulit dicernanya. Sementara tugas perkembangan
tidak mengamanahkan hal tersebut.
Apakah
pembelajaran kita telah overload? Apakah
pembelajaran kita di kelas telah memberi beban
berat pada siswa dengan materi-materi terus kita jejalkan sementara potensi anak belum mampu menerima materi yang jumlahnya besar itu. Di tataran praktis, ilmu atau materi yang diajarkan seringkali tidak bernilai atu tidak memiliki makna bagi dirinta. Artinya tidak ada korelasi antara apa yang diajarkan
dengan realitas yang sesungguhnya. Padahal paradigma pendidikan terbaru
menghendaki adanya konsep pendidikan yang bernilai manfaat atau
sesuai dengan kontektualisasi dan kenyataan.
Kenyataan
pendidikan kita telah memasuki persoalan yang sangat paradigmatic dan kompleks.
Satu sisi negeri ini menghendaki kemajuan dan penguasaan teknologi yang cepat
(instant) yaitu dengan cara proses pendidikan yang juga cepat. Menyikapi
paradigma ini penyelenggaraan pendidikan mewujud dalam bentuk penyikapan yang
berlebihan dengan memahami makna kemajuan cepat itu dengan penguasaan secara kuantitatif materi-materi ilmu
pengetahuan. Betapa banyak anak yang telah hafal diluar kepala rumus matematika
tapi penguasan dan hafalannya dengan semua rumus itu tidak memiliki nilai yang
aplikatif dalam kehidupan. Sehingga ilmu pengetahuan yang dikuasai hanya
berhenti pada tataran pengetahuan. Dan saat ilmu pengetahuan hanya tersimpan
dalam otak-otak saja tanpa bisa dipublikasikan dalama arti dimanfaatkan,
bukankah sesungguhnya tujuan pembelajaran itu telah gagal direalisasikan.
Pembelajaran telah gagal menjadikan manusia mandiri dalamkehidupan. Pengetahuan
yang dia punya tak ada arti dan gunanya sebab ia hanya menempel di otak tanpa
ia mampu menerapkan bahwa realitas yang menunggu jawaban praktis dari ilmu yang
sederhana untuk mendapatkan solusi sederhana, tidak berbeli-belit.
Temuan Thomas Alfa Edison dengan lampu
pijarnya, saya kira Thomas menemukan lampu tersebut tidak harus menunggu sampai
dia menguasai semua bidang ilmu pengetahuan. Einstein dengan teori
relatifitasnya, saya kira temuannya tentang rumus E=MC, Einstein tidak perlu
menunggu dan hafal semua materi tentang fisika. Ketika kita hanya bangga dengan
pengetahuan yang melimpah tentang semua ilmu pengetahuan, sesungguhnya kita
telah hanya mampu menjadi bangsa yang hanya tahu banyak pengetahuan. Tapi kita
telah menjadi bangsa yang kecil sebab dengan ilmu pengetahuan yang di tahuinya,
tidak tahu harus berbuat apa. Dalam suatu ajang olimpiade ( sebut saja
olimpiade matematika misalnya) menjadi pemenang tentu tidak menjadi
kebanggaan jika olimpiade hanya bermakna tahu satu ilmu pengetahuan, tapi tidak
pernah diterapkan. Menjadi pemenang olimpiade akan benar-benar menjadi
kebanggaan saat kemenangan itu ditunjukkan bukan semata anak tahu banyak ilmu
pengetahuan tapi mampu menghasilkan karya nyata dengan pengetahuan itu. Itulah
kemenangan yang sesungguhnya.
Bangsa Eropa
telah
lama berbinar
dengan penemuan-penemuannya, dan anehnya
pembelajaran kita malah sibuk membicarakan temuan. Atau kita
berdebat tentang temuan mereka yang menguras energy. Tidak apa-apa, tapi jangan
melenakan kita.
Sesudah itu, yang pragmatis memilih
menjadi pengguna pembeli atas temuan mereka yang membuat
kaya orang lain. Korea yang terkenal dengan produk Hand Phone-nya yang terkenal terus mengadakan inovasi HP dengan
teknologi terbaru, kita malah sibuk ber “pamer ria” untuk memiliki atau berlomba-lomba mendapatkan HP
terbaru. Tanpa pernah berpikir dan terpikir untuk berbuat hal yang sama (mencipta teknologi dan inovasi)
sebagaimana yang mereka lakukan, atau melakukan temuan-temuan. Alih-alih
temuan, mampu memperbaiki HP saja belum sepenuhnya bisa. Kita telah menjadi sangat bangga dan secara tidak
sengaja menjadi pasar yang sesungguhnya dari produk-produk teknologi
bangsa lain. Sejauh itu pula kita telah menjadi tidak berdaya dengan serbuan
produk yang datang bertubi itu. Dan pada akhirnya kita harus mengalah dan
merelakan apa yang kita punya seperti menjual asset kekayaan sendiri untuk
memenuhi sifat konsumtif kita. Saat itu sesungguhnya kita telah menjadi
objek yang ditentukan dan bukan menentukan.
Contoh lain,
saat kita sedang bersibuk-sibuk dengan menguasai salah satu program aplikasi
computer. Sang pembuat telah dan sedang merancang program baru yang kembali
akan diluncurkan di pasar konsumen Indonesia . Sementara itu kita masih asyik
belajar tentang temuan atau inovasii baru yang baru diluncurkan itu. Eh..
produk ini fasilitasnya bagus lebih lengkap, temannya yang lain menambahkan “eh
ini ada lagii yang terbaru, dan seterusnya. Logikanya belum selesai kita total
menguasai satu program, tiba-tiba dating program baru yang menjadikan kita juga
harus bersegera mengikutinya. Kita telah ditentukan dan bukan menentukan. Kita
sedang diarahkan oleh penguasa teknologi dan tidak mengarahkan teknologi. Kita
terus belajar untuk tahu, tapi tak pernah mengajarkan. Belum lagi dari
sisi yang lain.
Kita seolah sedang dipaksa secara sistematis
menjadi pengguna produk barat (untuk tidak mengatakan kita telah menjadi
budak) produk-produk barat
itu. Dan situasi itu (keterbudakan itu) terjadi secara sistematis hingga merambah ke sisi lain budaya kita. Misalnya kita yang belajar
program Windows, didalam kotak dialog dan seluruh petunjuk pengoperasian dibuat
dalam bahasa Inggris. Apa dampaknya..????, pernahkah kita berpikir kesana..? Praktis dilapangan mereka para pengguna windows harus
mampu menguasai bahasa windows yaitu bahasa Inggris termasuk
bahasa-bahasa pemrograman. Lagi-lagi belum selesai kita menguasai program
windows, saat yang sama kita dihadirkan dengan produk program windows yang
baru. Situasi ini mejadikan kita makin merasa tidak berdaya dan selalu
merasa tertinggal dengan teknologi yang ada. Harus ada perubahan paradigmatic (untuk tidak menyebut revolusioner)
tentang bagaimana kita mensikapi secara sewajarnya deras arus perkembangan
teknologi yang sulit dibendung. Prinsipnya bukan tidak menghendaki perubahan
atau perkembangan teknologi, tapi bagaimana dengan teknologi yang ada kita
seharusnya menjadi terbantu dan benar-benar menjadikan kita sebagai manusia
yang sebenarnya. Paulo Freire
menyebutnya dengan ungkapan bahwa pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia.
Sudahkah
dengan teknologi dan pendidikan yang kita jalani itu telah menjadikan kita
sebagai manusia. Atau malah sebaliknya. Jika dengan teknologi itu kita
benar-benar dimanusiakan berarti teknologi itu adalah teknologi yang
bermanfaat. Dan sebaliknya jika dengan teknologi itu telah memperbudak kita, maka
sesungguhnya teknologi itu adalah teknologi yang semestinya ditinggalkan alias
mengandung mudharat. Selanjutnya apakah pendidikan kita telah manusiawi dan
tidak lagi ada pemaksaan kurikulum diluar batas kemampuan anak didik kita. Kita berharap pendidikan menjadi pendidikan yang manusiawi yaitu pendidikan yang lebih punya arti dan bukan
pendidikan yang mematikan hati nurani. Meski demikian kita memang akan tetap
menjadi pemenang olimpiade, tapi kita masih menjadi pecundang dalam
kenyataannya. Kita juga tidak perlu merasa bangga karena anak-anak kita tiada
kesulitan menjawab soal olimpiade. Kita harus lebih memahami arti pendidikan
yang sesungguhnya, yaitu memanusiakan siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar