GURU YANG BAIK
Guru adalah sosok pendidikan di garda terdepan dalam proses pembelajaran.
Keberadanya dalam proses itu sangatlah penting, maka kberhasilan
proses pendidikan sangat bergantung pada sosok seorang guru. Kebrhasilannya
adalah indicator yang baik bagi terbentuknya generasi terbaik bagi bangi
bangsa. Guru adalah actor penentu bagi keberhasilan proses pembelajaran mampu atau tidak mencapai tujuan
pembelajaran. Dengan
demikian ukuran dan patokan baik dalam tulisan ini adalah ketercapaian atau
kemampuan untuk menggapai tujuan.
Istilah yang
umumnya dipakai untuk mengangkat tema
tentang keguruan ini adalah Guru Profesional. Profesional artinya kata-kata
yang mencakup sebuah image yang berbau sukses, kompetendan efisien. Kata
professional yang menempel pada seseorang itu mencakup kemampuannya untuk
bekerja keras sekaligus menikmatinya. Orang yang professional adalah orang yang
membedakannya secara radikal dari manusia kelas-kelas atas zaman dulu yang suka
malas-malasan, santai-santai, seenaknya, alon-alon waton klakon. Seorang
professional adalah seorang yang selalu sibuk, tetapi dengan tenang dan mantap,
ia mampu menguasai situasi dengan dingin.[1]
Sementara
itu saya ingin menggunakan Istilah lain yaitu Guru yang Baik. Guru yang baik berdasarkan definisi dan cara pandang
tersebut diatas adalah Guru yang mampu mendekatkan apa yang dilakukannya dengan
Tujuan pembelajaran. Guru yang baik adalah guru yang
memenuhi standar kompetensi. Standar kompetensi ini sesungguhnya bahasa resmi
yang ditentukan oleh otoritas departemen kependidikan atau instansi pemerintah.
Kompetensi adalah kemampuan antara
kemampuan personal, keilmuan, teknologi, social dan spiritual yang secara
kaaffah
(menyeluruh) membentuk kompetensi standar profesi guru yang mencakup
penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik, pegembangan pribadi dan
personalitasnya.
Menurut saya standar kompetensi yang wajib dimiliki oleh untuk dan agar
dirinya bisa menjadi Guru Yang baik adalah:
Pertama ia harus menguasai materi pembelajaran selama
pembelajaran di kelas. Hal ini sangat mendasar dan hukumnya menjadi
wajib. Saya ingin menunjukkan betapa pengetahuan kognitif tentang materi
menjadi sangat mendasar bagi seorang guru. Bagaimana seorang guru dapat
mengajar di kelas jika ia tidak menguasai materi. Karenanya istitusi pembentuk
guru harus benar-benar memberikan standar yang ketat dalam penguasaan materi
pembelajaran.
Kedua, seorang guru harus mampu tampil di depan anak-anak
dengan elegan[2]. Dan itu akan terjadi saat guru tersebut menguasai
materi dengan baik. Walaupun masih ada saja guru yang menguasai materi namun
tak mampu menyampaikan. Namun presentasi atau angka tersebut dapat segera
menurun seandaiya guru dapat menguasai materi dengan baik.
Guru juga harus bisa digugu
dan ditiru, artinya perilaku dan tindakannya menjadi contoh bagi murid-muridnya dan juga orang
lain. Dan guru yang baik juga bukan guru dengan perilaku yang
dibuat-buat agar dicontoh,tapi perilakunya adalah perilaku alami yang dating
dari nuraninya dan panggilan kebenarann yang menyinari dirinya. Tanpa bekal
kebenaran dan integritas itu guru akan kehlangan kekuatan sesungguhnya dari
kerja mulianya itu. Sebagai contoh seorang guru yang mencontohkan agar anaknya
rajian melaksanakan ibadah tapi dalam kenyataan sang guru tidak melakukan
kegatan ibadah yang ia perintahkanpada muridnya, maka perintah itu tidak memiliki
kekuatan apapun pada anaknya.
Inovasi pembelajaran menjadi
wajib sebab metode ceramah sudah tidak mampu menarik siswa untuk aktif
dalam pembelajaran. Sebuah ironi muncul adalah saat inovasi
itu menjadi ajang bagaimana membahagiakan proses
pembelajaran sebab ada kenyataaan inovasi ini hanya menjadi ajang Fun
Learning sehingga pembelajaran hanya menjadi tanggung jawab guru.
Inovasi jenis ini memperlihatkan bahwa pembelajaran hanya milik guru. Sering
dilupakan bahwa pembelajaran juga taanggung jawab murid atau anak didik.
Dikatakan ironi sebab sebab
guru yang berinovasi dalam arti menyenangkan murid akan disenangi anak
sementara yang tidak berinovasi akan dianggap kaku dan dijauhi anak-anak. Ini
salah sebab tidak selamanya pembelajaran harus menyenangkan. Tidak selamanya
pembelajaran dikemas dengan Harus juga
disadari ada kelas pembelajaran harus dsertai dengan tugas-tugas pembelajaran.
Dan tugas pembelajaran serin kali tidak menyenangkan. Tapi itu harus ditempuh
anak sebab itu bagian atau tahapan dalam pembelajaran. Dan bukan melulu dengan Fun
Learning yang memasung guru dengan paket pembelajaran yang harus
menyenangkan. Padahal mereka anak-anak juga punya tanggung jawab pembelajaran
untuk membuat pembelajaran terwujud dengan baik.
Guru yang tak berinovasi pun
bukan berarti tanpa masalah ternyata beban hidupnya pun luar biasa besar.
Sebanyak 99 persen guru di lampung, misalnya, telah tergadaikan atau berutang
di bank-bank di Lampung demi kesejahteraan. Akibatnya, para guru sulit
memfokuskan diri untuk menyiapkan pembelajaran yang berkualitas.[3]
[1] Franz Magnis-Suseno. Berflsafat dari KOnteks. (Jakarta. Gramedia Pustaka Umum. 1991).
Halaman 147.
[2] Sukadi.
Guru Malas, Guru Rajin: Ramuan Ajaib
Untuk Menjadi Guru. Menyenangkan. (Bandung:
MQS Publishing. 2010)
[3]D.R Deden
Musfah, M.A, Peningkatan Kompetensi Guru
Melalui Pelatihan dan Sumber Daya Teori dan Praktik. (Jakarta: Kencana.2011).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar