MENIMBANG MORALITAS KITA?
Sejumlah fakta moralitas yang
sangat mengerikan kini tersaji dengan sangat nyata dalam keseharian kita.
Anggota Dewan yang melakukan tindakan asusila di Gedung DPR MPR, atau anggota
dewan yang membuka Situs Porno saat Sidang. Atau tentang Guru yang tanpa malu
juga membuka situs porno di sekolah. Ada juga murid yang berciuman di kelas
atau anak remaja pada umumnya yang memilih tempat gelap sebagai tempat
berciuman dan lain-lain. Belum lagi panggung politik negeri yang diwarnai
pejabat korup yang tak pernah malu dengan kelakuan dan kesalahannya sebab
dirinya tidak pernah merasa bersalah. Mereka tidak bersalah sebelum ada bukti sebab
ukuran salah di negeri ini harus ada bukti. Selama belum ada bukti maka
seseorang belum bisa dinyatakan bersalah padahal sudah nyata-nayat melakuakn
kesalahan. Hukum positif mengharuskan adanya bukti yang sifatnya sangat
fisikal.
Pada awalnya fakta ini adalah kegelisahan pribadi, yang penulis
yakini pada tahap
selanjutnya nanti penulis yakini menjadi kegelisahan kolektif yang
semesartinya orang lain yang juga sama-sama meiliki potensialitas yang sama
saat berbicara tentang realitas moral di sekitar kita.. Aneh jika entitas manusia berbeda dalam hal ini. Saya kira saat
manusia tak gelisah dengan keadaan ini, yang terjadi
pada orang itu adalah manusia yang mengingkari hati nuraninya. Salah menjadi
benar, benar menjadi salah dan lain sebagainya. Pintar jadi bodoh dan lain
sebagainya. Ukuran ini menjadi berbalik tanpa standar yang jelas. Hingga
manusia tak mampu membedakan criteria moral itu. Mana yang benar dan mana yang
salah dan seterusnya.
Moralitas berasal dari
bahasa Inggris Mores yang berarti kebiasaan. Tema moral adalah tema abstrak
yang ada dalam jangkauan ide. Ia berbicara tentang nilai yang berujud realitas
tak terindrawi. Ia adalah fenomena jiwa. Tentang baik benar, baik tidak baik,
patut tidak patut dan penting dan tidak penting. Bertenz di dalam bukunya Etika mengatakan bahwa
Moralitas adalah segi moral atau perbuatan atau baik buruknya. Moralitas adalah
sifat moral atau keseluruhan azas dan nilai yang berkenan dengan baik dan
buruk.[1]
Dalam diri manusia telah ada
potensi atau kemampuan untuk membedakan dua hal. Tuhan menganugrahi manusia
kemapuan otak untuk memilah mana yang mengarah pada kebenaran dan mana yang
mengarah pada keburukan.
Interaksi mensyaratkan adanya komunikasi dan kontak. Sementara pelaku
interaksi itu manusia sebagai mahluk super kompleks. Kata Koentjaraningrat ada
tiga hal utama dalam diri manusia yaitu Pengetahuan, Perasaan dan Dorongan
Nurani. Maka setiap yang dilakukan dalam kehidupan dan ruang sosial kita
dipengaruhi oleh ketiga faktor yang datang dari diri individu. Saya ingin
menggunakan mekanisme interaksi ini yang sebetulnya adalah kajian sosiologi
sebagai alat analisis moral. Walaupun sesungguhnya ia bisa dikaji dari aspek
agama dan etika. Moral adalah entitas dalam diri manusia yang merupakan potensi
rasa dan dorongan Nurani. Koentjaraningrat menyatakan bahwa perilaku itu
ditentukan oleh kerja otak dan Jiwa yang padu.
Orang seringkali berbeda dalam melihat ukuran Moral. Satu orang menilai
pelangaran itu diganjar 3 hari, yang lain diganjar satu minggu. Atau ada yang
menilia jika anak melakuan tindakan asusila itu sebaiknay dikeluiarkan dari
sekolah. Ada juga orang yang menganggap apa yang terjadi di lingkungan seperti hubungan seks bebas, pacaran remaj yang berlebihan. Berpacaran atau berciuman di
pinggir jalan dinilai sebagai hal yang biasa. Sejak kapan kita telah menganggap
hal semacam itu sebagai hal yang biasa. Bagi saya ini sangat menggelisahkan.
Ini tidak sepantasnya dilakukan sebab melegalkan atau mengijinkan hal itu
terjadi sama saja kita telah memberi kebebasan pada aksi bejat yang akan berkembang dari pembiaran itu. Sebab kenyataannya sudah ada yang memperlihatkan
kerusakan di level yang lebih tinggi
Adanya rasa seksualitas adalah
hal wajar dan manusiawi, Mana ada manusia yang lepas dari unsure
seksualitas. Seksualitas adalah bagian terintegral dalam diri manusia, hanya harus ingat dengah batas nilai kita. Nilai budaya ketimuran kita sangat mengatur adanya hal ini. Ada
tempat ada waktu. Ada saat dimana itu akan lebih indah dirasakan jika menempuhi
sebuah aturan atau ketentuan yang disepakati yaitu atas dasar pondasi naluriah. Intinya dunia social kita
adalah dunia yang sangat menghargai aturan dan nilai. Tanpa itu kita akan
berantakan atau kacau balau.
Dunia maya yang hamper setiap hari kita jelajahi adalah dunia tanpa
tuan tak ada aturan atau norma yang berdiri kokoh yang jadi dasarnya. Yang ada adalah setiap
individu akan menemukan benturan nilai dalam internet dengan kemampuannya
dirinay sendiri, mengelola
semampunya. Dan
kebanyakan tak berdaya, dan yang terjadi serbuan bertubi baik itu situs porno
atau yang lainnya telah mengkandaskan otoritas moral. Pemerintah lewat MenKominfo
pernah membatasi adanya situs porno, nampaknya tak mampu secara optimal sebab
situs porno tetap dapat diakses dengan mudah.
Lalu bagaimana nasib moral anak-anak kita di tengah terpaan perubahan bertubi-tubi dan tak kenal waktu itu. Terpaan
yang telah memborbardir eksistensi banguann moral yang selama ini kita jaga. Ataukah ini adalah era perubahan yang
dinantikan. Era dimana akan dibangun kesepakatan baru bahwa seksualitas itu menjadi
sesuatu yang terbuka. Tak perlu lagi ditutup-tutupi sehingga didalamnya seks bebas adalah hal yang biasa. Jika itu selama ini hanya terjadi di
Negara Amerika, apakah itu akan dihidupkan di Negara kita.
Realitas Ariel setidaknya menjawab problem diatas, tidak ada efek
apapun kecuali penjara 5 tahun. Selebihnya
bangunan pelanggaran atas perilaku itu tak mendapatkan sanksi yang
setimpal, justru social memberikan apresiasi yang sangat luar biasa, setidaknya
kebangkitan Band Noah jadi indikatornya bahwa kesalahan (kemaksiatan) itu hal yang biasa. Hal yang
sama saat kita melihat anak terkena sangsi pelanggaran aturan sekolah semisal
berciuman di sekolah. Sang pelaku pun tak ada efek apapun sebab hokum tidak
memberi sangsi tegas. Sangsi yang ada hanya sebuah beban administrasi dan
seolah menggugurkan pelanggaran asusila yang dilakukannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar