Selasa, 29 Maret 2016

WAJAH PENDIDIKAN KITA



BAB 1 WAJAH PENDIDIKAN KITA


Saya ingin membuat ilustrasi tentang realitas pendidikan kita dengan penggambaran pada penampilan boneka badut yang saya temui di sebuah pemberhentian saya, saat dalam perjalanan pulang kuliah S2 (di bilangan Taman Mini Indonesia Indah). Pemain badut yang sedang memerankan dirinya dengan boneka Mickey Mouse dan Mac Donald. Melihat kondisi dua orang itu aku mengapresiasi apa yang mereka kerjakan karena mereka masih mau berusaha mencari nafkah dengan memerankan dirinya sebagai badut dibandingkan pilihan menjadi pengemis atau melakukan tindakan criminal untuk mendapatkan uang. Rasa iba lebih dominan saat beberapa pengemudi memberikan uang recehan atau beberapa lembar uang ribuan pada mereka. Tapi sekali lagi saya katakan keadaan mereka masih terhormat, dibandingkan yang memilih jalan haram untuk memenuhi kebutuhannya.
Tapi bukan soal status pekerjaan itu yang mau diangkat dari wajah atau penampilan para badut itu tapi soal wajah lain yang saya temui saat sang badut mencopot topengnya. Aura wajah lain di sebalik topeng itu, adalah wajah lelaki tampan, putih tapi pasi yang saya lihat.  Wajahnya sangat berbeda dengan tampilan luar atau topeng Mickey Mouse yang baru dipakainya. Profesi badut menurut saya adalah media menggunakan wajah lain untuk menutupi diri sendiri dan mengambil keuntungan dari wajah lain yang ceria karena guratan muka badut itu adalah wajah ceriadan selalu tertawa. Saat mereka berhenti menari dan mencopot topengnya, bukan wajah ceria sebagaimana wajah ceria Mickey Mouse yang tersenyum lebar itu, tapi wajah kusut yang kulihat sedang istirahat sembari menghitung uang receh yang sudah dia kumpulkan. Nyaris tak ada senyuman. Kontras sekali dengan topeng yang ia kenakan.
Fenomena ini, ingin saya gunakan untuk mengajak pembaca pada pemahaman bagaimana sistem pendidikan asli bangsa Indonesia yang demikian “tidak percaya diri” sebab yang terjadi justru kurikulum yang diadopsi dari teori barat atau negara lain yang menjauhkan manusia Indonesia dari akar budayanya bahakan mencerabut sisi kemanusiaannya. Karakter peradaban barat dan peradaban Timur jelas suatu realitas yang nyata dan kontras. Dan kita banyak mengadopsi pemikiran barat dan banyak lupa dengan konsep pendidikan ketimuran.
Pelaku-pelaku pendidikan di negeri ini seperti badut-badut yang memperagakan karakter di luar karakter dirinya sendiri. Ia berusaha menjadi orang lain walau sesungguhnya dalam dirinya itu berbeda sama sekali. Ia harus menutup wajahnya dengan boneka yang ia kenakan untuk menutup-nutupi sejati dirinya. Ia tak mau memperlihatkan karakternya sendiri yang sesungguhnya alami. Tapi yang alami itu sedang dipermalukan. Semua orang lebih ingin melihat badutnya bukan aslinya.
Sistem pendidikan kita, adalah system pendidikan yang sedang Berjaya atau tepatnya sedang kesengsem dengan paradigm dan pemikiran-pemikiran barat yang positivistic yaitu paradigm-paradigma menjadikan manusia beralih dari manusia yang secara naluri akan mengikuti aspek keilahian bergeser atau berubah menjadi mansuai dengan sikap-sikap duniawi. Kejayaan dan kemuliaan atau kesuksesan akan terwujud dengan ukuran-ukuran duniawi.
Dengan badut-badut itu,  ia juga ingin menutupi ketak berdayaannya. Ia tak mau orang lain tahu bahwa dirinya tak berdaya. Kekuatan dan kemampuan yang ada dalam dirinya tak ia keluarkan. Ia ingin menggunakan wajah orang lain untuk mengembangkan pikiran orang lain, sejak saaat itu kita tidak pernah menadi diri sendiri.
Sistem pendidikan kita juga sedang memeprlihatkan ketakberdayaannya. Dan dalam ketakberdayaannya itu, ia lebih banyak melacurkan dirinya dalam system barat yang terlanjur dipuji-puji dan dibanggakan. Padahal dalam kenyataannya sangat anti manusia dan esensi sejati manusia.
Yang kulihat fisik pemain badut itu sangat sehat, bahkan salah satu dari meraka adalah wanita yang cantik, sepertinya mereka pasangan suami istri yang baru kena PHK. Tak berdayamenghadapi tantangan ekonomi Jakarta, mereka terpaksa menjadi badut. Tapi ketak berdayaan yang sebetulnya mereka bisa berdaya menjadikannya memilih cara itu untuk mendapatkan uang. Pilihan yang paling mungkin diantara banyak pilihan sulit yang harus dipilih.. Ia terlihat malu melihatku. Keterpaksaan atau ketakberdayaan sementara atau selamanya dan akan terus menggunakan profesi itu sebagai pekerjaan terlebih jika keadaan tak bernjak menuju perubahan.
Pendidikan terbaik adalah sebuah kegiatan sadar untuk mengembangkan potensi insane menuju keutuhannya (kamil). Pendidikan terbaik adalah pendidikan yang lahir dari dirinya sendiri. Ia tidak memerankan karakter atau sifat orang lain sebagaimana badut itu. Pendidikan terbaik kata Paulo Freire adalah upaya untuk memanusiakan  manusia. Artinya pendidikan yang di dalamnya terkandung proses yang mampu menghasilkan manusia sebagai manusia bukan binatang apalagi lebih hina dari itu. Jika pendidikan tidak menghasilkan sosok manusia sebagai manusia, maka pendidikan itu gagal. Karenanya pendidikan terbaik adalah pendidikan yang menghasilkan sosok manusia sempurna dan paripurna.
Bangunan pendidikan terbaik adalah struktur yang mempunyai struktur kuat dan utuh. Ada dua aspek yang harus diperhatikan dalam upaya mewujudkan bangunan pendidikan terbaik itu. Kedua aspek itu  yaitu aspek Software dan Hardware. Aspek Software adalah aspek perangkat lunak yang menyangkut visi dan pandangan batini tentang ide-ide terbaik pendidikan. Aspek Hardware adalah aspek yang sifatnya fisikal yaitu adanya pengembangan pada sisi sarana dan prasarana sekolah sebagai maksimalisasi Aspek Software itu tadi.
Konsentrasi pada aspek software adalah perhatian pada aspek-aspek yang batini. Aspek ini menekankan pada aspek visi, misi dan cara pandang atau idiologi dalam pendidikan. Dalam hal ini pemahaman tentang idiologi pendidikan menjadi hal penting yang perlu dipahami sebagai dasar fundamental. Idiologi pendidikan adalah ide-ide dasar yang terkait dengan prinsip dan pandangan seseorang dan cenderung berafiliasi pada satu aliran pemikiran. Perdamaian adanya konflik idiologi, sementara waktu dapat didamaikanlewat pemahaman-pemahaman universal seperti keadilan, kebenaran, saling menghargai, memgasihi dan lain sebagainya. Karenanya pengembangan pada aspekIdiologi berimplikasi atau memiliki korelasi yan  erat dengan bangunan idiologi masyarakat atau negaranya.
Pada aspek Software, persoalan pendidikan dapat dibagi menjadi dua asek yaitu aspek Mikro dan aspek Makro. Aspek Mikro disini adalah hal-hal yang sifatnya sangat teknis administrasi tentang penyelenggaraan pendidikan seperti Kurikulum, Evaluasi dan proses pembelajaran di kelas. Menurut penulis, aspek Mikro merupakan turunan dari aspek makro.  Ia juga bisa disebut sebagai penjelasan dari aspek makro.
Sementara aspek Makro adalah aspek dalam bingkai Grand Design, artinya aspek yang menjangkau hal-hal yang terkait dengan idiologi, visi dan misi pendidikan. Sekolah-sekolah besar, sejauh pengamatan penulis adalah sekolah yang memiliki visi dan idiologi yang kuat dari para penyelenggara termasuk pendiri. Tulisan ini tidak bermaksud memperuncing perbedaan idiologi apalagi mengkonfrontasikan perbedaan agama. Di lingkup keyakinan kristen kita mengenal ada sekolah BPK Penabur, Kanisius dll diakui sangat baik dan berhasil mengusung capaian pendidikannya. Di Islam ada sekolah Al–Azhar, adapula Insan Cendekia, juga berhasil membangun visi yang kuat dalam pendidikannya yang berbasiskan agama. Sekolah-sekolah ini justru mampu mengangkat dasar pendidikannya dengan konsep dan kurikulum yang mandiri dan mampu diaplikasikan dengan baik. Terbukti banyak orang kaya terdidik ( Kalangan modern) yang mempercayakan pendidikan anak-anaknyanya pada sekolah-sekolah dimaksud
Keduanya mendorong pencapaian akademik disatu sisi. Disisi lain pencapaian target nilai-nilai agama juga sangat menonjol. Dengan banyakknya murid dan kualitas yang terjaga sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan yang paling dicara adalah pendidikan yang memfokuskan pada aspek kemanusiaan secara utuh yaitu pendidikan yang juga mengembangkan potensi keagamaan disatu sisi. Disisi lain pendidikan ini juga menyokong sepenuhnya gagasan pengembangan aspek kognitif atau sisi intelektualitas.
Indonesia harus mengambil ide sekolah terbaik dengan tidak ada diskriminasi dan penonjolan kelompok tertentu. Pendidikan Indonesia dapat diarahkan pada fokus intelektualitas, dan juga fokus pada pengembangan moralitas dan aspek karakter kebangsaan. Mengapa agama terabaiakan atau diabaikan sebab alam  sosial tidak melihat agama sebagai bagian penting dari sisi kemananusiaan kita. Apakah agama justru akan menceraiberaikan? Soal ini pun semestinya dapat didamaikan bahwa ada prinsip yang sama dalam agama yaitu pengenalan akan Nilai Ketuhanan yang ada dan hakiki ada dalam setiap diri manusia, kecuali kalangan Atheis. Prinsip yang sama juga misalnya stiap agama mengajarkan kasinhsayang dan bukan sebaliknya. Tidak ada agama yang mengajarkan keburukan.
Pendidikan terbaik bagi bangsa Indonesia adalah Pendidikan terbaik adalah pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai  kemanusiaan yang utuh bukan semata manusia sebagai manusia tapi juga manusia sebagai mahluk Tuhan [1]. Pendidikan yang berdiri diatas kaki sendiri. Sistem dan pelaksanaannya tidak perlu mencontoh atau membeo pada konsep-konsep barat yang tidak sesuai dengan budaya sendiri.



1 komentar:

  1. Casino at Coushatta Casino - Mapyro
    Find the best 포천 출장안마 Casino at 김제 출장샵 Coushatta Casino, 논산 출장샵 Louisiana near the airport or by train. Mapyro users have the option 서귀포 출장안마 to download the map or download the 제천 출장샵 app

    BalasHapus