Selasa, 29 Maret 2016

MAFIA PENDIDIKAN



MAFIA PENDIDIKAN


Setiap orang menginginkan adanya penyelenggaraan pendidikan yang baik. Hal ini adalah harapam yang senantiasa tertumpu pada mereka yang terlibat dalam kegiatan mendidik. Namun keinginan itu hanya akan menjadi tinggal keinginan apabila prosesnya  menemui banyak kendala. Kendala inilah yang dalam kenyataannya sangat mengganggu proses pendidikan yang kita laksanakan. Ada mafia dalam dunia pendidika kita. Ada virus yang selalu mengotori tujuan mulia pendidikan kita. Sehingga semangat pendidikan tidak mencapai titik yang diharapkan dalam rangkanmenggapi tujuan mencapai ,ansuai yang sebenar-benarnya manusia.
Pertanyaannya adalah apakah benar ada hambatan besar dalam proses pendidikan kita. Apakah benar ada mafia dalam pendidikan kita, di sekolah atau di instansi pendidikan kita. Mafia secara umum diartikan sebagai perkumpulan rahasia yang bergerak dalam bidang kejahatan (kriminal.[1] Lalu siapa yang dimaksud Mafia dalam pendidikan ini.??? Mafia sebagai persekongkolan kriminal akan sangat merusak rakyat. Dalam dunia ini mereka tampil sebagai kator-alktor pendidikan yang merusak sendi-sendi sistem penyelenggaraan pendidikan kita. Berdsarkan definisi ini maka yang dimaksud mafia dalah mereka yang punya ampak merusak dalam sisstem pendidikan yang ada. Apa yang dirusak Tentu yang rusak dalam sistem pendidiia  adalah komponen-komponen pendidikan seperti tujuan, metode, evaluasi termasuk di dalamnya adalah proses pembelajaran
Apabila tujuan pendidikan Nasional mengamanatkan lahirnya generasi yang cerdas, taqwa dan trampil, berbudi pekerti yang luhur. Tapi akan terhambat oleh adanya mafia-mafia ini yang hanya memikirkan perutnya sendiri. Seperti kata pepatah jauh api dari panggang. Tujuan pendidikan itu sangat mulia tapi kenyataan yang ada sangat jauh berbeda.Yang menyaji di depan mata kita  tentang hasil pendidikan kita adalah kenakalan remaja yang makin meningkat baik kualitas maupun kuantitasnya.  Bahkan ada kegiatan ini yang menjadi kegiatan rutin, penggunaan obat terlarang, seks bebas dan lain sebagainya. Di sekolah sudah sangat sulit sekali kita dapati murid atau anak yang hormat pada gurunya. Tak ada lagi rasa sopan santun murid pada guru bahkan ada yang melawan. Di sebuah  SMA di jakarta ada yang menuduh guru makan uang perpisahan  dan pada akhirnya acara perpisahan sepenuhnya dilakukan oleh Murid. Tidak ada lagi rasa percaya.
Mengurai persoalan ini banyak ditemui hal-hal yang sangat dilematis. Perbaikan di tingkat kurikulum dianggap proyek pendidikan yang dinilai mentri baru kurang kerjaan. Ganti Mentri Ganti Kurikulum. Di level bawah orang tua atrau murid dibebani dengan uang sekolah yang kian mahal. Ditambah lagi dengan biaya buku  mahal yang harus dibayarkan.
Tidak dalam rangka menghakimi siap yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan kita. Satu hal yang harus menjadi pedoman kita adalah prinsip pendidikan yang harus ditegakkan. Pendidikan mengamatkan untuk terbentuknya manusia-manusia yang dewasa, baik intelektual, spiritual dan emosional. Maka mereka yang menympangkan tujuan itu sama saja ia adalah seorang Mafia.
Jika ada penyelenggaraan pendidikan atau sekolah yang dikomersilkan maka disini juga terjadi penyimpangan dalam pendidikan. Sekolah yang hanya menjadikan sekolahnya sebagai lembaga ekonomi yang profit oriented. Saya tidak sepenuhnya menolak adanya unsure ekonomi dalam penyelenggaraan sekolah sebab sekolah seemstinya jauh dari hal-hal tersebut diatas. Jika yang ada dalam pikirannay adalah bagaimana atau seberapa besar gaji yang didapatnya itu sebetulnya tidak pantas dirinya menyandang status guru. Guru dalam bahasa jawa artinya DIGUGU di DITIRU. Ia harus khidmat pada amanat pendidikan. Keluhan guru seperti lelah atau gaji kecil (dulu) seharusnya juga tidak perlu. Sebab kontrak guru adalah melelahkan sabar dan sangat sabar.
Mudah-mudahan tulisan ini tidak dipahami sebagai perlawanan apalagi penghiantan terhadap para guru dan profesi keguruan. Saya hanya ingin mengais kembali kekuatan yang kini telah dan mulai memudar dari diri seorang guru. Tunjangan dan gaji yang hari ini demikian baik (deras) menggelontor ke kantong-kantong guru semestinya adalah konsekuensi dari kerja ikhlas yang dilakukannya dan bukan menajdi tujuan utama yang menggerakan (factor pendorong) guru untuk berkarya dalam bidang paedagogik. Di tulisan saya yang lain saya menulis kerinduan akan apa yang disampaikan bang Iwan Fals dalam lagunya Oemar Bakri. Disana sana saya ingin menggambarkan betapa ada power yang luar biasa yang dimiliki seorang guru. Seorang guru itu harus jujur, ia harus seorang pengabdi dan ia juga harus sabar.
Tunjangan-tunjangan yang ada telah mempreteli hamper semua kebangaan guru pengabdi dan sabar itu. Ketika sang guru mengatakan kepada anaknya yang miskin, kalian harus sabar menghadapi hidup yang sulit. Bukankah kata-kata itu menjadi tidak bertuah lagi sebab kondisi murid kontra dengan kondisi gurunya. Bukan pula dimaksudkan tulisn ini untuk mengendurkan semangat membangun kesejahteraan yang sedang hingar binger di lingkungan dunia kependidikan. Bukan. Tulisan ini adalah sebagai penjaga spiritulitas (baca semangat) esnsi pendidik agar ia tetap dengan jalurnya sebagai guru yang jujur dan berbakti sepenuhnya untuk negeri. Bukan guru yang berbakti untuk mendapatkan materi.
Meski demikian usaha mmemperbaiki kesejahteraan guru harus dilihat sebagai upaya aatau kesadaran bahwa kerja pendidikan harus mendapatkan perhatian serius. Dalam hal ini adalah tugas pemerintah. Jika hal semacam ini artinay kesejahteraan itu belum diberikan maka besar kemungkinan akan lahir penyimpamgan yang dalam bahasa frontal disebut akan tetap ada  Mafia dalam pendiidkan kita.
Pemerintah jangan malah menjadi Mafia. Otoritasnya yang tinggi adalah kunci yang menentukan penyelenggaraan pendidikan yang baik. Pemerintan yang tidak paham dnegan tujuan pendidikan samaartinya pemerintah telah menyimpang dari tujan pendiidikan.


[1] Perkumpulan rahasia yang bergerak dalam bidang kejahatan (kriminal) Kamus lengkap Bahasa Indonesia. Penerbit Mitra Pelajar Surabaya. Hutomo M.A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar