Selasa, 29 Maret 2016

FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN



FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN


Problem besar dalam ilmu saat ini adalah saat peran ilmu sebagai sarana manusia menggapai tujuannya tidak berjalan dengan baik. Ada problem besar di tingkat epistimologi yaitu struktur di dalam bangunan ilmu yang mengurai asal-mula ilmu[1]. Epistimologi kita belum mampu menjawab secara memuaskan tentang bagaimana transendentalitas dapat dijabarkan. Epistimologi kita juga belum mampu mengakomodasi objek-objek transenden sebagai sasaran kaji ilmu. Contoh, ada orang yang memandang agama sebagai ilmu, disaat yang sama orang tidak menerima agama itu sebagai ilmu, contohnya transendentalitas Tuhan. Maka yang terjadi, Epistimologi tidak pernah berpihak secara fair pada aspek ke-Tuhanan. Padahal, transendentalitas adalah unsur yang sangat fundamental dalam keberkeyakinan kita. Louay Safi menyebut kondisi ini dengan penyingkiran wahyu dari wilayah ilmu.[2] Padahal, transendentalitas adalah aspek yang sangat fundamental dalam berkeyakinan. Ketidakmampuan epistimologi dalam menjawab problem transendentalitas ini harus segera disadari sebagai problem besar peradaban. Selanjutnya problem ini mendapatkan jawabannya agar seluruh dimensi dasar manusia tentang Tuhan mendapat argumentasi dan dasar ilmiah. Sebab beragama atau ber-Tuhan adalah perilaku yang memiliki mekanisme yang jelas dalam ilmu pengetahuan. Mekanisme yang dimaksud adalah metode ilmiah.
Sudahkah transendentalitas dapat dikaji secara ilmiah tapi mengandalkan metode barat selama ini sangat tidak memuaskan. Inilah wacana dasar yang ingin penulis sampaikan dalam pondsi keilmuan kita. Aspek dasar dalam ilmu pengetahuan yang selama ini adalah aspek transendentalitas.
Struktur ilmu pengetahuan umunya terbentuk dari olah pikir manusia dalam bingkai problematika peradaban di zamannya. Pertanyaan pertama yang perlu diajukan terkait dengan ilmu adalah “Sudahkah ilmu membantu manusia untuk meniti tahapan-tahapan sejarah menuju tujuan akhirnya. Yang sering kita temukan adalah manusia yang kaya dengan ilmu tapi kering dari nilai sebagai manusia terlebih dirinya di hadapan tuhan, Yang Maha Pencipta (menurut mereka yang berpijak pada paradigma agama). Ilmu adalah alat bagi manusia. la menjadi pedoman dalam setiap langkahnya. Manusia tidak bisa terlepas dari adanya ilmu. Ada tiga hal pokok dalam teori ilmu, yang pertama Ontologi yang berarti apa itu ilmu, kedua epistimologi yang berarti bagaimana ilmu itu didapat dan yang ketiga adalah aksiologi yang menunjukkan untuk apa (atau kegunaan ilmu). Pembahasan tentang ilmu biasanya terfokus pada pembahasan epistimologi yaitu bidang ilmu yang membahas pengetahuan manusia.[3] Dari mana ilmu didapat, bagaimana prosesnya, metodenya bagaimana adalah hal-hal yang dijangkau dalam epistimologi. Intinya epistimologi dapat dipahami sebagai cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.
Pembahasan mengenai epistimologi menjadi hal penting bahkan sangat penting, saat dominasi paradigma atau pemikiran barat tentang ilmu begitu “angkuhnya” bertengger diatas bangunan ilmu. Bahkan ukuran tingginya suatu peradaban seringkali ditentukan atas dasar filsafat ilmu pengetahuan yang dibangunnya. Epistimologi yang terfokus pada aspek transenden berupaya mengukuhkan gagasan epistimologi dalam wilayah agama. Karena selama ini telah lahir sebuah pengingkaran Ilmu terhadap agama, dan hal itu pula yang menyebabkan agama tak mampu menyentuh atau enggan berfilsafat. Epistimologi ini sebetulnya tidak perlu muncul atau dimunculkan seandainya gagasan tentang ilmu ini (epistimologi) yang berlaku saat ini mampu menjawab problem besar ilmu pengetahuan. Kenyataan yang ada sebaliknya epistimologi yang ada tidak mampu mengakomodir (untuk tidak mengatkan dijadikan alas an) menolak gagasan transendentalitas (baca: Tuhan). Ilmu barat yang hari ini kita lihat dan menghujam di tengah peradaban, telah banyak meninggalkan tanya yang tak kunjung berjawab disaat problema kemanusian yang makin kompleks. Disana ada yang hilang dari sisi manusia. Ada nilai yang disingkirkan, padahal nilai tersebut begitu lekat dalam manusia. Radikalisme dalam paradigma atau perspektif ilmu barat telah banyak melahirkan gagasan-gagasan sekuler yang terbukti kering dan menjauhkan manusia dari hakikatnya yang tauhidi (nilai religius). Saat ilmu dipandang dalam perspektif ini (barat), yang lahir adalah gagasan-gagasan yang berdasar pada otoritas manusia (anthroposentris). Pengalaman the dark age di Eropa dijadikan dasar untuk menolak konsep-konsep yang teologis (agama). selanjutnya mucullah gagasan-gagasan yang mendasarkan struktur ilmunya pada rasionalitas dan kemampuan berpikir manusia.
Kalau ilmu itu bemama pengalaman, maka pengalaman meninggalkan pesan berharga untuk selanjutnya menentukan langkah tepat kedepan. Bisa jadi pengalaman yang dialami adalah pengalaman pahit lebih-lebih menyakitkan. Selanjutnya atas dasar pengalaman itu, tentu saja ia tidak ingin merasakan kembali hal pahit yang pernah dialaminya. Tentang hal ini kita tentu tahu bahwa tujuan akhir dari setiap langkah manusia adalah untuk didapatinya kebaikan. Hal pahit (baca:buruk) tidak pemah diharapkan. Lewat pengalaman itulah manusia mengambil pelajaran. Sementara yang terkandung dalam kategori ilmu bukan hanya pengalaman sebab pengalaman hanyalah sebagian kecil dari "Narasi Agung" ilmu pengetahuan. Narasi intelektual yang diyakini manusia dapat memberi petunjuk dan jalan keluar bagi setiap problem yang datang. Sehingga tak bisa ditawar lagi, ilmu adalah sebuah keniscayaan dalam laku kehidupan manusia. Permasalahannya, ilmu seperti apa yang bisa dipakai untuk mencapai tujuan manusia itu? Yang diharapkan tentu saja ilmu yang benar, ilmu yang mampu mengantarkan manusia pada tujuan dan kebutuhannya. Namun dalam kenyataannya, manusia mendapati dirinya dalam kekeringan, satu kondisi yang tidak dia peroleh dalam ilmu barat. Pilihan yang didasarkan pada kenyataan yang ada menuntutnya untuk menggunakan ilmu tersebut (baca: barat). Bukti tentang kegunaan ilmu yang dipakainya pun bukan tiada. Banyak manfaat telah dirasakan. Ilmu yang memberi manfaat itulah ilmu yang dipakai. Sebaliknya ilmu yang tidak bermanfaat itu akan dibuang atau ditinggalkan.
Ilmu adalah pengetahuan yang benar. Sehingga jika pengetahuan itu salah, maka jelas ia tidak dapat disebut sebagai ilmu. Ilmu yang dipahami sebagai pengalaman, maka pengalaman itu bisa disebut ilmu dengan melewati sejumlah prosedur ilmu atau metode ilmiah. Benar atau tidaknya pengalaman kita, tentu bukan tanpa dasar terlebih untuk menilai benar atau tidak suatu ilmu. Kita pun berhak untuk mengatakan pengalaman kita adalah pengalaman yang benar. Dalam kondisi seperti ini, maka kita sebetulnya telah mampu memberi sifat atau menilai sesuatu itu benar dan atau salah terhadap ilmu pengetahuan atas suatu pendasaran. Walau untuk klaim kebenaranini banyak didominasi oleh kebenaran empiris dan positivis.
Dasar konseptual tentang ilmu (Epistimologi) ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan manusia untuk didapatnya pengetahuan yang benar. Entitas manusia haruslah menjadi dasar utama untuk memilih ilmu pengetahuan yang benar. Contoh pertanyaan mudah “apakah saya akan Menggunakan ilmu Barat atau tidak” Jawabannya tentu selama ilmu barat itu baik dan mampu mengantarkan manusia pada penyelesaian masalah yang dihadapi, maka ilmu barat itu menjadi suatu pilihan untuk digunakan. Kenyataannya, tidak semua ilmu itu mampu mengantarkan manusia pada apa yang diharapkan manusia. Jika kita punya tujuan dekat dengan Tuhan, maka kita perlu alat untuk mencapai tujuan itu. Alat untuk mencapai tujuan inilah yang dinamakan sebagai ilmu. Sering kita mendapati manusia menggunakan ilmu yang dia yakini mampu menggapai tujuannya, namun yang terjadi sebaliknya. Disisi lain kita juga melihat ada orang berilmu tapi kering sisi kemanusiaannya (jiwanya), la tidak mampu dekat dengan Tuhan. Jadi bisa disimpulkan bahwa ilmu tersebut adalah ilmu yang tidak mampu dijadikan sebagai alat yang membantu bagi manusia. Secara ekstrem, ia tidak bisa disebut sebagai ilmu sebab dasar penilaian sesuatu disebut ilmu apabila sesuatu atau pengetahuan tersebut terbukti kebenarannya.
Paradigma yang sangat berbeda antara ilmu barat dengan agam,a (baca: Islam), dapat kita lihat pada banyak aspek, salah satunya pada sisi metodologi ilmu. Pertama pada sisi ontologi, ilmu barat menekankan objek ilmu pada Fenomena (sesuatu yang nampak), sementara Islam menekankan pada fenomena dan Noumena (tidak nampak). Kenyataan ini dapat kita cermati pada gagasan ilmu yang materialistic. Gagasan-gagasan ini berpusat pada kemampuan akal manusia sebagai pusat gagasan.
Contoh "gagasan tentang Tuhan", bagi mereka adalah sesuatu yang tidak bisa diseut sebagai Ilmu atau Ilmiah karena tidak bisa dibuktikan, alasannya tidak ada secara fisik. Selanjutnya gagasan tentang Tuhan (baca agama) secara tidak langsung ditempatkan sebagai gagasan yang tidak ilmiah. Disini seharusnnya terbangun dalam kesadaran kita bahwa epistimologi yang dipakai selama ini sedang menggiring manusia untuk “tidak beragama”. Ajakan halus tentang pemikiran ini dibingkai dalam gagasan sekulerisme. Rasionalisme dan materialisme belakangan ramai diperbincangkan dan dijadikan pijakan berpikirnya. Islam adalah petunjuk. Dalam Islam sangat menekankan kedudukan Ilmu. Salah satunya adalah keyakinan bahwa al-Quran adalah sumber dari segala sumber ilmu. Objek yang ada dalam Quran dalam pandangan epistimologi barat, mungkin tidak ilmiah. Contoh tentang malaikat. Paradigma ilmu barat tentu akan mempertanyakan keilmiahan malaikat. Sebab ilmu bagi pandangan barat harus bisa dibuktikan. Bisakah keberadaan malaikat dibuktikan. Umat Islam meyakini adanya malaikat yaitu meyakini adanya hal-hal yang gaib. Pertanyaannya “ apakah sesuatu yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah harus ditolak?. Jawabannya tentu tidak. Kita masih bisa meyakini adanya yang gaib (Malaikat). Akal kita mungkin tidak bisa menerima keberadaannya. Tapi? Bukankah manusia bukan hanya punya akal. Manusia punya Hati dan dengan hati inilah manusia meyakini kebenaran adanya malaikat. Seperti sudah disinggung sebelumnya, aksioma yang lahir dari debat pemikiran ini, diakhiri dengan jawaban tidak berdasar: “biarkan tentang yang gaib itu menjadi urusan agama”. Inilah saya kira awal lahirnya gagasan sekulerisme, sebuah gagasan yang ada saat gagasan tentang transendentalitas dipaksakan untuk bisa dibuktikan.
Meyakini tentang adanya yang gaib adalah ilmiah bagi umat Islam. Sebuah penilaian yang sangat paradoks dengan cara pandang barat. Cara pandang berbeda tentang sesuatu. ltulah yang saya maksud sebagai objek barat yang Empirical Oriented atau fenomenal oriented, tapi dalam Islam bukan hanya fenomena tapi juga Noumena (Metafisis). Bagimana cara melihat yang Noumena Menyangkut cara melihat, ini ada kaitannya dengan metodologi yang kedua, yaitu epistimologi yakni cara mendapatkan ilmu. Cara yang dipakai dalam ilmu Islam adalah dengan indra, akal dan hati (QS :3:191). Sementara metodologi barat cara yang dipakai dalam mendapatkan ilmu pengetahuan hanya menggunakan indra dan akal lewat proses berpikir. Yang terakhir adalah aksiologi, menyangkut kegunaan ilmu. Paradigma ilmu barat, penggalan ilmu didedikasikan untuk kepentingan ilmu itu sendiri. Sementara aksiologi dalam ajaran Islam, ilmu itu didedikasikan sebagai bekal da1am rangka menjadi khalifatullah dan sistem pengabdian kepada Allah (QS: 51:56).
Apakah untuk percaya tentang adanya kekuatan gaib (kekuatan diluar kita), harus menunggu ada alat yang bisa membuktikan dengan hasil fisik. Haruskah kita menunggu para pakar dan ahli teknolgi membuat alat yang canggih? Tidakkah kita menusia sudah memiliki alat canggih itu bahkan supercanggih yang hingga saat ini belum ada ilmuawan yang bisa membuatnnya. Alat itu supercanggih. Dengan alat itu manusia mampu menembus tembok paling tinggi lagi tebal. la mampu membaca detail bentangan ciptaan yang Maha Perkasa. la mampu memperkuat pendirian saat alam raya menunjukkan keagungannya. Tanpa mengguanakan alat bantu teknologi supercanggih, alat ini selalu dapat mengakses dan melakukan komunikasi dengan Tuhan. Dialah hati. Hati manusia adalah alat supercanggih. Ekspansi dan kesombongan manusia telah menyingkirkan perannya dalam membangun peradaban. Kecongkakkan akal manusialah yang telah lama meminggirkannya. Hati, ia adalah altematif. Disaat manusia disuguhkan banyak tawaran. Hati adalah sebuah keniscayaan saat ilmu dan peradaban hendak didirikan. Epistimologi Alternatif adalah kesadaran tentang potensi insaniah. Bukan hanya akal yang dipunya manusia. Manusia juga punya hati yang mampu mengukur tentang segala sesuatu yang ada dihadapannya.
Epistimologi yang saya kaitkan dengan soal transendentalitas berupaya membongkar kesombongan intelektual yang lupa dengan nilai religius. Epistimologi transenden adalah gagasan yang menyodorkan sisi dasar manusia yang utama, untuk selanjutnya menjadi bagian dalam proyek pembangunan ilmu pengetahuan yang mampu menjadikan manusia sadar dan dekat pada Allah SWT. Mungkinkah itu ada dalam epistimologi kaum sufi yang tak membutuhkan atau tak mengahruskan rasionalisme untuk mendekatkan diri pada Tuhan.



[2] Louay Safi, Ancangan Metodologi Alternatif: Sebuah Refleksi Perbandingan Metode Penelitian Islam dan Barat. (Yogyakarta, PT Tiara Wacana Yogya. 2010).
[3] Muhsin Labib. Pemikiran Filsafat Muhammad Taqi’ Misbah Yazdi, (Jakarta. Shadra Press. 2003)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar