FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
Problem besar dalam ilmu saat
ini adalah saat peran ilmu sebagai sarana manusia menggapai tujuannya tidak
berjalan dengan baik. Ada problem besar di tingkat epistimologi yaitu struktur
di dalam bangunan ilmu yang mengurai asal-mula ilmu[1]. Epistimologi kita belum mampu menjawab secara memuaskan
tentang bagaimana transendentalitas dapat dijabarkan. Epistimologi kita juga
belum mampu mengakomodasi objek-objek transenden sebagai sasaran kaji ilmu.
Contoh, ada orang yang memandang agama sebagai ilmu, disaat yang sama orang
tidak menerima agama itu sebagai ilmu, contohnya transendentalitas Tuhan. Maka
yang terjadi, Epistimologi tidak pernah berpihak secara “fair” pada aspek
ke-Tuhanan. Padahal, transendentalitas adalah unsur yang sangat fundamental
dalam keberkeyakinan kita. Louay Safi
menyebut kondisi ini dengan penyingkiran wahyu dari wilayah ilmu.[2] Padahal,
transendentalitas adalah aspek yang sangat fundamental dalam berkeyakinan. Ketidakmampuan epistimologi dalam menjawab problem
transendentalitas ini harus segera disadari sebagai problem besar peradaban.
Selanjutnya problem ini mendapatkan jawabannya agar seluruh dimensi dasar
manusia tentang Tuhan mendapat argumentasi dan dasar ilmiah. Sebab beragama
atau ber-Tuhan adalah perilaku yang memiliki mekanisme yang jelas dalam ilmu
pengetahuan. Mekanisme yang dimaksud adalah metode ilmiah.
Sudahkah transendentalitas
dapat dikaji secara ilmiah tapi mengandalkan metode barat selama ini sangat
tidak memuaskan. Inilah wacana dasar yang ingin penulis sampaikan dalam pondsi
keilmuan kita. Aspek dasar dalam ilmu pengetahuan yang selama ini adalah aspek
transendentalitas.
Struktur ilmu pengetahuan umunya terbentuk dari olah pikir manusia dalam bingkai problematika peradaban di zamannya. Pertanyaan pertama yang perlu diajukan terkait dengan ilmu adalah
“Sudahkah ilmu membantu manusia untuk meniti tahapan-tahapan sejarah menuju
tujuan akhirnya. Yang sering kita temukan adalah manusia yang kaya dengan ilmu
tapi kering dari nilai sebagai manusia terlebih dirinya di hadapan tuhan, Yang Maha
Pencipta (menurut mereka yang berpijak pada paradigma agama). Ilmu adalah alat
bagi manusia. la menjadi pedoman dalam setiap langkahnya. Manusia tidak bisa
terlepas dari adanya ilmu. Ada tiga hal pokok dalam teori ilmu, yang pertama
Ontologi yang berarti apa itu ilmu, kedua epistimologi yang berarti bagaimana
ilmu itu didapat dan yang ketiga adalah aksiologi yang menunjukkan untuk apa
(atau kegunaan ilmu). Pembahasan tentang ilmu biasanya terfokus pada pembahasan
epistimologi yaitu bidang ilmu yang membahas pengetahuan manusia.[3] Dari mana ilmu didapat, bagaimana prosesnya, metodenya bagaimana
adalah hal-hal yang dijangkau dalam epistimologi. Intinya epistimologi dapat
dipahami sebagai cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.
Pembahasan mengenai
epistimologi menjadi hal penting bahkan sangat penting, saat dominasi paradigma
atau pemikiran barat tentang ilmu begitu “angkuhnya” bertengger diatas bangunan ilmu. Bahkan ukuran tingginya suatu peradaban
seringkali ditentukan atas dasar filsafat ilmu pengetahuan yang dibangunnya. Epistimologi yang terfokus pada aspek transenden
berupaya mengukuhkan gagasan epistimologi dalam wilayah agama. Karena selama
ini telah lahir sebuah pengingkaran Ilmu terhadap agama, dan hal itu pula yang
menyebabkan agama tak mampu menyentuh atau enggan berfilsafat. Epistimologi ini
sebetulnya tidak perlu muncul atau dimunculkan seandainya gagasan tentang ilmu
ini (epistimologi) yang berlaku saat ini mampu menjawab problem besar ilmu
pengetahuan. Kenyataan yang ada sebaliknya epistimologi yang ada tidak mampu mengakomodir (untuk tidak mengatkan dijadikan alas
an) menolak gagasan transendentalitas (baca: Tuhan). Ilmu barat yang hari ini kita lihat dan menghujam di
tengah peradaban, telah banyak meninggalkan tanya yang tak kunjung berjawab
disaat problema kemanusian yang makin kompleks. Disana ada yang hilang dari
sisi manusia. Ada nilai yang disingkirkan, padahal nilai tersebut begitu lekat
dalam manusia. Radikalisme dalam paradigma atau perspektif ilmu barat telah
banyak melahirkan gagasan-gagasan sekuler yang terbukti kering dan menjauhkan
manusia dari hakikatnya yang tauhidi (nilai religius). Saat ilmu dipandang
dalam perspektif ini (barat), yang lahir adalah gagasan-gagasan yang berdasar
pada otoritas manusia (anthroposentris). Pengalaman the dark age di Eropa
dijadikan dasar untuk menolak konsep-konsep yang teologis (agama). selanjutnya mucullah gagasan-gagasan yang
mendasarkan struktur ilmunya pada rasionalitas dan kemampuan berpikir manusia.
Kalau ilmu itu bemama
pengalaman, maka pengalaman meninggalkan pesan berharga untuk selanjutnya
menentukan langkah tepat kedepan. Bisa jadi pengalaman yang dialami adalah
pengalaman pahit lebih-lebih menyakitkan. Selanjutnya atas dasar pengalaman
itu, tentu saja ia tidak ingin merasakan kembali hal pahit yang pernah
dialaminya. Tentang hal ini kita tentu tahu bahwa tujuan akhir dari setiap
langkah manusia adalah untuk didapatinya kebaikan. Hal pahit (baca:buruk) tidak
pemah diharapkan. Lewat pengalaman itulah manusia mengambil pelajaran.
Sementara yang terkandung dalam kategori ilmu bukan hanya pengalaman sebab pengalaman
hanyalah sebagian kecil dari "Narasi
Agung" ilmu pengetahuan. Narasi intelektual yang diyakini manusia
dapat memberi petunjuk dan jalan keluar bagi setiap problem yang datang. Sehingga
tak bisa ditawar lagi, ilmu adalah sebuah keniscayaan dalam laku kehidupan
manusia. Permasalahannya, ilmu seperti apa yang bisa dipakai untuk mencapai
tujuan manusia itu? Yang diharapkan tentu saja ilmu yang benar, ilmu yang mampu
mengantarkan manusia pada tujuan dan kebutuhannya. Namun dalam kenyataannya,
manusia mendapati dirinya dalam kekeringan, satu kondisi yang tidak dia peroleh
dalam ilmu barat. Pilihan yang didasarkan pada kenyataan yang ada menuntutnya
untuk menggunakan ilmu tersebut (baca: barat). Bukti tentang kegunaan ilmu yang
dipakainya pun bukan tiada. Banyak manfaat telah dirasakan. Ilmu yang memberi
manfaat itulah ilmu yang dipakai. Sebaliknya ilmu yang tidak bermanfaat itu
akan dibuang atau ditinggalkan.
Ilmu adalah pengetahuan yang
benar. Sehingga jika pengetahuan itu salah, maka jelas ia tidak dapat disebut
sebagai ilmu. Ilmu yang dipahami sebagai pengalaman, maka pengalaman itu bisa
disebut ilmu dengan melewati sejumlah prosedur ilmu atau metode ilmiah. Benar
atau tidaknya pengalaman kita, tentu bukan tanpa dasar terlebih untuk menilai
benar atau tidak suatu ilmu. Kita pun berhak untuk mengatakan pengalaman kita
adalah pengalaman yang benar. Dalam kondisi seperti ini, maka kita sebetulnya
telah mampu memberi sifat atau menilai sesuatu itu benar dan atau salah
terhadap ilmu pengetahuan atas suatu pendasaran. Walau untuk klaim kebenaranini
banyak didominasi oleh kebenaran empiris dan positivis.
Dasar konseptual tentang ilmu
(Epistimologi) ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan manusia untuk didapatnya
pengetahuan yang benar. Entitas manusia haruslah menjadi dasar utama untuk
memilih ilmu pengetahuan yang benar. Contoh pertanyaan mudah “apakah saya akan
Menggunakan ilmu Barat atau tidak” Jawabannya tentu selama ilmu barat itu baik
dan mampu mengantarkan manusia pada penyelesaian masalah yang dihadapi, maka
ilmu barat itu menjadi suatu pilihan untuk digunakan. Kenyataannya, tidak semua
ilmu itu mampu mengantarkan manusia pada apa yang diharapkan manusia. Jika kita
punya tujuan dekat dengan Tuhan, maka kita perlu alat untuk mencapai tujuan
itu. Alat untuk mencapai tujuan inilah yang dinamakan sebagai ilmu. Sering kita
mendapati manusia menggunakan ilmu yang dia yakini mampu menggapai tujuannya,
namun yang terjadi sebaliknya. Disisi lain kita juga melihat ada orang berilmu
tapi kering sisi kemanusiaannya (jiwanya), la tidak mampu dekat dengan Tuhan.
Jadi bisa disimpulkan bahwa ilmu tersebut adalah ilmu yang tidak mampu
dijadikan sebagai alat yang membantu bagi manusia. Secara ekstrem, ia tidak
bisa disebut sebagai ilmu sebab dasar penilaian sesuatu disebut ilmu apabila
sesuatu atau pengetahuan tersebut terbukti kebenarannya.
Paradigma yang sangat berbeda
antara ilmu barat dengan agam,a (baca: Islam), dapat kita lihat pada banyak
aspek, salah satunya pada sisi metodologi ilmu. Pertama pada sisi ontologi, ilmu barat menekankan objek ilmu pada Fenomena (sesuatu
yang nampak), sementara Islam menekankan pada fenomena dan Noumena (tidak
nampak). Kenyataan ini dapat kita cermati pada gagasan ilmu yang materialistic.
Gagasan-gagasan ini berpusat pada kemampuan akal manusia sebagai pusat gagasan.
Contoh "gagasan tentang
Tuhan", bagi mereka adalah sesuatu yang tidak bisa diseut sebagai
Ilmu atau Ilmiah karena tidak bisa dibuktikan, alasannya tidak ada secara
fisik. Selanjutnya gagasan tentang Tuhan (baca agama) secara tidak langsung
ditempatkan sebagai gagasan yang tidak ilmiah. Disini seharusnnya terbangun
dalam kesadaran kita bahwa epistimologi yang dipakai selama ini sedang
menggiring manusia untuk “tidak beragama”. Ajakan halus tentang pemikiran ini
dibingkai dalam gagasan sekulerisme. Rasionalisme dan materialisme belakangan
ramai diperbincangkan dan dijadikan pijakan berpikirnya. Islam adalah petunjuk.
Dalam Islam sangat menekankan kedudukan Ilmu. Salah satunya adalah keyakinan
bahwa al-Quran adalah sumber dari segala sumber ilmu. Objek yang ada dalam
Quran dalam pandangan epistimologi barat, mungkin tidak ilmiah. Contoh tentang
malaikat. Paradigma ilmu barat tentu akan mempertanyakan keilmiahan malaikat.
Sebab ilmu bagi pandangan barat harus bisa dibuktikan. Bisakah keberadaan
malaikat dibuktikan. Umat Islam meyakini adanya malaikat yaitu meyakini adanya
hal-hal yang gaib. Pertanyaannya “ apakah sesuatu yang tidak bisa dibuktikan
secara ilmiah harus ditolak?. Jawabannya tentu tidak. Kita masih bisa meyakini
adanya yang gaib (Malaikat). Akal kita mungkin tidak bisa menerima
keberadaannya. Tapi? Bukankah manusia bukan hanya punya akal. Manusia punya
Hati dan dengan hati inilah manusia meyakini kebenaran adanya malaikat. Seperti
sudah disinggung sebelumnya, aksioma yang lahir dari debat pemikiran ini,
diakhiri dengan jawaban tidak berdasar: “biarkan tentang yang gaib itu menjadi
urusan agama”. Inilah saya kira awal lahirnya gagasan sekulerisme, sebuah
gagasan yang ada saat gagasan tentang transendentalitas dipaksakan untuk bisa
dibuktikan.
Meyakini tentang adanya yang
gaib adalah ilmiah bagi umat Islam. Sebuah penilaian yang sangat paradoks
dengan cara pandang barat. Cara pandang berbeda tentang sesuatu. ltulah yang
saya maksud sebagai objek barat yang Empirical
Oriented atau fenomenal oriented, tapi dalam Islam
bukan hanya fenomena tapi juga Noumena (Metafisis). Bagimana cara melihat yang
Noumena Menyangkut cara melihat, ini ada kaitannya dengan metodologi yang
kedua, yaitu epistimologi yakni cara mendapatkan ilmu. Cara yang dipakai dalam
ilmu Islam adalah dengan indra, akal dan hati (QS :3:191). Sementara metodologi
barat cara yang dipakai dalam mendapatkan ilmu pengetahuan hanya menggunakan
indra dan akal lewat proses berpikir. Yang terakhir adalah aksiologi,
menyangkut kegunaan ilmu. Paradigma ilmu barat, penggalan ilmu didedikasikan
untuk kepentingan ilmu itu sendiri. Sementara aksiologi dalam ajaran Islam,
ilmu itu didedikasikan sebagai bekal da1am rangka menjadi khalifatullah dan sistem
pengabdian kepada Allah (QS: 51:56).
Apakah untuk percaya tentang adanya
kekuatan gaib (kekuatan diluar kita), harus menunggu ada alat yang bisa
membuktikan dengan hasil fisik. Haruskah kita menunggu para pakar dan ahli
teknolgi membuat alat yang canggih? Tidakkah kita menusia sudah memiliki alat
canggih itu bahkan supercanggih yang hingga saat ini belum ada ilmuawan yang
bisa membuatnnya. Alat itu supercanggih. Dengan alat itu manusia mampu menembus
tembok paling tinggi lagi tebal. la mampu membaca detail bentangan ciptaan yang
Maha Perkasa. la mampu memperkuat pendirian saat alam raya menunjukkan
keagungannya. Tanpa mengguanakan alat bantu teknologi supercanggih, alat ini
selalu dapat mengakses dan melakukan komunikasi dengan Tuhan. Dialah hati. Hati
manusia adalah alat supercanggih. Ekspansi dan kesombongan manusia telah menyingkirkan
perannya dalam membangun peradaban. Kecongkakkan akal manusialah yang telah
lama meminggirkannya. Hati, ia adalah altematif. Disaat manusia disuguhkan
banyak tawaran. Hati adalah sebuah keniscayaan saat ilmu dan peradaban hendak
didirikan. Epistimologi Alternatif adalah kesadaran tentang potensi insaniah.
Bukan hanya akal yang dipunya manusia. Manusia juga punya hati yang mampu
mengukur tentang segala sesuatu yang ada dihadapannya.
Epistimologi yang saya kaitkan dengan soal transendentalitas berupaya membongkar kesombongan intelektual yang lupa dengan nilai
religius. Epistimologi transenden adalah gagasan yang menyodorkan sisi dasar
manusia yang utama, untuk selanjutnya menjadi bagian dalam proyek pembangunan
ilmu pengetahuan yang mampu menjadikan manusia sadar dan dekat pada Allah SWT.
Mungkinkah itu ada dalam epistimologi kaum sufi yang tak membutuhkan atau tak
mengahruskan rasionalisme untuk mendekatkan diri pada Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar