Selasa, 29 Maret 2016

KARAKTER BANGSA



KARAKTER BANGSA


Angin kuat yang pernah dan kini masih berhembus kuat dalam penyelenggaraan pendidikan kita adalah  upaya Pembentukan Karakter bangsa (Nation Character Building). Saya sebut hembusan sebab setiap saat dan setiap waktu diskusi dan ruang guru menyebut-nyebut istilah itu sebagai pembicaraan utama di sela dan juga di waktu-waktu utama Dan kenyataannya hembusan itu hanya menjadi kegetiran dan kegelisahan tentang nasib kebangsaan yang tak kunjung selesai. Karakter yang diharapkan belum juga mewujud menjadi kenyataan. Ia masih menjadi angan-angan dan mimpi.
Nation Chracter Building yang dimaksud Ernest Renant tentu dalam kontek kebangsaan dan lebih menekankan pada aspek Integritas kebangsaan. Alias persatuan dan kesatuan.[1]
Disini bisa dikembangkan menjadi aspek-aspek Sikap dan kepribadian yaitu keaslian karakter Indonesia Setelah lama merdeka Pendidikan Indonesia sudah semestinya mampu mewujudkan upaya pembentukan karakter bangsa yaitu pribadi-pribadi yang cerdas, trampil dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Karenanya upaya menuju pembentukan karakter bangsa tersebut sangat ditentukan lewat proses pembelajaran yang dikelola secara serius. Kedepan pemerintah atau dalam hal ini lembaga terkait dituntut lebih baik dan lebih serius dalam upaya pembentukan karakter tersebut.
Hasil pendidikan yang digapai selama ini belum mampu maksimal mengelola wilayah pembentukan karakter bangsa. Sebaliknya bangsa Indonesia malah telah lupa dengan nilai-nilai kebangsaan. Tidak sedikiti anak bangsa lupa dengan lagu kebangsaannya. Atau sila-sila dalam pancasila tak mampu menyebutkannya. Masih banyak dan sering kita dengar dan saksikan di layar televisi adanya aksi tawuran pelajar ataupun tawuran antar kampung yang disebabkan oleh hal-hal sepele tapi masyarakat mudah merespon dan timbullah kerusuhan. Penyerobotan tanah, pengusiran paksa pihak pemerintah atas rumah-rumah purnawirawan. Atau aksi kerusuhan daerah menunjukkan betapa negeri telah kehilangan identitasnya sendiri tak mampu berdiri tegak di atas tanah sendiri.
Pembentukan karakter bangsa adalah upaya sadar negara dalam rangka membangun sikap kebangsaan yang kuat terutama dalam aspek-aspek berketuhanan, berbudi pekerti serta memiliki ketrampilan. Hal ini senada dengan cita-cita pendidikan yaitu untuk membentuk manusia seutuhnya. Bukan manusia robot alias pinter tapi keblinger. Bukan yang bisa berkarya hebat namun karyanya untuk bangsa lain.
 Karakter berasal dari bahasa Ingris Character yang artinya sikap atau pola. Sehingga dalam pengertian ini yang dimaksud dalam hal ini berarti aspek kemanusiaan atau aspek potensi dalam diri seseorang yang terkait dengan potensi moral, sikap, disiplin, bekerja keras dan lain sebagainya. Dimana dengan karakter itu membedakan bnangsa itu dengan bangsa lain sebab karakter bangsa dibangun dari kultur yang membentuknya.
Pancasila sebagai simbol pemersatu pun dipertanyakan? Esensi pancasila sebagai sebuah nilai pemersatu telah digeser fungsinya. Banyak orang tidak menyadari sejarah dan esensi kelahiran pancasila dalam proses kebangsaan sehingga orang lebih menilai ini pancasila sebagai idiologi tanpa dasar. Proses kebangsaan yang panjang, isu kebangsaan dan hilangnya rasa nasionalisme mewarnai perjalanan bangsa ini. Tantangan kebangsaan selalu sama hanya kulit luarnya yang berbeda. Badai terpaan globalisasi mengikis habis esensi kebangsaan dan kebudayaan kita. Bangsa yang relijius seolah hanya menjadi logo semata dan tidak sama dengan kenyataan yang ada di lapangan.
Di tengah kengerian tentang hilangnya karakter itu masih ada setitik harapan dan benih-benih nasionalisme. Masih jelas teringat di pemikiran kita bagaimana reaksi atas kekalahan bangsa Indonesia dalam perundingan memperebutkan pulau Sipadan dan Ligitan. Masih membekas dalam ingatan kita bagaimana laskar betawai siap membela negeri ini dan seluruh rakyat akan rela berkorban demi harga diri bangsa saat Ambalat juga akan dianeksasi Malaysia.
Dalam bidang olah raga pun terlihat sangat nyata bibit-bibit nasionalisme dalam semanagt duta bangsa Tim nasional dalam berjibaku memenangkan pertandingan sepak bola melawan negara lain termasuk malaisia atau negara asia lainnya. Euforia sepak bola setidaknya menggema bagai ajakan Bung karno atau Bung Tomo dengan pekik Allohu Akbar dengan tekat mengusir penjajah ari bumi Nusantara. Satu tujuannya menjadi negara yang berdaulat dan dihormati bangsa lain. Bukan bangsa pecundang yang selalu kalah atau dikalahkan bahkan dipermalukan. Lebih baik mati dari pada harus menanggung malu. Kasus kekerasan terhadap tenaga kerja Indonesia bukan berita baru. Telah sangat banyak berita penganiayaan dan penyiksaan terhadap tenaga kerja Indonesia di malaysia. Tapi bangsa atau dalam hal ini pemerintah sepertinya masih terkesan santai dalam penyelesaiannya. Bahkan tanpa ketegasan menyelesaikan persolan. Bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang kuat dan tangguh untuk mampu membawa karakter dan memberi contoh yang sebenarnya tentang bagaimana karakter bangsa Indonesai yang sesungguhnya.
Pendidikan memegang peranan sentral dalam upaya pembanguan Karakter bangsa. Pendidikan harus mampu mencetak generasi yang memililiki nilai kebangsaan dan konteks keindonesian yang kental dengan nilai relijius maka  pendidikan berfokus pada nilai keagamaan yang kuat. Meskipun sesungguhnya tema tentang karakter bangsa sesungguhnya sudah sangat lama. Namun bukan berarti sudah selesai atau tidak perlumengangkat tema karakter bangsa. Sebab sudah lama atau baru saja aa program itu bukan itu persoalannya. Persoalan utama terletak pada  eralitas karakter yang hingga hari ini tidak nampak dalam hasil belajar anak didik kita. Realitas sosial memperlihatkan situasi yang sama. Artinay sama-sama memprihatinkan. Sehingga gerakan ini akan menjadi gerakan masive kebangsaan. Pemerintah berperan sebagai inisiator dan penggerak utama perubahan atau gerakan pembentukan karakter bangsa tersebut dengan contoh nayat dari para pejabat.
Ujung tombaknya adalah guru. Karenanya pengembangan karakter kebangsaan sangat ditentukan juga oleh guru  sebab guru berperan sebagai pelaksana di garis terdepan proses pembelajaran. Kompetensi pendidik yaitu Pedagogik, Sosial, Profesional, Kepribadian. Tupoksi, mencanagkan pembelajaran –silabus dan RPP dan lain. 2 melaksanakan pembelajaran. 3 Evaluasi-evaluasi dan pengukuran.
Di sisi lain, pemerintah sebagai penentu kebijakan dan pihak yang sesungguhnya paling berkepentingan dengan adanya pendidikan ini menyadari esensi dan kedudukannya. Kecuali jika pemerintah merasa tidak penting adanya pendidikannya itu sebagai pengokoh kesatuan kebangsaan. Seharusnya pemerintah menyadari hal ini dan tidak membiarkan pendidikan berjalan tanpa arah (salah arah). Mengembara kemana-mana tanpa sistem dan kekokohan kurikulum yang hanya mendompleng pda pemikiran luar yang tidak memahamai atau nahkan bertentangan dengan idiologi pendidikan sendiri


[1] Pantjasila, Isi tetang Pidato Soekarno tentang Pancasila dan Keindonesiaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar