KARAKTER BANGSA
Angin kuat yang pernah dan kini masih berhembus kuat dalam
penyelenggaraan
pendidikan kita adalah upaya Pembentukan Karakter
bangsa (Nation Character Building). Saya sebut
hembusan sebab setiap saat dan setiap waktu diskusi dan ruang guru menyebut-nyebut
istilah itu sebagai pembicaraan utama di sela dan juga di waktu-waktu utama Dan
kenyataannya hembusan itu hanya menjadi kegetiran dan kegelisahan tentang nasib
kebangsaan yang tak kunjung selesai. Karakter yang diharapkan belum juga
mewujud menjadi kenyataan. Ia masih menjadi angan-angan dan mimpi.
Nation
Chracter Building yang dimaksud Ernest Renant tentu dalam kontek kebangsaan dan
lebih menekankan pada aspek Integritas kebangsaan. Alias persatuan dan
kesatuan.[1]
Disini
bisa dikembangkan menjadi aspek-aspek Sikap dan kepribadian yaitu keaslian
karakter Indonesia Setelah lama merdeka Pendidikan Indonesia
sudah semestinya mampu mewujudkan upaya pembentukan karakter bangsa yaitu
pribadi-pribadi yang cerdas, trampil dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa.
Karenanya upaya menuju pembentukan karakter bangsa tersebut sangat ditentukan
lewat proses pembelajaran yang dikelola secara serius. Kedepan pemerintah atau dalam
hal ini lembaga
terkait dituntut lebih baik dan lebih serius dalam upaya
pembentukan karakter tersebut.
Hasil pendidikan yang digapai selama ini belum mampu
maksimal mengelola wilayah pembentukan karakter bangsa. Sebaliknya bangsa
Indonesia malah telah lupa dengan nilai-nilai kebangsaan. Tidak sedikiti anak
bangsa lupa dengan lagu kebangsaannya. Atau sila-sila dalam pancasila tak mampu
menyebutkannya. Masih banyak dan sering kita dengar dan saksikan di layar
televisi adanya aksi tawuran pelajar ataupun tawuran antar kampung yang
disebabkan oleh hal-hal sepele tapi masyarakat mudah merespon dan timbullah
kerusuhan. Penyerobotan tanah, pengusiran paksa pihak pemerintah atas
rumah-rumah purnawirawan. Atau aksi kerusuhan daerah menunjukkan betapa negeri
telah kehilangan identitasnya sendiri tak mampu berdiri tegak di atas tanah
sendiri.
Pembentukan karakter bangsa adalah upaya sadar negara
dalam rangka membangun sikap kebangsaan yang kuat terutama dalam aspek-aspek berketuhanan, berbudi pekerti serta memiliki
ketrampilan. Hal ini senada dengan cita-cita pendidikan yaitu untuk membentuk
manusia seutuhnya.
Bukan manusia robot alias pinter tapi keblinger. Bukan yang bisa berkarya hebat
namun karyanya untuk bangsa lain.
Karakter berasal
dari bahasa Ingris Character yang
artinya sikap atau pola. Sehingga dalam pengertian ini yang dimaksud dalam hal
ini berarti aspek kemanusiaan atau aspek potensi dalam diri seseorang yang
terkait dengan potensi moral, sikap, disiplin, bekerja keras dan lain
sebagainya. Dimana dengan karakter itu membedakan bnangsa itu dengan bangsa
lain sebab karakter bangsa dibangun dari kultur yang membentuknya.
Pancasila sebagai simbol pemersatu pun dipertanyakan?
Esensi pancasila sebagai sebuah nilai pemersatu telah digeser fungsinya. Banyak
orang tidak menyadari sejarah dan esensi kelahiran pancasila dalam proses
kebangsaan sehingga orang lebih menilai ini pancasila sebagai idiologi tanpa
dasar. Proses kebangsaan yang panjang, isu kebangsaan dan hilangnya rasa
nasionalisme mewarnai perjalanan bangsa ini. Tantangan kebangsaan selalu sama
hanya kulit luarnya yang berbeda. Badai terpaan globalisasi mengikis habis
esensi kebangsaan dan kebudayaan kita. Bangsa yang relijius seolah hanya
menjadi logo semata dan tidak sama dengan kenyataan yang ada di lapangan.
Di tengah kengerian tentang hilangnya karakter itu masih
ada setitik harapan dan benih-benih nasionalisme. Masih jelas teringat di
pemikiran kita bagaimana reaksi atas kekalahan bangsa Indonesia dalam perundingan
memperebutkan pulau Sipadan dan Ligitan. Masih membekas dalam ingatan kita
bagaimana laskar betawai siap membela negeri ini dan seluruh rakyat akan rela
berkorban demi harga diri bangsa saat Ambalat juga akan dianeksasi Malaysia.
Dalam bidang olah raga pun terlihat sangat nyata
bibit-bibit nasionalisme dalam semanagt duta bangsa Tim nasional dalam
berjibaku memenangkan pertandingan sepak bola melawan negara lain termasuk
malaisia atau negara asia lainnya. Euforia sepak bola setidaknya menggema bagai
ajakan Bung karno atau Bung Tomo dengan pekik Allohu Akbar dengan tekat
mengusir penjajah ari bumi Nusantara. Satu tujuannya menjadi negara yang
berdaulat dan dihormati bangsa lain. Bukan bangsa pecundang yang selalu kalah
atau dikalahkan bahkan dipermalukan. Lebih baik mati dari pada harus menanggung
malu. Kasus kekerasan terhadap tenaga kerja Indonesia bukan berita baru. Telah
sangat banyak berita penganiayaan dan penyiksaan terhadap tenaga kerja
Indonesia di malaysia. Tapi bangsa atau dalam hal ini pemerintah sepertinya
masih terkesan santai dalam penyelesaiannya. Bahkan tanpa ketegasan
menyelesaikan persolan. Bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang kuat dan
tangguh untuk mampu membawa karakter dan memberi contoh yang sebenarnya tentang
bagaimana karakter bangsa Indonesai yang sesungguhnya.
Pendidikan memegang peranan sentral dalam upaya
pembanguan Karakter bangsa. Pendidikan harus mampu mencetak generasi yang
memililiki nilai kebangsaan dan konteks keindonesian yang kental dengan
nilai relijius maka pendidikan berfokus
pada nilai keagamaan yang kuat. Meskipun sesungguhnya tema tentang
karakter bangsa sesungguhnya sudah sangat lama. Namun bukan berarti sudah
selesai atau tidak perlumengangkat tema karakter bangsa. Sebab sudah lama atau
baru saja aa program itu bukan itu persoalannya. Persoalan utama terletak
pada eralitas karakter yang hingga hari
ini tidak nampak dalam hasil belajar anak didik kita. Realitas sosial
memperlihatkan situasi yang sama. Artinay sama-sama memprihatinkan. Sehingga
gerakan ini akan menjadi gerakan masive kebangsaan. Pemerintah berperan sebagai
inisiator dan penggerak utama perubahan atau gerakan pembentukan karakter
bangsa tersebut dengan contoh nayat dari para pejabat.
Ujung tombaknya adalah guru. Karenanya pengembangan karakter
kebangsaan sangat ditentukan
juga oleh guru sebab guru berperan sebagai
pelaksana
di garis terdepan proses pembelajaran.
Kompetensi pendidik yaitu Pedagogik, Sosial, Profesional, Kepribadian. Tupoksi,
mencanagkan pembelajaran –silabus dan RPP dan lain. 2 melaksanakan
pembelajaran. 3 Evaluasi-evaluasi dan pengukuran.
Di sisi lain, pemerintah sebagai penentu
kebijakan dan pihak yang sesungguhnya paling berkepentingan dengan
adanya pendidikan ini menyadari esensi dan kedudukannya. Kecuali jika pemerintah
merasa tidak penting adanya pendidikannya itu sebagai pengokoh kesatuan kebangsaan. Seharusnya pemerintah menyadari
hal ini dan tidak membiarkan pendidikan berjalan tanpa arah (salah arah).
Mengembara kemana-mana tanpa sistem dan kekokohan kurikulum yang hanya
mendompleng pda pemikiran luar yang tidak memahamai atau nahkan bertentangan
dengan idiologi pendidikan sendiri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar