Selasa, 29 Maret 2016

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL



      
Beberapa tahun lalu, pendidikan Indonesia dihebohkan dengan karya kreatif anak SMK di Solo yang telah membuat mobil kiat esemka. Walaupun belum lulus uji emisi dan tak terdenar lagi bagaimana kabarnya. Karya kreatif ini memicu sekolah lain bahkan universitas melakukan hal yang sama. Sebagian sekolah yang lain itu mengkliam telah lama membuat Mobil Kreatif buatan sendiri tersebut, hanya karya mereka tidak terekspos media.
Dalam konteks pembelajaran, anak-anak SMK itu tak perlu lagi bertanya apa artinya belajar materi  “Luas Lingkaran” sebab mereka sudah merasakan arti atau manfaat materi “Luas Lingkaran” itu  saat mereka membuat spare part roda di mobil karyanya. Mereka telah merasakan bahwa proses pembelajaran yang telah ditempuhnya tidaklah sia-sia, pembelajaran yang telah mereka lakukan telah memberinya makna. Inilah sisi mendasar yang mesti disadari bagaimana guru dapat merancang pembelajaran yang benar-benar bermakna.
Pembelajaran bermakna adalah tujuan dari narasi besar kegiatan pembelajaran yang disebut inovasi. Inovasi apapun yang dilakukan oleh guru tentu akan diapresiasi sebagai produktifitas dalam pembelajaran. Artinya ada sesuatu yang diupayakan demi peningkatan proses pembelajaran. Inovasi adalah adalah karya guru sehingga dengan inovasi tersebut kelas pembelajarannya menjadi menarik dan tidak membosankan. Belajar tidak harus dalam kelas tapi dapat dilakukan diluar kelas (Learning Out Door). Itu adalah satu bentuk inovasi pembelajaran dengan segala variasi yang bisa dikembangkan. Masih banyak metode dan ide-ide kreatif lain yang mampu memicu motivasi dalam pembelajaran.
          Senada dengan semangat inovasi pembelajaran tersebut, Elaine B. Johnson, penulis buku Contextual Teaching Learning menyuguhkan konsep Pembelajaran Kontekstual. Contekstual Teaching Learning adalah konsep pembelajaran yang mengandaikan pembelajaran sebagai sebuah proses memahami sesuatu yang nyata, bukan materi yang mengawang-awang. Saya menyederhanakan konsep ini dengan istilah Pembelajaran Kontekstual. Dengan konsep ini, materi-materi yang diajarkan bisa dikontekstualisasikan dengan kondisi yang sebenarnya. Bukan materi yang hanya dihafal yang hanya menyentuh aspek kognitif peserta didik semata dan masih menyisakan dua ranah lain yang juga sangat penting dalam capain pendidikan kita.
          Ada beberapa asumsi yang melatar belakangi mengapa Contextual Teaching Learning atau pembelajaran kontekstual ini penting dilakukan. Pertama, adanya kelas tradisional yang masih menyisakan sisi negatif . Kelas ini dinilai kurang memberi ruang untuk kreatifitas anak. Kelas tradisional hanya meyakini pembelajaran dari satu arah, teacher oriented, artinya guru sebagai pusat pembelajaran  Sementara dalam pembelajaran kontekstual ini diyakini sebuah anggapan bahwa setiap anak bisa berkembang dengan gaya dan potensinya masing dengan cara pengelolaan pembelajaran. Metode pembelajaran kontekstual sangat memungkinan variasi sehingga membuat anak tidak jenuh.
          Kedua, asumsi yang mendasarkan pada konteks (suasana atau ruang lingkup) yang ada di sekitarnya. Asumsi ini menuntut kecerdasan guru dalam melihat realitas konteks yaitu lingkungan social, politik dan budaya sebagai sumber utama inovasi ini. Maka seorang guru dalam metode Contextual Teaching Learning (CTL) dituntut untuk selalu meng-up-date pengetahuan dan wawasannya tentang situasi lingkungan sosialnya sebab dengan pengetahuan guru akan lingkungannya itu akan menjadi modal pembelajaran.
Bentuk  lain penerapan pembelajaran kontekstual misalnya, kelas kita bisa dimodifikasi sebagai ajang kompetisi Cerdas Cermat dengan men-setting ruang kelas kita menjadi ruang Perlombaan Cerdas Cermat layaknya Cerdas Cermat di TV. Guru bisa menjadi sutradara, nara sumber atau juri dalam cerdas cermat itu. Supaya tidak terkesan seolah guru yang bekerja sendiri, libatkan anak dalam merancang perlombaan itu, dengan begitu kita justru telah merangsang potensi lain dalam diri anak didik, misalnya inisiatif, leadership dan kreatifitas anak.
          Bentuk-bentuk inovasi CTL yang lain misalnya anak dapat membuat film dokumenter atau kunjungan ke suku pedalaman Badui, kunjungan ke Museum-museum Sejarah untuk pembelajaran sejarah. Anak juga bisa melakukan kajian perpustakaan dengan modul yang telah disediakan guru untuk pembelajaran bahasa dan sastra. Ajak anak kita untuk melakukan praktek membuat suatu karya yang terkait dengan mata pelajarannya masing-masing sebab pembelajaran kontekstual justru sangat mendorong lahirnya karya-karya kreatif yang muncul dari peserta didik itu sendiri sebagaimana yang diperlihatkan murid-murid SMK Solo dengan Kiat Esemka-nya.
Kapan suatu pembelajaran itu masuk kategori pembelajaran kontekstual.? Adalah pertanyaan yang ingin memberikan petunjuk bahwa proses pembelajaran kontekstual selalu berusaha menyuguhkan pembelajaran yang menarik dan mengadung makna yang lebih mengena dan mendalam.
 Selama pembelajaran itu dirancang atau dikontekstualisasikan dengan potensi di lingkungan atau kebutuhan masyarakatnya dan kondisi aktual di masyarakatnya, ia masuk kategori Pembelajaran Kontekstual. Setiap sekolah memiliki potensi atau karakter wilayah yang berbeda. Sebagai contoh potensi sekolah Muhammadiyah dalam film Laskar Pelangi berbeda dengan potensi sekolah di wilayah yang lain. Demikian halnya potensi sekolah di daerah perkotaan tentu berbeda dengan potensi sekolah yang ada di wilayah pedesaan. Masih-masing sekolah itu memiliki laboratorium alam sesuai dengan karakter wilayah atau lingkungannya.
          Pembelajaran ini tidak harus menggunakan bahan mahal sebab CTL atau pembelajaran kontekstual yakin pada prinsip konteks (arti horizon) yang ada di sekitar seklahnya. Lingkungan sekitar sekolah kita adalah Bahan atau Sumber Pembelajaran sangat melimpah. Alam disekitar kita adalah media pembelajaran yang alami dan tidak memerlukan biaya besar untuk mengadakannya. Lingkungan Persawahan yang luas adalah “Pusat Sumber Belajar” yang sangat memadai untuk seorang anak belajar tentang banyak hal terutama dalam hal ini dapat digunakan dalam pembelajaran Biologi tentang ekosistem. Tidak menutup kemungkinan juga untuk pembelajaran yang lain. Atau kehidupan Nelayan yang ada di sekitar kita adalah juga Sumber Belajar yang sangat berarti untuk melaksanakan kegiatan Pembelajaran Sosiologi ataupun Pembelajaran Ekonomi.
 Ajak anak-anak kita keluar dari rutinitas “kelas klasik” menuju kelas alam dan kuatkan pemahaman mereka tentang fenomena lingkungan dengan dasar keilmuan materi pembelajaran. Setiap sekolah memiliki potensi yang dapat dijadikan bahan pembelajaran. Sawah atau alam itu adalah laboratorium alam, dimana dalam laboratorium itu anak dapat melakukan pengamatan langsung untuk memahami sebuah materi ajar.  Ajaklah mereka dalam lingkungan social sebab sekolah tidak bisa terlepas dari realitas dan konteks sosialnya.[1]
Setiap guru tentu sepakat  adanya pembelajaran kontekstual ini. Setiap guru pun telah memiliki dasar-dasar yang memadai untuk menyelenggarakan pembelajaran Kontekstual. Semestinya juga tidak ada kendala untuk mewujudkan kelas dengan metode kontekstual. Jika itu masih memberatkan, anak dapat dilibatkan dalam proses pembelajaran ini. Umumnya keengganan kita, nyata-nyata menjadi kendala pertama mengapa Pembelajaran Kontekstual tak jua dilakukan. Sementara kelas pembelajaran kita sedang dalam kondisi yang memprihatinkan. Kelas pembelajaran kita membutuhkan tangan-tangan kreatif agar kelas tidak membosankan.
 Ajak juga anak-anak kita untuk melihat kondisi kawan-kawan atau anak seumuran mereka yang tidak seberuntung mereka karena masih ada  dari sebagian besar mereka yang belum sekolah. Ajak mereka dengan mengunjungi daerah-daerah kumuh atau sekelompok orang yang tinggalnya di gubuk-gubuk berbahan seng atau kardus. Kontekstualitas ini bukan semata menjadikan merea cerdas dan tahu tentang apa itu masyarakat sekitara melainkan juga agar mereka dapat belajar apa artinya ber-syukur.
.



[1] B. Suryosubroto. Hubungan Sekolah Dengan masyarakat (School Public relations). Jakarta Rineka Cipta.2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar