Beberapa tahun lalu, pendidikan Indonesia dihebohkan
dengan karya kreatif anak SMK di Solo yang telah membuat mobil kiat esemka. Walaupun belum lulus uji
emisi dan tak terdenar lagi bagaimana kabarnya. Karya kreatif ini memicu
sekolah lain bahkan universitas melakukan hal yang sama. Sebagian sekolah
yang lain itu mengkliam telah lama membuat Mobil Kreatif buatan sendiri
tersebut, hanya karya mereka tidak terekspos media.
Dalam konteks pembelajaran, anak-anak SMK itu tak perlu
lagi bertanya apa artinya belajar materi
“Luas Lingkaran” sebab mereka sudah merasakan arti atau manfaat materi
“Luas Lingkaran” itu saat mereka membuat
spare part roda di mobil karyanya.
Mereka telah merasakan bahwa proses pembelajaran yang telah ditempuhnya
tidaklah sia-sia, pembelajaran yang telah mereka lakukan telah memberinya
makna. Inilah sisi mendasar yang mesti disadari bagaimana guru dapat merancang
pembelajaran yang benar-benar bermakna.
Pembelajaran bermakna adalah tujuan dari narasi besar
kegiatan pembelajaran yang disebut inovasi. Inovasi apapun yang dilakukan oleh
guru tentu akan diapresiasi sebagai produktifitas dalam pembelajaran. Artinya
ada sesuatu yang diupayakan demi peningkatan proses pembelajaran. Inovasi
adalah adalah karya guru sehingga dengan inovasi tersebut kelas pembelajarannya
menjadi menarik dan tidak membosankan. Belajar tidak harus dalam kelas tapi
dapat dilakukan diluar kelas (Learning
Out Door). Itu adalah satu bentuk inovasi pembelajaran dengan segala
variasi yang bisa dikembangkan. Masih banyak metode dan ide-ide kreatif lain
yang mampu memicu motivasi dalam pembelajaran.
Senada dengan semangat
inovasi pembelajaran tersebut, Elaine B. Johnson, penulis buku Contextual Teaching Learning menyuguhkan
konsep Pembelajaran Kontekstual.
Contekstual Teaching Learning adalah konsep pembelajaran yang mengandaikan
pembelajaran sebagai sebuah proses memahami sesuatu yang nyata, bukan materi
yang mengawang-awang. Saya menyederhanakan konsep ini dengan istilah
Pembelajaran Kontekstual. Dengan konsep ini, materi-materi yang diajarkan bisa
dikontekstualisasikan dengan kondisi yang sebenarnya. Bukan materi yang hanya
dihafal yang hanya menyentuh aspek kognitif peserta didik semata dan masih
menyisakan dua ranah lain yang juga sangat penting dalam capain pendidikan
kita.
Ada
beberapa asumsi yang melatar belakangi mengapa Contextual Teaching Learning atau pembelajaran kontekstual ini
penting dilakukan. Pertama, adanya
kelas tradisional yang masih menyisakan sisi negatif . Kelas ini
dinilai kurang memberi ruang untuk kreatifitas
anak. Kelas tradisional hanya meyakini pembelajaran dari satu arah, teacher oriented, artinya guru sebagai
pusat pembelajaran Sementara dalam pembelajaran
kontekstual ini diyakini sebuah anggapan bahwa setiap anak bisa berkembang
dengan gaya dan potensinya masing dengan cara pengelolaan pembelajaran. Metode
pembelajaran kontekstual sangat memungkinan variasi sehingga membuat anak tidak
jenuh.
Kedua, asumsi yang mendasarkan pada konteks (suasana atau ruang
lingkup) yang ada di sekitarnya. Asumsi ini menuntut kecerdasan guru dalam
melihat realitas konteks yaitu lingkungan social, politik dan budaya sebagai
sumber utama inovasi ini. Maka seorang guru dalam metode Contextual Teaching Learning (CTL) dituntut untuk selalu meng-up-date pengetahuan dan wawasannya
tentang situasi lingkungan sosialnya sebab dengan pengetahuan guru akan
lingkungannya itu akan menjadi modal pembelajaran.
Bentuk lain penerapan
pembelajaran kontekstual misalnya, kelas kita bisa dimodifikasi sebagai ajang
kompetisi Cerdas Cermat dengan men-setting ruang kelas kita menjadi ruang
Perlombaan Cerdas Cermat layaknya Cerdas Cermat di TV. Guru bisa menjadi
sutradara, nara sumber atau juri dalam cerdas cermat itu. Supaya tidak terkesan
seolah guru yang bekerja sendiri, libatkan anak dalam merancang perlombaan itu,
dengan begitu kita justru telah merangsang potensi lain dalam diri anak didik,
misalnya inisiatif, leadership dan kreatifitas anak.
Bentuk-bentuk inovasi CTL
yang lain misalnya anak dapat membuat film dokumenter atau kunjungan ke suku
pedalaman Badui, kunjungan ke Museum-museum Sejarah untuk pembelajaran sejarah.
Anak juga bisa melakukan kajian perpustakaan dengan modul yang telah disediakan
guru untuk pembelajaran bahasa dan sastra. Ajak anak kita untuk melakukan
praktek membuat suatu karya yang terkait dengan mata pelajarannya masing-masing
sebab pembelajaran kontekstual justru sangat mendorong lahirnya karya-karya
kreatif yang muncul dari peserta didik itu sendiri sebagaimana yang
diperlihatkan
murid-murid SMK Solo dengan Kiat
Esemka-nya.
Kapan suatu pembelajaran itu masuk kategori pembelajaran
kontekstual.?
Adalah pertanyaan yang ingin memberikan petunjuk bahwa proses pembelajaran
kontekstual selalu berusaha menyuguhkan pembelajaran yang menarik dan mengadung
makna yang lebih mengena dan mendalam.
Selama
pembelajaran itu dirancang atau dikontekstualisasikan dengan potensi di
lingkungan atau kebutuhan masyarakatnya dan kondisi aktual di masyarakatnya, ia
masuk kategori Pembelajaran Kontekstual. Setiap sekolah memiliki potensi atau
karakter wilayah yang berbeda. Sebagai contoh potensi sekolah Muhammadiyah
dalam film Laskar Pelangi berbeda dengan potensi sekolah di wilayah yang lain.
Demikian halnya potensi sekolah di daerah perkotaan tentu berbeda dengan
potensi sekolah yang ada di wilayah pedesaan. Masih-masing sekolah itu memiliki
laboratorium alam sesuai dengan karakter wilayah atau lingkungannya.
Pembelajaran ini tidak harus
menggunakan bahan mahal sebab CTL atau pembelajaran kontekstual yakin pada
prinsip konteks (arti horizon) yang
ada di sekitar seklahnya. Lingkungan sekitar sekolah kita adalah Bahan atau Sumber
Pembelajaran sangat melimpah. Alam disekitar kita adalah media pembelajaran
yang alami dan tidak memerlukan biaya besar untuk mengadakannya. Lingkungan
Persawahan yang luas adalah “Pusat Sumber Belajar” yang sangat memadai untuk
seorang anak belajar tentang banyak hal terutama dalam hal ini dapat digunakan
dalam pembelajaran Biologi tentang ekosistem. Tidak menutup kemungkinan juga
untuk pembelajaran yang lain. Atau kehidupan Nelayan yang ada di sekitar kita
adalah juga Sumber Belajar yang sangat berarti untuk melaksanakan kegiatan
Pembelajaran Sosiologi ataupun Pembelajaran Ekonomi.
Ajak anak-anak
kita keluar dari rutinitas “kelas klasik” menuju kelas alam dan kuatkan
pemahaman mereka tentang fenomena lingkungan dengan dasar keilmuan materi pembelajaran.
Setiap sekolah memiliki potensi yang dapat dijadikan bahan pembelajaran. Sawah
atau alam itu adalah laboratorium alam, dimana dalam laboratorium itu anak
dapat melakukan pengamatan langsung untuk memahami sebuah materi ajar. Ajaklah mereka dalam lingkungan social sebab
sekolah tidak bisa terlepas dari realitas dan konteks sosialnya.[1]
Setiap guru tentu sepakat adanya pembelajaran kontekstual ini. Setiap
guru pun telah memiliki dasar-dasar yang memadai untuk menyelenggarakan
pembelajaran Kontekstual. Semestinya juga tidak ada kendala untuk mewujudkan
kelas dengan metode kontekstual. Jika itu masih memberatkan, anak dapat
dilibatkan dalam proses pembelajaran ini. Umumnya keengganan kita, nyata-nyata
menjadi kendala pertama mengapa Pembelajaran
Kontekstual tak jua dilakukan. Sementara kelas pembelajaran kita sedang
dalam kondisi yang memprihatinkan. Kelas pembelajaran kita membutuhkan
tangan-tangan kreatif agar kelas tidak membosankan.
Ajak juga
anak-anak kita untuk melihat kondisi kawan-kawan atau anak seumuran mereka yang
tidak seberuntung mereka karena masih ada dari sebagian besar mereka yang belum sekolah. Ajak mereka dengan mengunjungi
daerah-daerah kumuh atau sekelompok
orang yang tinggalnya di gubuk-gubuk berbahan seng atau kardus. Kontekstualitas
ini bukan semata menjadikan merea cerdas dan tahu tentang apa itu masyarakat
sekitara melainkan juga agar mereka dapat belajar apa
artinya ber-syukur.
.
[1] B. Suryosubroto. Hubungan Sekolah Dengan masyarakat
(School Public relations). Jakarta Rineka Cipta.2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar