Selasa, 29 Maret 2016

ROMANTISME PEMBELAJARAN



ROMANTISME PEMBELAJARAN


Salam Guru Indonesia, selamat untuk selalu berkhidmat pada komitmen pedagogik yaitu komitmen pada dunia pembelajaran. Komitmen ini adalah bagian dari amanah yang harus kita jalankan dengan penuh keikhlasan dan tanggungjawab. Kita juga harus tetap menjaga komitmen ini dengan semangat dan merasa enjoy atau bahagia dengan tugas pedagogik ini sebab generasi-generasi yang diamanahkan yang setiap hari kita temui di kelas adalah calon pemimpin dan aktor perubahan. Kesanalah sesungguhnya tujuan utama hendak diraih, yaitu menuju terciptanya pemimpin dan generasi yang mampu mengemban amanah peradaban.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki dua sisi yaitu sisi positif dan negatif. Sisi positif dari perkembangan ilmu pengetahuan ini patut diapresiasi sebagai karya peradaban yang sangat bermanfaat. Sisi negatifnya terletak pada keberadaannya ibarat gelombang yang menghentak dan menggerus pondasi kebudayaan kita. Serbuan pemikiran dalam berbagai format dan tampilan telah menyeret anak kita pada sikap hedonistik, pesimistik dan lebih mengkhawatirkan adalah tumbuhnya sikap anti moral dan bahkan anti agama. Nilai luhur yang kita pegang sedang ditantang. Pembelajaran yang sajikan menjadi tiada bermakna dan kehilangan esensinya
Kerinduan kita akan indahnya pembelajaran di masa lalu seperti lagu nostalgi yang selalu asyik kita dengar dan dendangkan. Untaian syair dalam lagu itu setidaknya terucapkan kata atau kalimat berisikan sikap anak-anak pada masa dulu belajar. Inilah yang saya maksud sebagai sekedar sebuah romatisme, rindu pada hal positif di masa lalu. Dulu kita pernah belajar penuh khidmat dan perhatian pada guru. Rasa hormat anak terhadap gurunya sangat kuat tertanam. Setidaknya ungkapan ini keluar dari seorang kawan yang kini menjadi kepala Sekolah di Sekolah ternama di Sukabumi. Ia pernah bercerita tentang rasa senangnya karena dapat membawakan tas guru atau membantu menuntun sepeda guru untuk diparkirkan. Itu sepenggal romantisme kecil pembelajaran yang menggambarkan bagaimana hubungan antara guru dan murid di masa yang lalu.
Hari ini, sikap semacam ini nyaris tiada (untuk tidak mengatakan hilang). Rasa hormat murid pada gurunya kini menjadi harga mahal atau barang langka yang jarang ditemui dalam kelas pembelajaran kita. Ada juga yang berargumen bahwa sekarang kan zaman sudah berbeda, bukan masanya lagi anak-anak yang dituntut. Lebih jauh argumen ini menyatakan bahwa, saat ini adalah era baru sistem pendidikan. Makanya nyaris tak ada tradisi-tradisi itu (baca: anak hormat pada guru). Guru diperlakukan tak beda dengan seorang pembantu atau pesuruh yang hanya penjadi teman atau penjaga yang mengawasi anak-anak seorang majikanyang dititipkan padanya karena sang ayah ataupun orang tuanya yang sibuk dengan bisnisnya yang membuatnya tak sempat mengurus anaknya.
Metode yang kini disebut termodern mensyaratkan anak sebagai pusat pembelajaran (student oriented) sehingga anak harus diberi kebebasan dalam mengaktualisasikan dirinya sesuai dengan kemampuan dan potensinya tanpa harus ada pengekangan. Di lapangan penerapan metode ini menemui tafsir yang seragam seperti anak bebas berbuat semau sendiri tak peduli dengan nilai keadaban (moral dan etika). Guru hanya diperankan sebagai fasilitator (baca: pelayan bagi keperluan-keperluan murid). Metode modern secara frontal berhadapan langsung dengan model pembelajaran konvensional yang katanya mengkebiri kreatifitas. Sehingga tanpa basa-basi menuduh metode konvensional sebagai biang ketertinggalan kemajuan pendidikan.
Metode Modern mengandaikan anak atau pesrta didik untuk mengembangkan ide dan nilainya sendiri atau menemukan nilainya sendiri. Itulah asumsi yang coba selalu dikembangkan dan dikampanyekan dengan paket-paket kurikulum yang dibanggakan zaman (baca: KTSP, KBK dll). Sehingga wajar jika kurikulum kita sering berubah. Tak peduli bagaimana dampaknya bagi tujuan utama pembelajaran dan budaya sendiri.
KTSP lah, KBK lah atau apapun namanya adalah nama-nama kurikulum baru yang terlampau sibuk dengan hal hal administratif tapi lupa dengan moralitas generasi itu sendiri. Paradigma dan aneka pemikran tentang pendidikan ini terus datang dengan paket-paket baru yang seringkali kita tidak sadar bahwa di dalamnya ada agenda besar yang berusaha menggeser identitas bangsa sendiri dan nilai luhur kebangsaan. Payahnya seringkali kita justru menjadi jurkam atas ide-ide itu dan bangga dengan pemikiran itu yang sebetulnya menggerus ide dasar filsafat bangsa sendiri.
Wajarlah jika muncul Romantisme sebagai bentuk kerinduan akan pembelajaran Tradisional kita yang oleh paradigm modren dinilai kaku dan konvesnsional tapi mampu dan terbukti kokoh melahirkan manusia-manusia yang berbudi pekerti dan bertanggung jawab.  Merespon perubahan bukan berarti menceburkan diri hingga basah kuyup tanpa bisa mengenali diri sendiri dan asyik dengan kebasahan itu sendiri tanpa mampu bagkit kembali dan kemudian terhina dengan konsep baru pendidikan dari barat yang notabene dasar filosofinya berbeda.
Semua yang datang dari barat selalu diidentikan sengan hal yang superior, selalu terbaik dan harus dicontoh. Padahal akar budayanya berbeda sehingga tidak tepat jika kemudian kita hanya mengambil ide baru itu tanpa melihat eksistensi budaya sendiri yang semestinya jadi fundamennnya. Mudah-mudahan bukan sekedar Romantisisme sebab menjiplak romantisisme begitu saja juga akan terkesan memaksakan nilai lama.
Pada azasnya bagaimana nilai yang sifatnya universal dan melampaui zaman itu dapat tetap bertahan. Contoh nilai moral, etika, sopan santun tidak mungkin akan berubah. Soal tampilan luar atau terjemah terhadap nilai itu agar bisaaktual, tentu sangat terbuka untuk adanya bentuk-bentuk atau tafsiran baru tentang nilai baru. Namun tetap ada nilai yang abadi, nilai yang dihargai, nilai yang bisa diterima semua. Nilai yang kita harapkan ada dan tumbuh dalam diri anak-anak kita.
Semoga usaha dan kerja pedagogik kita mampu menggapai atau mewujudkan cita-cita utama pembelajaran yaitu terwujudnya generasi-generasi terbaik yang kita idamkan. Generasi yang dewasa di segala sisi baik pada sisi intelektualitas maupun moralitasnya. Salam Guru Indonesia, Tetap Semangat…!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar