ROMANTISME PEMBELAJARAN
Salam Guru Indonesia, selamat untuk selalu berkhidmat pada komitmen pedagogik yaitu komitmen pada dunia pembelajaran. Komitmen ini
adalah bagian dari amanah yang harus kita jalankan dengan penuh keikhlasan dan
tanggungjawab. Kita juga harus tetap menjaga komitmen ini dengan semangat dan merasa
enjoy atau bahagia dengan tugas pedagogik
ini sebab generasi-generasi yang diamanahkan yang setiap hari kita temui di
kelas adalah calon pemimpin dan aktor perubahan. Kesanalah sesungguhnya tujuan
utama hendak diraih, yaitu menuju terciptanya pemimpin dan generasi yang mampu
mengemban amanah peradaban.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki dua
sisi yaitu sisi positif dan negatif. Sisi positif dari
perkembangan ilmu pengetahuan ini patut diapresiasi sebagai karya peradaban
yang sangat bermanfaat. Sisi negatifnya terletak pada keberadaannya ibarat
gelombang yang menghentak dan menggerus pondasi kebudayaan kita. Serbuan
pemikiran dalam berbagai format dan tampilan telah menyeret anak kita pada
sikap hedonistik, pesimistik dan lebih mengkhawatirkan adalah tumbuhnya sikap
anti moral dan bahkan anti agama. Nilai luhur yang kita pegang sedang
ditantang. Pembelajaran yang sajikan menjadi tiada bermakna dan kehilangan
esensinya
Kerinduan kita akan indahnya pembelajaran di masa lalu
seperti lagu nostalgi yang selalu
asyik kita dengar dan dendangkan. Untaian syair dalam lagu itu setidaknya
terucapkan kata atau kalimat berisikan sikap anak-anak pada masa dulu belajar.
Inilah yang saya maksud sebagai sekedar sebuah romatisme, rindu pada hal
positif di masa lalu. Dulu kita pernah belajar penuh khidmat dan perhatian pada
guru. Rasa hormat anak terhadap gurunya sangat kuat tertanam. Setidaknya
ungkapan ini keluar dari seorang kawan yang kini menjadi kepala Sekolah di
Sekolah ternama di Sukabumi. Ia pernah bercerita tentang rasa senangnya karena
dapat membawakan tas guru atau membantu menuntun sepeda guru untuk diparkirkan.
Itu sepenggal romantisme kecil pembelajaran yang menggambarkan bagaimana
hubungan antara guru dan murid di masa yang lalu.
Hari ini, sikap semacam ini nyaris tiada (untuk tidak
mengatakan hilang). Rasa hormat murid pada gurunya kini menjadi harga mahal
atau barang langka yang jarang ditemui dalam kelas pembelajaran kita. Ada juga
yang berargumen bahwa sekarang kan zaman sudah berbeda, bukan masanya lagi
anak-anak yang dituntut. Lebih jauh argumen ini menyatakan bahwa, saat ini
adalah era baru sistem pendidikan. Makanya nyaris tak ada tradisi-tradisi itu
(baca: anak hormat pada guru). Guru diperlakukan tak beda dengan seorang
pembantu atau pesuruh yang hanya penjadi teman atau penjaga yang mengawasi
anak-anak seorang majikanyang dititipkan padanya karena sang ayah ataupun orang
tuanya yang sibuk dengan bisnisnya yang membuatnya tak sempat mengurus anaknya.
Metode yang kini disebut termodern mensyaratkan anak
sebagai pusat pembelajaran (student
oriented) sehingga anak harus diberi kebebasan dalam mengaktualisasikan
dirinya sesuai dengan kemampuan dan potensinya tanpa harus ada pengekangan. Di
lapangan penerapan metode ini menemui tafsir yang seragam seperti anak bebas
berbuat semau sendiri tak peduli dengan nilai keadaban (moral dan etika). Guru
hanya diperankan sebagai fasilitator (baca: pelayan bagi keperluan-keperluan
murid). Metode modern secara frontal berhadapan langsung dengan model
pembelajaran konvensional yang katanya mengkebiri kreatifitas. Sehingga tanpa
basa-basi menuduh metode konvensional sebagai biang ketertinggalan kemajuan
pendidikan.
Metode Modern mengandaikan anak atau pesrta didik untuk
mengembangkan ide dan nilainya sendiri atau menemukan nilainya sendiri. Itulah
asumsi yang coba selalu dikembangkan dan dikampanyekan dengan paket-paket
kurikulum yang dibanggakan zaman (baca: KTSP, KBK dll). Sehingga wajar jika
kurikulum kita sering berubah. Tak peduli bagaimana dampaknya bagi tujuan utama
pembelajaran dan budaya sendiri.
KTSP lah, KBK lah atau apapun namanya adalah nama-nama
kurikulum baru yang terlampau sibuk dengan hal hal administratif tapi lupa
dengan moralitas generasi itu sendiri. Paradigma dan aneka pemikran tentang
pendidikan ini terus datang dengan paket-paket baru yang seringkali kita tidak
sadar bahwa di dalamnya ada agenda besar yang berusaha menggeser identitas
bangsa sendiri dan nilai luhur kebangsaan. Payahnya seringkali kita justru
menjadi jurkam atas ide-ide itu dan bangga dengan pemikiran itu yang sebetulnya
menggerus ide dasar filsafat bangsa sendiri.
Wajarlah jika muncul Romantisme sebagai bentuk kerinduan
akan pembelajaran Tradisional kita yang oleh paradigm modren dinilai kaku dan konvesnsional tapi mampu dan terbukti
kokoh melahirkan manusia-manusia yang berbudi pekerti dan bertanggung
jawab. Merespon perubahan bukan berarti
menceburkan diri hingga basah kuyup tanpa bisa mengenali diri sendiri dan asyik
dengan kebasahan itu sendiri tanpa mampu bagkit kembali dan kemudian terhina
dengan konsep baru pendidikan dari barat yang notabene dasar filosofinya
berbeda.
Semua yang datang dari barat selalu diidentikan sengan
hal yang superior, selalu terbaik dan harus dicontoh. Padahal akar budayanya
berbeda sehingga tidak tepat jika kemudian kita hanya mengambil ide baru itu
tanpa melihat eksistensi budaya sendiri yang semestinya jadi fundamennnya.
Mudah-mudahan bukan sekedar Romantisisme sebab menjiplak romantisisme begitu
saja juga akan terkesan memaksakan nilai lama.
Pada azasnya bagaimana nilai yang sifatnya universal dan
melampaui zaman itu dapat tetap bertahan. Contoh nilai moral, etika, sopan
santun tidak mungkin akan berubah. Soal tampilan luar atau terjemah terhadap
nilai itu agar bisaaktual, tentu sangat terbuka untuk adanya bentuk-bentuk atau
tafsiran baru tentang nilai baru. Namun tetap ada nilai yang abadi, nilai yang
dihargai, nilai yang bisa diterima semua. Nilai yang kita harapkan ada dan
tumbuh dalam diri anak-anak kita.
Semoga usaha dan kerja pedagogik kita mampu menggapai atau mewujudkan cita-cita
utama pembelajaran yaitu terwujudnya generasi-generasi terbaik yang kita idamkan. Generasi yang dewasa di segala sisi baik pada sisi
intelektualitas maupun moralitasnya. Salam Guru Indonesia, Tetap Semangat…!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar