BAB 1 WAJAH PENDIDIKAN KITA
Saya ingin membuat ilustrasi tentang realitas pendidikan
kita dengan penggambaran pada penampilan boneka badut yang saya temui di sebuah pemberhentian saya, saat dalam
perjalanan pulang kuliah S2 (di bilangan Taman Mini Indonesia Indah). Pemain badut yang sedang memerankan dirinya dengan
boneka Mickey Mouse dan Mac Donald. Melihat kondisi dua orang
itu aku mengapresiasi
apa yang mereka kerjakan karena mereka masih
mau berusaha mencari nafkah dengan memerankan dirinya sebagai badut dibandingkan
pilihan menjadi pengemis atau melakukan tindakan criminal untuk mendapatkan
uang. Rasa iba lebih dominan saat beberapa pengemudi memberikan uang recehan
atau beberapa lembar uang ribuan pada mereka. Tapi sekali lagi
saya katakan keadaan mereka masih terhormat, dibandingkan
yang memilih jalan haram untuk memenuhi kebutuhannya.
Tapi bukan soal status pekerjaan itu yang mau diangkat dari wajah atau penampilan para
badut itu tapi soal wajah lain yang saya temui saat sang badut
mencopot topengnya. Aura
wajah lain di sebalik topeng itu, adalah wajah lelaki tampan, putih tapi pasi yang saya lihat. Wajahnya sangat berbeda dengan tampilan luar atau
topeng Mickey Mouse yang baru dipakainya. Profesi badut menurut saya
adalah media menggunakan wajah lain untuk menutupi diri sendiri dan mengambil
keuntungan dari wajah lain yang ceria karena guratan muka badut itu adalah
wajah ceriadan selalu tertawa. Saat mereka berhenti menari dan mencopot
topengnya, bukan wajah ceria sebagaimana wajah ceria Mickey Mouse yang tersenyum
lebar itu, tapi wajah kusut yang kulihat sedang istirahat sembari menghitung
uang receh yang sudah dia kumpulkan. Nyaris tak ada senyuman. Kontras sekali
dengan topeng yang ia kenakan.
Fenomena ini, ingin saya gunakan untuk mengajak pembaca
pada pemahaman bagaimana sistem pendidikan asli bangsa Indonesia yang demikian “tidak
percaya diri” sebab yang terjadi justru kurikulum yang diadopsi dari teori
barat atau negara lain yang menjauhkan manusia Indonesia dari akar budayanya
bahakan mencerabut sisi kemanusiaannya. Karakter peradaban barat dan peradaban
Timur jelas suatu realitas yang nyata dan kontras. Dan kita banyak mengadopsi
pemikiran barat dan banyak lupa dengan konsep pendidikan ketimuran.
Pelaku-pelaku pendidikan di negeri ini seperti
badut-badut yang memperagakan karakter di luar karakter dirinya sendiri. Ia
berusaha menjadi orang lain walau sesungguhnya dalam dirinya itu berbeda sama
sekali. Ia harus menutup wajahnya dengan boneka yang ia kenakan untuk
menutup-nutupi sejati dirinya. Ia tak mau memperlihatkan karakternya sendiri
yang sesungguhnya alami. Tapi yang alami itu sedang dipermalukan. Semua orang
lebih ingin melihat badutnya bukan aslinya.
Sistem pendidikan kita, adalah system pendidikan yang
sedang Berjaya
atau tepatnya sedang kesengsem dengan paradigm
dan pemikiran-pemikiran barat yang positivistic yaitu paradigm-paradigma menjadikan manusia beralih dari manusia yang secara naluri
akan mengikuti aspek keilahian bergeser atau berubah menjadi mansuai dengan sikap-sikap duniawi. Kejayaan dan kemuliaan atau kesuksesan akan terwujud dengan ukuran-ukuran duniawi.
Dengan badut-badut itu, ia juga ingin menutupi ketak berdayaannya. Ia
tak mau orang lain tahu bahwa dirinya tak berdaya. Kekuatan dan kemampuan yang
ada dalam dirinya tak ia keluarkan. Ia ingin menggunakan wajah orang lain untuk
mengembangkan pikiran orang lain, sejak saaat itu kita tidak pernah menadi diri
sendiri.
Sistem pendidikan kita juga sedang memeprlihatkan
ketakberdayaannya. Dan dalam ketakberdayaannya itu, ia lebih banyak melacurkan
dirinya dalam system barat yang terlanjur dipuji-puji dan dibanggakan. Padahal
dalam kenyataannya sangat anti manusia dan esensi sejati manusia.
Yang kulihat fisik pemain badut itu sangat sehat, bahkan
salah satu dari meraka adalah wanita yang cantik, sepertinya mereka pasangan
suami istri yang baru kena PHK. Tak
berdayamenghadapi tantangan ekonomi Jakarta, mereka terpaksa menjadi badut. Tapi ketak berdayaan yang sebetulnya mereka bisa berdaya menjadikannya memilih cara itu untuk mendapatkan
uang.
Pilihan yang paling mungkin diantara banyak pilihan sulit yang harus dipilih.. Ia terlihat malu melihatku. Keterpaksaan atau
ketakberdayaan sementara atau selamanya dan akan terus menggunakan profesi itu
sebagai pekerjaan
terlebih jika keadaan tak bernjak menuju perubahan.
Pendidikan terbaik adalah sebuah kegiatan sadar untuk
mengembangkan potensi insane menuju keutuhannya (kamil).
Pendidikan terbaik adalah pendidikan yang lahir dari dirinya sendiri. Ia tidak
memerankan karakter atau sifat orang lain sebagaimana badut itu. Pendidikan terbaik kata Paulo Freire adalah upaya untuk memanusiakan manusia. Artinya pendidikan yang di dalamnya terkandung
proses yang mampu menghasilkan manusia sebagai manusia bukan binatang apalagi
lebih hina dari itu. Jika pendidikan tidak menghasilkan sosok manusia sebagai
manusia, maka pendidikan itu gagal. Karenanya pendidikan terbaik adalah
pendidikan yang menghasilkan sosok manusia sempurna dan paripurna.
Bangunan
pendidikan terbaik adalah struktur yang mempunyai struktur kuat dan utuh. Ada dua aspek yang harus diperhatikan dalam upaya
mewujudkan bangunan pendidikan terbaik itu. Kedua aspek
itu yaitu aspek Software dan Hardware. Aspek Software adalah aspek perangkat lunak yang menyangkut visi dan pandangan batini tentang ide-ide terbaik
pendidikan. Aspek Hardware adalah aspek yang sifatnya fisikal yaitu adanya
pengembangan pada sisi sarana dan prasarana sekolah sebagai maksimalisasi Aspek
Software itu tadi.
Konsentrasi pada aspek software adalah perhatian pada aspek-aspek yang batini. Aspek ini menekankan pada aspek visi, misi dan cara pandang atau idiologi dalam pendidikan.
Dalam hal ini pemahaman tentang idiologi pendidikan menjadi hal penting yang
perlu dipahami sebagai dasar fundamental. Idiologi pendidikan adalah ide-ide dasar yang terkait
dengan prinsip dan pandangan seseorang dan cenderung berafiliasi pada satu
aliran pemikiran.
Perdamaian adanya konflik idiologi, sementara waktu dapat didamaikanlewat
pemahaman-pemahaman universal seperti keadilan, kebenaran, saling menghargai,
memgasihi dan lain sebagainya. Karenanya pengembangan
pada aspekIdiologi berimplikasi atau memiliki korelasi yan erat dengan bangunan idiologi masyarakat atau
negaranya.
Pada aspek Software,
persoalan pendidikan dapat dibagi menjadi dua asek yaitu aspek Mikro dan aspek
Makro. Aspek Mikro disini adalah hal-hal yang sifatnya sangat teknis
administrasi tentang penyelenggaraan pendidikan seperti Kurikulum, Evaluasi dan
proses pembelajaran di kelas. Menurut penulis, aspek Mikro merupakan turunan
dari aspek makro. Ia juga bisa disebut
sebagai penjelasan dari aspek makro.
Sementara aspek Makro adalah aspek dalam
bingkai Grand Design, artinya aspek yang menjangkau hal-hal yang terkait dengan idiologi,
visi dan misi pendidikan. Sekolah-sekolah besar, sejauh pengamatan penulis
adalah sekolah yang memiliki visi dan idiologi yang kuat dari para
penyelenggara termasuk pendiri. Tulisan ini tidak bermaksud memperuncing
perbedaan idiologi apalagi mengkonfrontasikan perbedaan agama. Di lingkup
keyakinan kristen kita mengenal ada sekolah BPK
Penabur, Kanisius dll diakui sangat baik dan berhasil mengusung capaian
pendidikannya. Di Islam ada sekolah Al–Azhar, adapula Insan Cendekia, juga berhasil membangun visi yang kuat
dalam pendidikannya
yang berbasiskan agama. Sekolah-sekolah ini justru
mampu mengangkat dasar pendidikannya dengan konsep dan kurikulum yang mandiri
dan mampu diaplikasikan dengan baik. Terbukti banyak orang kaya terdidik (
Kalangan modern) yang mempercayakan pendidikan anak-anaknyanya pada
sekolah-sekolah dimaksud
Keduanya mendorong pencapaian akademik disatu sisi.
Disisi lain pencapaian target nilai-nilai agama juga sangat menonjol. Dengan banyakknya murid dan kualitas yang terjaga
sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan yang paling dicara adalah pendidikan
yang memfokuskan pada aspek kemanusiaan secara utuh yaitu pendidikan yang juga
mengembangkan potensi keagamaan disatu sisi. Disisi lain pendidikan ini juga
menyokong sepenuhnya gagasan pengembangan aspek kognitif atau sisi
intelektualitas.
Indonesia harus mengambil ide sekolah terbaik dengan tidak
ada diskriminasi dan penonjolan kelompok tertentu. Pendidikan Indonesia dapat
diarahkan pada fokus intelektualitas, dan juga fokus pada pengembangan
moralitas dan aspek karakter kebangsaan. Mengapa agama terabaiakan atau
diabaikan sebab alam sosial tidak
melihat agama sebagai bagian penting dari sisi kemananusiaan kita. Apakah agama
justru akan menceraiberaikan? Soal ini pun semestinya dapat didamaikan bahwa
ada prinsip yang sama dalam agama yaitu pengenalan akan Nilai Ketuhanan yang
ada dan hakiki ada dalam setiap diri manusia, kecuali kalangan Atheis. Prinsip
yang sama juga misalnya stiap agama mengajarkan kasinhsayang dan bukan
sebaliknya. Tidak ada agama yang mengajarkan keburukan.
Pendidikan terbaik bagi
bangsa Indonesia adalah Pendidikan
terbaik adalah pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan yang utuh bukan semata manusia
sebagai manusia tapi juga manusia sebagai mahluk Tuhan [1]. Pendidikan yang berdiri diatas kaki sendiri. Sistem dan
pelaksanaannya tidak perlu mencontoh atau membeo pada konsep-konsep barat yang tidak sesuai dengan budaya sendiri.
Casino at Coushatta Casino - Mapyro
BalasHapusFind the best 포천 출장안마 Casino at 김제 출장샵 Coushatta Casino, 논산 출장샵 Louisiana near the airport or by train. Mapyro users have the option 서귀포 출장안마 to download the map or download the 제천 출장샵 app