Selasa, 29 Maret 2016

INVESTASI TERBESAR



INVESTASI TERBESAR


      Pada bulan Juli sekolah sedang memasuki tahun ajaran baru. Orang tua berbondong-bondong mengantarkan anaknya menuju ke sekolah terbaik yang jadi penilaianya. Sebuah kebanggaan apabila para orang tua mempercayakan pendidikan pada sekolah yang telah dikonsep oleh seorang konseptor atau pemikir pendidikan yang baik, sebut saja pendidikan Islam atau jika bukan Islam ada juga pendidikan kristen yang berbakti sepenuhnya untuk membangun generasi terbaik. Bagi saya catatan penting bagi peserta didik adalah betapa pendidikan agama adalah fundamen yang sangat penting. Karenanya tidak ada yang bisa kami janjikan kecuali usaha pendidikan yang kami jalankan mudah-mudahan mampu mencapai cita-cita terbentuknya pribadi yang utuh yaitu cerdas secara emosional, intelektual dan spiritual.
Sungguh pendidikan adalah harga paling tinggi yang pernah kita keluarkan dari hajat kehidupan yang kita punya. Pendidikan juga merupakan investasi paling produktif untuk masa depan. Lahirnya anak soleh adalah investasi paling membanggakan. Sebagaimana satu dari 3 amal yang membanggakan di dunia: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang soleh yaitu anak yang mendoakan kedua orang tuanya.
Selamat datang di sekolah yang kami yakini ini sebagau pendidikan terbaik. Sekolah yang  telah kami tingkatkan pelayanannya yaitu sekolah yang anda dan kita yakini mampu mengantar anak kita pada kedewasaannya, mudah-mudahan  Allah SWT senantiasa memberkahi langkah dan upaya kita dalam menyelenggarakan pendidikan terbaik untuk anak-anak kita. Amin. Kita banyak menaruh harapan besar pada anak-anak kita agar ke depan mereka memiliki bekal yang cukup untuk meniti tahap-tahap kehidupannya sebagai masuia dengan sukses.
Begitu banyak tantangan yang harus mereka hadapai dan temukan, teknologi yang gencar menerjang tak sedikit menjadi sangat membahayakan dirinya. Lihatlah bagaimana televisi menyajikan paradoks kehidupan yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai pembelajaran yang ideal yang mereka dapat dari gurunya. Acara-acara hura-hura, tidak sedikit dialog dan perilaku tidak mendidik dipertontonkan dalam acara yang dalam suatu survey mendapat rating yang cukup tinggi. Meskipun demikian, acara tersebut sering mengabaikan aspek pendidikan untuk anak.[1] Tak sedikit wajah politikus dan orang yang mengaku  dirina negarwaman sama sekai tidak memperihatkan karekater dirinya yang negarawan bahakan mereka seperti seorang preman pasar.
Kita orang tua dan guru berada di wilayah atau zona yang sangat mengerikan dan mencekam dalam ketakutan. Sedih melihat anak-anak kita yang tak sedikit berada di tepi jurang curam yang tiba-tiba akan bisa mencelakakannya. Alih-alih anak-anak mendengar semau nasehat kita tentang kondisi mereka yang ada dalam bahaya. Tak sedikit mereka jusru menertawai kita saat kita memperingatkan mereka akan bahaya jurang  yang ada di depan matanya itu. Ini sunguh sangat sulit. Tapi ini juga sekaligus realita yang harusnya mendewasakan kita.
Menilai anak salah dan menilai mereka tak mampu mengikuti proses pembelajaran yang kita lakukan juga salah Semua harus dilihat dalam cara pandang yang luas.. Tantangan yang mereka hadapi bukan semata pada bagaimana menghadapi atau mengtalahkan emosi dalam dirinya. Melainkan grand design tentang pengikisan terhadap budaya sendiri dan hendak diganti dengan ide yang anti Ketimuran (baca: keindonesiaan)
Menyalahkan guru tidak kreatif dan tak ada inovasinya jauh lebih salah. Sebab semua problematika pembelajaran di negeri ini harus dilihat secara menyeluruh. Tidak pula bisa kita menyalahkan anak sebab anak-anak kita ibarat kertas putih yang akan kita isi apa kertas putih sangat tergantung pada kita. Dalam Islam seorang anak bisa menjadi nasrani atau majusi sangat bergantung pada orang tuanya yang membentuknya. Bersikap dewasa dan lebih elegan melihat mereka rasanya memang satu-satunay cara mensikapinya.
Bersikap bijak bahwa anak kita adalah anak yang sedang tumbuh dengan kreatifitas di tengah perubahan yang sangat luar biasa besar dalam paradigma dunia pendidikan. Gelombang perubahan paradigm dan ilmu pengetahuan itu nyaris tak bisa kita mengantisipasinya. Tak sedikit dari kita malah menjadi orator dan juru kampanye bagi ide-ide kebudayaan  barat itu.
Mereka anak-anak kita berada di titik yang mengkhawatirkan itu. Memaksa mereka keluar mereka dari lingkaran setan ilmu pengetahuan juga bukan perkara mudah. Yang terjadi sebaliknya mereka telah menjadi sangat menderita dan terluka. Dampak ilmu pengetahuan dan teknologi justru telah menghancur leburkan bukan hanya kita tapi juga anak kita yang kita sendiri tak punya waktu dan kesempatan banyak untuk mendidiiknya secara sempurna atau bahkan kita telah pasrah menyerah dan kehabisan ide untuk mendidiinya.
Kawan, ingatlah bahwa mereka sedang berada pada posisi jurang kejatuhan yang akan menghancurkan dirinya sendiri. Kita hanya bisa berteriak atau bicara pelan-pelan bahwa de depan mereka ada jurang terjal. Atau ada lubang dalam yang akan segera menyakiti mereka bahkan mematikan.
Anak didik kita dan juga kita sendiri sedang dikurung atau dikepung oleh musuh mengerikan bernama materialisme  yang anti moral bahkan anti Tuhan. Adanya unsure-unsur manusia tercerabut dari akar yang sesungguhnya. Inilah musuh kita yang sebenarnya. Sambil tetap menjaga pendidikan Moral dan Budi Pekerti yang hingga saat ini terabaikan. Kita juga harus menghadapi pemikiran barat yang anti Moral dan Anti Tuhan itu. Sesudahnya barulah kita bicara pendidikan moralitas bahkan kita tidak perlu berlelah-lelah dengan ajaran moral sebab terbentuknya Moralitas yang kita harapkan terwujud dengan  sendirinya bersama arus besar pemikiran yang kita bangun secara kuat dan logis.




[1][1] Laporan KPI terhadap penampilan beberapa presenter acara-acara talkshow yang berlebihan dan mengabaikan aspek perkembangan moral anak.

1 komentar:

  1. Slot Review: Is Slots Casino Site Scam or Safe?
    Slots Casino is an online betting site owned and luckyclub.live operated by the same owner as the UK's UK Gambling Authority (UKGC), so we have been able to check the website

    BalasHapus